Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi hebat dengan janjinya untuk membagikan "dividen" sebesar US$5.000 (Rp88 juta) kepada seluruh orang dewasa di AS jika Partai Republik berhasil mempertahankan kendali Kongres pada pemilihan paruh waktu November mendatang.
Mengutip The Guardian, Senin (14/09/2026), rencana bombastis yang dituding sebagai upaya menyogok pemilih ini langsung menuai kecaman dan ketidakpercayaan dari berbagai spektrum politik. Janji ini diperkirakan akan menelan biaya lebih dari US$1,2 triliun (Rp21.120 triliun), sebuah angka fantastis yang muncul di tengah kekhawatiran membludaknya utang nasional AS yang baru saja menembus rekor US$40 triliun (Rp704.000 triliun) pada Agustus lalu.
Berbicara kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke lapangan golf di Irlandia pada Minggu, Trump bersikeras bahwa rencana bagi-bagi uang tersebut sangat mudah diwujudkan jika Partai Republik menang.
"US$5.000 untuk semua orang dewasa di negara ini dan kita dapat dengan mudah menanganinya karena kita meraup begitu banyak uang," paparnya.
Trump juga mencibir kubu oposisi saat ditanya apakah Kongres perlu menyetujui janji tersebut.
"Demokrat tidak dapat membuat janji itu karena semuanya akan segera hancur, kita akan mengalami depresi. Saya membuat janji itu, saya selalu menepati janji saya," tegasnya.
Ancaman Defisit & Amarah Demokrat
Sebagai gambaran, AS memiliki sekitar 240 juta warga negara dewasa. Pemerintahan federal sendiri telah menghabiskan sekitar US$ 7 triliun (Rp123.200 triliun) pada tahun fiskal 2025, dengan sekitar US$2 triliun (Rp35.200 triliun) di antaranya ditarik sebagai utang.
Marc Goldwein dari Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (CRFB) memperingatkan dampak mengerikan jika janji ini direalisasikan.
"Hasilnya akan menjadi lonjakan besar dalam defisit, dan hampir pasti pada tingkat inflasi," ucapnya.
Manuver Trump ini diluncurkan di saat dirinya tengah berjuang menghadapi angka jajak pendapat yang merosot serta imbas kehancuran ekonomi akibat konflik yang tengah berlangsung di Iran. Gubernur California dari Partai Demokrat, Gavin Newsom, langsung melontarkan kutukan tajam atas usulan tersebut.
"Setelah membuat Anda lebih sakit dan lebih miskin dengan perangnya, Donald Trump kini ingin membeli suara Anda dengan US$5.000 dalam bentuk uang darah yang didanai pembayar pajak. Pria paling korup yang pernah menduduki Ruang Oval," tegasnya.
Senada dengan Newsom, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries turut menepis rencana tersebut dan menyebutnya sama sekali bukan proposal yang serius.
Kubu Republik Siapkan RUU
Di sisi lain, janji ini justru mendapat dukungan dari sejumlah politisi Partai Republik. Senator AS asal Ohio, Bernie Moreno, bahkan menyatakan kesiapannya untuk merumuskan landasan hukum bagi rencana pembagian uang tersebut.
"Saya akan menyiapkan RUU sehingga kita bisa meloloskan Dividen Trump segera setelah pemilihan 3 November," ungkapnya.
Meski demikian, pencairan dana jumbo ini pada akhirnya harus tetap melewati persetujuan Kongres. Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson, memberikan tanggapan yang jauh lebih berhati-hati saat diwawancarai oleh CNN.
"Tentu saja, masalahnya ada pada detailnya. Kita harus memikirkan semua itu," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

29 minutes ago
2
















































