Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
22 September 2026 16:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan inflasi di sejumlah negara membuat bank sentral mengambil langkah agresif dengan mengerek suku bunga acuan.
Ketika harga barang naik terlalu cepat dan inflasi meroket, daya beli masyarakat ikut tergerus.
Untuk menahan kenaikan harga, bank sentral dapat menaikkan suku bunga. Pinjaman pun menjadi lebih mahal sehingga orang dan perusahaan cenderung mengurangi belanja.
Belakangan ini, suku bunga tinggi kembali menjadi perhatian dunia. Kondisi ini kerap disebut higher for longer, yakni saat bunga diperkirakan bertahan tinggi lebih lama.
Bank sentral Jepang telah dua kali menaikkan suku bunga acuannya sepanjang 2026. Kenaikan pertama terjadi pada Juni, lalu disusul kenaikan 25 basis poin pada September. Pada bulan yang sama, Bank Sentral Eropa dan bank sentral Amerika Serikat juga menaikkan bunga.
Namun, tingkat suku bunga di setiap negara berbeda jauh. Ketika bank sentral negara maju menaikkan bunga dalam hitungan seperempat poin persentase, bunga di sejumlah negara lain sudah mencapai puluhan persen.
Bunga setinggi itu tidak otomatis membuat masyarakat lebih sejahtera. Jika harga kebutuhan naik lebih cepat daripada pendapatan, kehidupan sehari-hari tetap terasa berat.
Lantas, negara mana yang mencatat suku bunga bank sentral paling tinggi? Berikut daftarnya berdasarkan data Trading Economics.
Mengapa Suku Bunganya Bisa Setinggi Itu?
Suku bunga tinggi biasanya muncul ketika suatu negara berusaha menahan kenaikan harga atau menjaga nilai mata uangnya.
Dengan menaikkan bunga, bank sentral berharap masyarakat dan perusahaan mengurangi pinjaman serta belanja. Menyimpan uang dalam mata uang lokal juga diharapkan menjadi lebih menarik.
Namun, bunga yang mencapai puluhan persen menunjukkan beratnya tekanan ekonomi yang dihadapi. Jika harga kebutuhan terus naik, bunga tinggi belum tentu cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
Venezuela berada jauh di atas negara lain dalam daftar ini. Suku bunganya mencapai 58,93%, sedikit turun dari sebelumnya 59,04%. Negara tersebut masih menghadapi inflasi yang sangat tinggi di tengah ketidakpastian politik. Kondisi itu membuat upaya menjaga nilai uang dan daya beli masyarakat semakin sulit.
Turki berada di urutan kedua dengan bunga 37%, disusul Zimbabwe sebesar 30% dan Argentina 29%. Nigeria melengkapi lima besar dengan bunga 26,5%.
Bunga setinggi itu juga membuat biaya pinjaman mahal. Rumah tangga perlu membayar cicilan lebih besar, sementara perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk mendanai usahanya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

1 hour ago
1
















































