Salma Laiqa, CNBC Indonesia
22 September 2026 17:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan pipa minyak mentah East-West milik Arab Saudi berpotensi memperketat pasokan minyak ke sejumlah negara importir terbesar Asia, dengan Korea Selatan menjadi negara yang paling terekspos terhadap gangguan tersebut.
Data Korea International Trade Association menunjukkan minyak mentah Arab Saudi menyumbang sekitar 34,1% dari total impor minyak mentah Korea Selatan pada Juli. Ketergantungan terhadap minyak Saudi juga terlihat di Jepang yang mencapai 27,3%, China sebesar 14,9%, dan India sekitar 10,2%.
Tingginya ketergantungan Asia terhadap minyak Saudi tidak otomatis berarti seluruh pasokan akan terdampak. Namun, penutupan pipa East-West berpotensi mengganggu aliran minyak yang selama ini menjadi jalur alternatif ekspor Saudi ke pasar Asia.
Aliran Minyak ke Asia Berpotensi Terganggu
Sebelum konflik di kawasan Teluk, sebagian besar ekspor minyak Saudi ke Asia dikirim melalui terminal di kawasan Teluk yang melewati Selat Hormuz. Namun, pembatasan aktivitas di jalur strategis tersebut membuat sebagian besar ekspor Saudi dialihkan ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui pipa East-West.
Thomas Luedi, Kepala Energi dan Sumber Daya Alam Asia Pasifik di Bain & Company, mengatakan pelabuhan Yanbu telah mengambil alih sebagian besar ekspor Saudi yang sebelumnya dikirim melalui terminal Teluk.
Menurut Luedi, sekitar 4 juta barel per hari (bph) pasokan minyak yang menuju Asia berpotensi terdampak akibat gangguan tersebut.
Sementara itu, Oriano Lizza, sales trader CMC Markets, memperkirakan volume yang berisiko terganggu berada di kisaran 3,5 juta-4,5 juta bph, termasuk dengan memperhitungkan cadangan minyak yang tersimpan di Yanbu dan Mesir.
Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, memperkirakan pasar minyak dapat kehilangan sekitar 120 juta barel jika pipa tersebut berhenti beroperasi selama satu bulan dan stok di pelabuhan Yanbu ikut terkuras.
Perkiraan tersebut mengasumsikan kapasitas aliran pipa sekitar 4,5 juta bph dan cadangan sekitar 15 juta barel di Yanbu. Namun, dampak akhirnya dapat lebih kecil apabila stok tersedia, pengiriman alternatif dari wilayah Teluk tetap berjalan, atau sebagian operasi pipa dapat kembali dilakukan.
Harga Minyak dan Ongkos Angkut Jadi Tekanan Awal
Bagi kilang minyak Asia, dampak awal dari gangguan ini kemungkinan lebih terasa pada kenaikan biaya dibandingkan keterbatasan pasokan minyak mentah.
Oriano Lizza mengatakan kilang minyak di Asia akan lebih dulu menghadapi kenaikan biaya sebelum gangguan pasokan benar-benar terasa secara fisik. Tekanan awal terlihat dari kenaikan premi minyak mentah jenis medium-sour serta biaya pengiriman yang semakin tinggi.
Pandangan serupa disampaikan Chokwai Lee, Direktur Riset Ekuitas Morningstar. Menurutnya, dampak terbesar dalam jangka pendek kemungkinan akan terlihat pada harga minyak dan biaya pengiriman, bukan pada ketersediaan fisik minyak mentah.
Gangguan terhadap arus minyak diperkirakan baru akan terasa lebih lama apabila penghentian pipa berlangsung berkelanjutan. Luedi dan Lizza memperkirakan stok di Yanbu dan Mesir dapat menjaga kelancaran ekspor selama sekitar satu hingga dua minggu.
Jika pipa tetap berhenti setelah cadangan tersebut habis, pengiriman minyak pengganti dari Amerika atau Afrika Barat dapat membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mencapai Asia.
Kilang Asia Mulai Cari Alternatif
Meski demikian, analis Macquarie memperkirakan dampak gangguan pasokan dapat diredam oleh fleksibilitas kilang Asia yang kini lebih mampu mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Strategi tersebut memungkinkan kilang mengganti sumber pasokan dengan lebih cepat ketika terjadi gangguan di salah satu jalur distribusi.
Hingga saat ini, durasi penghentian pipa East-West masih belum jelas. Arab Saudi belum memberikan perkiraan waktu pemulihan. Associated Press dan Reuters melaporkan proses perbaikan berpotensi membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam minggu.
Namun, Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan pekan lalu bahwa pipa minyak mentah penting milik Arab Saudi tersebut akan kembali beroperasi "dalam waktu dekat".
Apakah Gangguan Saudi Mengancam Indonesia?
Indonesia tidak menjadi salah satu negara Asia dengan ketergantungan terbesar terhadap minyak mentah Arab Saudi. Namun, Indonesia tetap memiliki eksposur terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut sekitar 20%-25% kebutuhan minyak mentah Indonesia masih berasal dari Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat gangguan pada jalur energi strategis seperti Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan dan biaya impor minyak Indonesia.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah mendorong diversifikasi sumber impor minyak mentah ke sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara produsen di luar kawasan Timur Tengah.
(slm/slm)

1 hour ago
1
















































