Jakarta, CNBC Indonesia — Maraknya penggunaan mata uang kripto di Amerika Serikat justru membuka celah baru bagi kejahatan siber. Sepanjang 2025, warga AS dilaporkan kehilangan lebih dari US$333 juta (sekitar Rp 5,5 triliun) akibat penipuan yang memanfaatkan mesin ATM Bitcoin, menurut data terbaru Biro Investigasi Federal (FBI).
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, total kerugian akibat penipuan serupa tercatat sekitar US$250 juta, sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2023, demikian ungkap juru bicara FBI kepada ABC News, dikutip Sabtu (3/1/2026).
Saat ini, terdapat lebih dari 45.000 ATM Bitcoin yang tersebar di seluruh Amerika Serikat. Mesin ini memungkinkan pengguna menyetor uang tunai dan mengirimkannya langsung ke dompet digital di mana pun di dunia dalam hitungan menit.
Namun, kemudahan tersebut menjadi pedang bermata dua. Para pakar memperingatkan bahwa begitu transaksi kripto selesai, dana tersebut sangat sulit dilacak dan hampir mustahil dikembalikan, menjadikan ATM Bitcoin sarana favorit bagi para penipu.
Direktur dukungan korban penipuan AARP, Amy Nofziger, mengatakan bahwa permintaan pembayaran dalam bentuk kripto kini menjadi metode utama para pelaku kejahatan.
"Permintaan pembayaran menggunakan kripto sekarang menjadi metode nomor satu yang paling disukai para penjahat. Ini adalah masalah yang sangat besar," ujarnya, dikutip dari Economic Times, Jumat (2/1/2026).
Seiring meningkatnya kasus penipuan, AARP mendesak pemerintah dan parlemen AS untuk memperketat pengawasan terhadap ATM Bitcoin, termasuk dengan membatasi jumlah setoran harian.
Hingga kini, setidaknya 17 negara bagian di AS telah mengesahkan regulasi khusus terkait ATM kripto. Bahkan, sejumlah pemerintah daerah memilih langkah ekstrem dengan melarang operasional ATM Bitcoin
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3

















































