Terungkap, Senjata Super Canggih China Ternyata Buatan Amerika

6 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga riset dan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China kedapatan memanfaatkan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terkemuka buatan Amerika Serikat (AS), seperti OpenAI dan Anthropic, untuk mempercanggih alat utama sistem senjata (alutsista) dan kemampuan pertahanan domestik Beijing.

Temuan ini terungkap dari tinjauan Reuters terhadap lebih dari 80 makalah akademik dan dokumen paten Tiongkok. Langkah ini menjadi jalan pintas (shortcut) militer China dalam mengembangkan sistem perang canggih, sekaligus mengakal aksi blokir dan pembatasan ekspor cip ketat yang dijatuhkan Washington.

Trik 'Distilasi Model': Hemat Biaya, Performa Ngeri

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa peneliti militer China memanfaatkan teknik canggih yang dinamakan "distilasi model" (model distillation).

Lewat teknik ini, output atau logika berpikir dari model AI raksasa AS (seperti GPT-3.5 milik OpenAI atau Claude 3 Haiku milik Anthropic) diekstraksi untuk melatih model AI lokal yang lebih kecil dan spesifik.

Hasilnya, China tidak perlu membangun AI frontier dari nol yang membutuhkan alokasi dana raksasa dan ribuan cip komputasi canggih yang saat ini disanksi AS.

"Mengajari model jawaban yang benar itu mudah, tetapi mengajarinya penalaran di balik jawaban tersebut jauh lebih sulit," ujar Sunny Cheung, peneliti dari Jamestown Foundation.

"Para peneliti militer China mencoba memindahkan logika penalaran mahal milik model Barat ke dalam sistem lokal yang lebih murah dan bisa mereka kendalikan sepenuhnya," tambahnya.

Dari Drone Tempur Hingga Perang Siber

Penggunaan AI AS yang di-distilasi oleh militer Tiongkok ternyata sudah mencakup berbagai sektor krusial:

  • Perang Siber: Unit Intelijen PLA 96941 memanfaatkan GPT-3.5 untuk merangkum kode sumber (source code) militer sensitif guna melatih model AI internal yang terisolasi dari internet.
  • Navigasi Drone Otonom: Universitas Teknologi Pertahanan Nasional PLA berhasil memperkecil ukuran model pemroses gambar agar bisa dipasang langsung pada drone tempur, memungkinkan pemetaan target secara real-time meski komunikasi terputus.
  • Operasi Laut Unmanned: Akademi Ilmu Pengetahuan Militer Tiongkok menjalankan model pengenal target pada kapal, drone, dan kapal selam nirawak saat simulasi operasi tempur laut.
  • Pemantauan Media Sosial: North University of China menggunakan Claude 3 Haiku milik Anthropic untuk melatih AI pemantau konten dan media sosial.

AS Berang, China Melawan

Temuan ini memperkeruh tensi geopolitik antara Washington dan Beijing jelang tata kelola keamanan AI global. Pihak AS menuding China melakukan ekstraksi tanpa izin yang melanggar hak kekayaan intelektual serta merusak kontrol ekspor.

Pihak Anthropic menegaskan tidak pernah memberikan akses komersial ke China dan memperingatkan bahwa model hasil distilasi dapat kehilangan pembatas keamanan (safety safeguards), sehingga berbahaya jika jatuh ke tangan militer.

Di sisi lain, pemerintah China membantah tuduhan tersebut dan menuding balik bahwa AS sedang menjalankan "hegemoni" teknologi AI. Startup AI papan atas China, Moonshot, juga membantah model Kimi K3 miliknya menggunakan teknik distilasi dari AS, melainkan hasil inovasi mandiri.

Kendati berhasil mengakali sanksi AS, para ahli mengingatkan bahwa distilasi AI tetap memiliki keterbatasan. Model AI hasil distilasi dianggap hanya mewarisi sebagian kemampuan spesifik dan belum mampu menandingi tingkat kecerdasan penuh dari sistem AI induk buatan AS.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |