Warning! Harga 185 Barang Ini Bisa Naik Imbas Kurs Lemah dan Perang

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mewanti-wanti pemerintah Indonesia untuk segera mengantisipasi potensi kenaikan harga barang, imbas dari terus tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan belum berakhirnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu aktivitas perdagangan dunia.

Research Associate CORE Indonesia yang juga merupakan Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi IPB Prof Sahara mengatakan, setidaknya ada 185 barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga akibat permasalahan eksternal itu. 185 barang itu memiliki intensitas impor yang tinggi saat proses produksi.

"Kombinasi dari kenaikan harga energi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, dan depresiasi nilai tukar rupiah tersebut berdasarkan perhitungan kami akan mendorong kenaikan harga 185 sektor di Indonesia dengan dampak paling besar dirasakan sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap input impor dan energi," kata Sahara dalam acara Quarterly Economic Review, Rabu (29/4/2026).

Sahara menjelaskan, untuk impor intensity tertinggi seperti tepung terigu, pati, dan produk pati yang telah melampaui porsi 55%; diikuti minuman beralkohol dan alat ukur, fotografi, optik, jam, hingga perhiasan yang sudah di atas 25%. Adapula barang-barang logam lainnya, plastik, karet, dan serat buatan, cat dan tinta cetak, hingga alat kedokteran yang di atas 15%.

"Hasil perhitungan kami terhadap import intensity pada 185 sektor di tabel input output Indonesia menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sejumlah sektor dengan ketergantungan impor tinggi di antaranya kalau kita lihat industri tepung terigu, industri alat ukur, fotografi, perhiasan, barang logam, termasuk sektor plastik yang kenaikan harganya sudah kita rasakan bersama," paparnya.

Sementara itu, untuk sektornya, yang berpotensi mengalami kenaikan harga akibat efek BBM nonsubsidi yang terdongkrak efek perang Iran dengan AS-Israel di Timur Tengah, khususnya kawasan Selat Hormuz, hingga depresiasi rupiah ialah bangunan dengan potensi kenaikan sekitar 3,56%. Terutama akibat kandungan impor yang tinggi seperti besi-baja, semen, alat berat, dan komponen mekanikal elektrikal.

Lalu, penyediaan makan dan minuman, dengan potensi kenaikan harga sekitar 3,46%, disebabkan bahan baku impor untuk sektor pangan olahan masih cukup mendominasi, seperti untuk gandum, kedelai, dan gula, ditambah biaya distribusi yang sensitif terhadap BBM.

Pakaian jadi juga ia perhitungan berpotensi mengalami kenaikan harga sekitar 3,34%, besi dan baja dasar 2,59%, perdagangan mobil dan sepeda motor 2,31%, benang 2,1%, jasa kesehatan pemerintah 2,02%, kedelai olahan 1,97%, listrik 1,91%, barang-barang dari plastik 1,68%, hingga tekstil 1,67%.

Untuk sektor barang-barang elektronik, komunikasi, dan perlengkapannya sekitar 1,65% potensi kenaikan, angkutan rel 1,71%, jasa pemerintahan umum 1,58%, sepeda motor 1,56%, mesin penggerak mula 1,45%, dan perhiasan 1,43%.

"Dampak yang kami hitung tersebut berdasarkan perhitungan secara ekonomi dan sebenarnya dampak yang paling kami khawatirkan adalah dampak psikologis dari kenaikan harga tersebut," tutur Sahara.

"Misalanya di makanan dan minuman, hasil perhitungan kami menunjukkan secara ekonomi harga itu naik hanya sekitar 3,46%, namun bisa saja karena kepanikan dan ekspektasi masyarakat mendorong kenaikan harga lebih tingi dari kenaikan harga kekonomian tersebut, sehingga inflasi menjadi lebih besar," tegasnya.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya juga sudah memperkirakan potensi inflasi global terjadi imbas dari konflik geopolitik yang terus berkecamuk di dunia Timur Tengah, antara AS dan Israel dengan Iran.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, perekonomian dunia bahkan berpotensi mengalami stagflasi, seperti periode Covid-19. Stagflasi ialah kondisi yang menggambarkan aktivitas perekonomian global akan mengalami perlambatan yang konsisten namun diiringi dengan tekanan inflasi yang makin tinggi.

Destry menjelaskan, risiko stagflasi dunia ini mencuat setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah membuat berbagai harga komoditas mengalami tekanan tinggi, akibat terganggunya salah satu jalur utama perdagangan migas dunia, Selat Hormuz.

"Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan logistik naik jadi ada gangguan global supply chain. Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi," kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Destry menjelaskan, naiknya harga komoditas perdagangan global yang membuat penurunan produksi tentu akan menghambat aktivitas ekonomi global, hingga membuat laju pertumbuhan PDB dunia melambat. Namun, tekanan itu terjadi diiringi dengan tingginya kenaikan harga akibat gangguan pasokan, bukan karena tingginya permintaan.

"Dampak nya PDB global akan melambat tapi inflasi akan meningkat. Ini namanya stagflasi, enggak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting," kata Destry.

Merespons risiko global itu, bank sentral di berbagai dunia kata Destry akan mengambil sikap berhati-hati dalam meramu kebijakan moneter bersama dengan pemerintahannya, melalui kebijakan fiskal.

"Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar. Moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang lomba membuat aset domestik menjadi menarik," ungkap Destry.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |