Trump Blak-blakan soal Rencana Serangan Kedua ke Venezuela

15 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa ia membatalkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela karena sifat kooperatif rezim di Caracas saat ini. Dalam tulisannya di Truth Social, Trump mengatakan pembebasan tahanan politik Venezuela adalah "isyarat yang sangat penting dan cerdas."

"AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali, dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern, infrastruktur minyak dan gas mereka," kata Trump, sebagaimana dikutip Newsweek, Sabtu (10/1/2026).

"Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan Gelombang Serangan kedua yang sebelumnya diharapkan, yang tampaknya tidak akan diperlukan, namun, semua kapal akan tetap berada di tempatnya untuk tujuan keselamatan dan keamanan."

Hal ini terjadi setelah setidaknya 24 petugas keamanan Venezuela tewas pekan lalu dalam serangan militer AS, yang diberi kode nama Operasi Absolute, untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilla Flores. Maduro dan Flores telah didakwa di AS atas tuduhan perdagangan narkoba federal, di mana mereka telah menyatakan tidak bersalah.

Adapun pernyataan Trump ini datang di tengah meningkatnya ketegangan antara AS, Venezuela, dan negara-negara lain di Amerika Tengah dan Selatan sejak operasi militer AS pekan lalu.

Sejak itu Trump mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko, dan mengatakan bahwa AS dapat melancarkan operasi militer di Kolombia.

Jorge Rodríguez, kepala Majelis Nasional Venezuela dan saudara dari Presiden Interim Delcy Rodríguez, mengatakan bahwa otoritas Venezuela telah membebaskan "sejumlah besar" warga negara asing dari penjara pada hari Kamis.

Trump mengatakan bahwa langkah itu adalah tanda bahwa Venezuela "mencari perdamaian." AS telah berulang kali menyerukan pembebasan tahanan politik di Venezuela.

Trump juga mengatakan bahwa pemerintahannya akan menjalankan Venezuela untuk masa mendatang. Trump mengatakan kepada The New York Times pada Kamis bahwa "hanya waktu yang akan menentukan" berapa lama pemerintahannya akan mengendalikan negara tersebut. Dia menambahkan bahwa kapal-kapal AS akan tetap berada di sana untuk tujuan keselamatan dan keamanan.

"Setidaknya US$100 miliar akan diinvestasikan oleh perusahaan minyak besar, yang semuanya akan saya temui hari ini di Gedung Putih," kata Trump.

Sementara itu, kemampuan Trump untuk melancarkan serangan lebih lanjut mungkin akan segera dibatasi setelah Senat memberikan suara 52-47 untuk memajukan Resolusi Kekuatan Perang, yang berarti AS tidak dapat dikirim ke konflik bersenjata tanpa persetujuan Kongres. Lima anggota Partai Republik memberikan suara bersama Demokrat pada hari Kamis, sehingga akan ada pemungutan suara selanjutnya untuk pengesahan akhir.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan kepada Newsweek pada hari Rabu bahwa Trump sedang melegitimasi kembali rezim Maduro.

"Dia tidak memahami kepercayaan yang diberikan rakyat Venezuela kepada Machado, dan sekarang oposisi sedang didiskreditkan oleh Amerika Serikat sendiri. Jika hasilnya adalah sistem otoriter yang sama tanpa figur pemimpin, itu akan berakhir sangat buruk."

Trump mengatakan dia akan bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado minggu depan.

"Saya berharap dapat menyapanya," katanya kepada Fox News.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |