Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.560

26 minutes ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,14% dan membuka perdagangan Senin (14/9/2026) di posisi Rp17.560/US$.

Penguatan tersebut membalikkan pelemahan pada Jumat (11/9/2026), ketika rupiah terdepresiasi 0,31% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.585/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke posisi 99,176.

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya perkembangan perang di Timur Tengah dan harga minyak yang turut menggerakkan indeks dolar AS.

Kekhawatiran pasar kembali meningkat setelah terjadi serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk pada Minggu. Konflik yang semakin meluas meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan dan jalur pengiriman energi dunia.

Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% pada perdagangan Asia pagi ini. Kenaikan terjadi setelah harga minyak terkoreksi 2,37% pada Jumat akibat aksi ambil untung, usai melonjak sekitar 14% sepanjang pekan lalu.

Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut turut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Pelaku pasar juga masih mencerna data inflasi konsumen AS yang dirilis pada Jumat lalu. Inflasi AS meningkat 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan pada Agustus, sesuai dengan perkiraan pasar. Namun, inflasi inti mencatat kenaikan terbesar sejak April.

Setelah rilis data tersebut, pasar memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini menjadi 87%, dari 72% pada Kamis. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat mengangkat dolar dan menambah tekanan terhadap rupiah.

Selain meningkatkan tekanan inflasi global, kenaikan harga minyak juga dapat membebani rupiah karena Indonesia membutuhkan lebih banyak valuta asing untuk membiayai impor energi.

Adapun, Indonesia terus mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi antarnegara BRICS. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi lintas negara.

Dorongan itu disampaikan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS di Mumbai, India, pada 9-10 September 2026.

"Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara," ujar Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |