Terungkap! Rudal Pencari Panas Iran Buru Air Force One, Trump Ngungsi

5 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat pemerintah yang lebih kecil saat meninggalkan Turki bulan lalu. Langkah tersebut dilakukan setelah Secret Service menilai adanya ancaman serangan rudal terhadap Trump sebagai ancaman yang kredibel dan segera terjadi.

Mengutip Reuters, Kamis (13/8/2026), ancaman tersebut muncul pada hari terakhir kunjungan Trump ke Ankara untuk menghadiri KTT NATO. Saat itu, ketegangan antara AS dan Iran tengah meningkat. Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Secret Service menilai ancaman itu cukup serius sehingga harus dilakukan operasi khusus untuk menyembunyikan pergerakan Trump.

Sumber tersebut tidak mengungkap dari mana informasi intelijen itu berasal. Namun, ia mengatakan pejabat AS memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mempersiapkan langkah pengamanan dan harus membuat rencana pada menit-menit terakhir.

Sumber kedua mengatakan tidak terdapat rencana yang jelas dari pihak yang bermusuhan dengan Trump untuk melaksanakan serangan tersebut. Yang teridentifikasi baru sebatas adanya niat, sehingga pesawat-pesawat terkait tetap diizinkan terbang.

Trump Pindah Pesawat Diam-Diam

Pada 8 Juli, Trump dan sejumlah kecil ajudannya diam-diam berpindah dari pesawat kepresidenan ke pesawat C-32A yang lebih kecil dan tidak mencolok. Perpindahan tersebut dilakukan menggunakan truk katering untuk menghindari perhatian.

Trump kemudian terbang dari Ankara menuju Inggris untuk melakukan pengisian bahan bakar. Sementara itu, Air Force One tetap meninggalkan Turki secara terpisah dengan membawa sejumlah pejabat senior pemerintahan, staf Gedung Putih, serta rombongan wartawan yang biasa mengikuti perjalanan presiden.

Trump sendiri mengonfirmasi pada Selasa. Ia mengatakan dirinya memang berpindah pesawat atas arahan Secret Service, lembaga yang bertanggung jawab atas keamanan presiden.

"Saya sebenarnya berpikir pesawat yang saya tumpangi memiliki risiko lebih besar," kata Trump kepada wartawan, tanpa memberikan bukti.

"Menurut saya, risikonya lebih besar karena itu adalah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka incar," lanjutnya.

Diduga Ancaman Rudal Pencari Panas

Direktur Eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies, Douglas Birkey, mengatakan ancaman tersebut mungkin berkaitan dengan jenis rudal baru yang menggunakan teknologi pencari panas (heat-seeking) untuk mendeteksi dan mengunci mesin pesawat yang menghasilkan panas. Menurutnya, senjata jenis tersebut lebih sulit dideteksi dibandingkan ancaman yang menggunakan radar.

Rudal pencari panas juga tidak memancarkan gelombang radio yang mudah terdeteksi sehingga serangan dapat muncul secara tiba-tiba. Birkey menyebut salah satu contohnya adalah SA-67 buatan Iran, yang menggunakan peluncur sederhana dan diyakini memiliki sistem pemandu berbasis panas serta laser.

Senjata lain adalah 9K333 Verba. Ini adalah rudal pencari panas yang dipasang di bahu dan diproduksi Rusia.

Air Force One Jadi "Umpan"

Pesawat Air Force One yang berangkat secara terpisah pada saat itu membawa Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio, Menteri Keuangan (Menkeu) Scott Bessent, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung, sejumlah staf lainnya, serta 13 orang wartawan yang biasa mengikuti perjalanan presiden, termasuk reporter dan fotografer Reuters. Rubio disebut telah diberi tahu mengenai manuver tersebut.

Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, Asisten Eksekutif Natalie Harp dan Direktur Operasional Oval Office Walt Nauta ikut berpindah bersama Trump menggunakan truk katering. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan dari sejumlah komentator media dan anggota parlemen mengenai apakah operasi tersebut justru membuat para ajudan dan wartawan yang berada di Air Force One menghadapi risiko lebih besar karena pesawat itu diduga membawa presiden.

Namun, sumber Reuters mengatakan Secret Service memutuskan bahwa menjaga kerahasiaan operasi merupakan pilihan terbaik bagi keselamatan Trump, terutama ketika ketegangan dengan Iran meningkat. Turki sendiri belum memberikan komentar mengenai ancaman tersebut.

Bukan Pertama Kali Presiden AS Bepergian Secara Rahasia

Presiden AS, termasuk Trump, sebelumnya juga pernah melakukan perjalanan secara rahasia ketika mengunjungi wilayah perang atau kawasan berisiko tinggi. Namun, perjalanan semacam itu biasanya tetap melibatkan pemberitahuan terlebih dahulu kepada wartawan yang mengikuti presiden.

Dalam kasus perjalanan Trump kali ini, sumber tersebut mengatakan Secret Service tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan seperti biasanya. "Mereka berusaha keras untuk menghadapi apa yang mereka yakini sebagai ancaman yang kredibel dan segera terjadi," kata sumber tersebut.

(sef/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |