Wamenperin Sentil Keras Spekulan, Tegaskan Bahan Baku Plastik RI Aman

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menilai kekhawatiran publik soal pasokan plastik tidak berdasar jika melihat kondisi riil di lapangan. Ia menyebut suplai bahan baku masih aman untuk menopang kebutuhan industri nasional yang terus meningkat.

"Bahan baku plastik tersedia sangat memadai di industri dalam negeri. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan plastik dapat mencarinya dari produsen dalam negeri," kata Riza dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

Pernyataan ini sekaligus menjadi respons atas kekhawatiran pelaku usaha yang sempat mencuat akibat gangguan rantai pasok global. Pemerintah, kata dia, kini lebih fokus memastikan distribusi bahan baku tidak tersendat, terutama untuk sektor hilir seperti Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM yang rentan terdampak.

"Tugas pemerintah adalah memastikan para pelaku usaha dapat mengakses bahan baku dengan mudah dan dilayani oleh produsen dalam negeri tanpa kendala, termasuk menjaga agar harga tetap bersaing. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar," tegasnya.

Pemerintah juga mulai mendorong penguatan pasokan dalam negeri agar ketergantungan pada impor bisa ditekan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas industri di tengah volatilitas global.

"Pemerintah mengimbau supaya perusahaan-perusahaan tetap mengedepankan produksi dalam negeri karena kemampuan produksi dalam negeri masih sangat besar.Kita lihat kalau memang nanti ada kebutuhan yang lebih besar lagi, barangkali jalur impor bisa kita pilih," ujar Riza.

Sementara itu Ketua Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI) Santoso Samudra Tan melihat isu kelangkaan lebih banyak dipicu sentimen pasar dibanding kondisi nyata pasokan.

"Perlu digarisbawahi bahwa yang terdampak secara langsung adalah biji plastik, nafta, dan bahan baku utama bagi industri plastik. Namun, dari sisi ketersediaan, bahan baku masih relatif aman dan produksi tetap berjalan lancar," ujar Santoso.

Ia mengingatkan agar persepsi kelangkaan tidak mendorong kebijakan yang justru membuka keran impor produk jadi secara berlebihan, karena berisiko menekan industri hilir domestik.

"Jika impor hanya berupa bahan baku seperti biji plastik masih dapat diterima. Namun, jika impor sudah mencakup produk jadi, maka ini berpotensi merugikan industri hilir dalam negeri yang sebenarnya masih memiliki kapasitas produksi yang memadai," dia menegaskan.

Pabrikan mengakui gangguan pasokan memang sempat terjadi, terutama pada awal konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, industri disebut mampu beradaptasi dengan cepat melalui diversifikasi pemasok.

"Kita punya supplier dari Saudi setop. Tapi tidak lama, karena kita langsung beralih cepat. Kita juga punya supply dari ASEAN, China, Rusia. Kita bisa dengan cepat mengalihkan ke vendor-vendor tersebut. Karena itu selama perang Iran kami normal," ujar Director PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) Jimmy Tjahjanto.

Meski pasokan relatif terjaga, tekanan lain justru muncul dari sisi harga yang terdorong kenaikan minyak dunia. Kondisi ini membuat biaya bahan baku melonjak signifikan dan sulit dikendalikan pelaku industri.

"Dari segi harga tidak bisa dikendalikan. Sekarang 1.600-an dolar, hampir dua kali lipat. Kami masih pasok untuk customer domestik," kata Jimmy.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |