Perang Tetangga RI Panas! Militer Siapkan Drone-Kirim Kapal Perang

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rezim militer Myanmar dilaporkan telah meningkatkan pengerahan kapal angkatan laut secara besar-besaran di perairan lepas pantai negara bagian Rakhine selatan. Langkah provokatif ini menyasar wilayah Kotapraja Taungup, Ramree, dan Thandwe yang saat ini berada di bawah kendali tentara etnis Arakan Army (AA), sembari terus membombardir wilayah utara secara membabi buta.

Mengutip laporan dari The Irrawaddy, sumber perlawanan dan penduduk setempat mengungkapkan bahwa junta militer juga telah meningkatkan pengawasan menggunakan pesawat nirawak atau drone di wilayah-wilayah yang dikuasai AA tersebut. Peningkatan aktivitas militer ini menandai babak baru ketegangan yang kian memanas di wilayah konflik tersebut.

Sebelumnya, hanya terlihat beberapa kapal angkatan laut yang berjaga di sepanjang area pesisir dekat Kotapraja Thandwe, Taungup, Ramree, dan Manaung. Namun, saat ini dilaporkan sekitar 10 kapal terpantau beroperasi di perairan tersebut dengan posisi yang semakin mendekat ke arah pantai.

Seorang penduduk Ramree memberikan kesaksian mengenai situasi mencekam yang terjadi di wilayahnya. Ia menyebutkan bahwa kehadiran angkatan laut telah meningkat drastis sejak sebelum perayaan Thingyan atau Tahun Baru tradisional Myanmar pada Selasa, (21/04/2026).

"Kehadiran angkatan laut telah meningkat sejak sebelum Thingyan. Sebelumnya, mereka berada sekitar 20 hingga 30 mil (sekitar 30-50 km) dari pantai, tetapi sekarang mereka jauh lebih dekat. Drone juga dikerahkan setiap hari, sehingga orang-orang takut dan menghindari area tersebut," kata warga Ramree tersebut.

Kapal-kapal angkatan laut militer dilaporkan telah menahan dan menembaki kapal nelayan lokal di laut, yang memicu indikasi kuat akan adanya rencana operasi amfibi. Akibatnya, banyak nelayan yang kini tidak berani melaut karena nyawa mereka terancam oleh kehadiran armada perang tersebut.

Seorang warga dari Kotapraja Thandwe juga mengonfirmasi adanya eskalasi jumlah kapal yang beroperasi di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pergerakan kapal-kapal tersebut sangat intens dan sering kali melepaskan tembakan senjata berat.

"Sebelumnya, hanya ada sekitar dua kapal di sini secara rutin. Sekarang kami melihat tiga, bahkan terkadang empat kapal. Mereka bergerak mendekat ke pantai lalu menarik diri berulang kali. Senjata berat juga ditembakkan hampir setiap hari," ujar warga Thandwe menjelaskan kondisi di lapangan.

Mengutip laporan media lokal Rakhine, enam kapal angkatan laut sempat mendekati muara sungai di Kotapraja Taungup yang dikuasai AA pada hari Sabtu. Armada tersebut melakukan operasi pengawasan menggunakan drone sebelum akhirnya mundur kembali ke laut lepas pada keesokan harinya.

Seorang analis militer dari Kyaukphyu yang memiliki hubungan dekat dengan AA menilai bahwa junta kemungkinan besar tidak akan mampu meluncurkan serangan balik yang efektif untuk merebut kembali kota-kota di Negara Bagian Rakhine. Menurutnya, kekuatan militer junta sudah sangat terbatas untuk melakukan serangan darat besar-besaran.

"Tidak akan mudah untuk merebutnya kembali. Paling-paling, mereka mungkin akan menggunakan serangan udara dan penghancuran target sipil," kata analis tersebut memberikan pandangannya terkait taktik junta.

Meski demikian, bentrokan terus berlangsung di wilayah-wilayah yang masih dikuasai junta seperti Kotapraja Sittwe dan Kyaukphyu. Pasukan AA juga dilaporkan telah membalas dengan menembaki kapal-kapal angkatan laut yang berada di sepanjang garis pantai.

Saat ini, rezim militer Myanmar mulai mengalihkan tekanan militer melalui operasi laut karena AA telah mengamankan wilayah yang luas, termasuk daerah di timur Pegunungan Arakan di wilayah Ayeyarwady, Bago, dan Magwe. Hal ini membuat manuver darat junta semakin terjepit dan terbatas.

Selain tekanan dari laut, rezim tersebut telah meningkatkan serangan udara terhadap target sipil di Kotapraja Kyauktaw, Ponnagyun, dan Mrauk-U dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara pada hari Minggu pagi di kota Ponnagyun dilaporkan menghancurkan pusat pelatihan kejuruan pemuda etnis dan stasiun pasokan listrik, serta melukai warga sipil.

Pada hari Minggu yang sama, sebuah jet tempur junta menjatuhkan bom di sebuah desa di Ponnagyun yang menewaskan seorang penduduk. Tak berhenti di situ, pesawat tempur junta juga melakukan dua serangan udara yang menargetkan sebuah biara dan rumah-rumah di sebuah desa di Kotapraja Mrauk-U, menghancurkan bangunan keagamaan dan melukai 13 orang termasuk para biksu.

Sejauh ini, AA telah berhasil menguasai 14 dari 17 kotapraja di Negara Bagian Rakhine serta Kotapraja Paletwa di Negara Bagian Chin. Dalam pidatonya pada Hari Angkatan Bersenjata AA tanggal 10 April lalu, Panglima Tertinggi AA, Tun Myat Naing, menegaskan ambisi kelompoknya untuk merebut sisa kotapraja yang ada.

"Kami bertujuan untuk merebut kotapraja yang tersisa pada akhir tahun 2026 atau pada tahun 2027, dan jika tidak, kami akan terus maju hingga kemenangan penuh tercapai," tegas Naing dalam pernyataan resminya.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |