Ukuran Font
Kecil Besar
14px
TAKENGON (Waspada.id): Penderitaan warga Kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, tak hanya datang dari bencana banjir yang memutus akses jalan. Di tengah kesulitan itu, mereka juga harus menghadapi ancaman kawanan gajah liar yang kerap masuk ke permukiman.
Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi sungai berarus deras menggunakan sling (tali baja). Jalur berbahaya tersebut kini menjadi satu-satunya akses keluar masuk kampung.
Sariman Am Ridan, salah seorang warga Karang Ampar, mengungkapkan keresahan mendalam yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, untuk mencapai titik sling saja, warga harus melewati berbagai rintangan yang tidak kalah berbahaya.

“Dari Kampung Karang Ampar menuju titik sling, kami harus melewati beberapa titik jalan yang longsor. Banyak juga tiang listrik yang tumbang,” ujar Sariman kepada Waspada.id, Minggu (4/1/25).
Ia menambahkan, penderitaan warga tidak berhenti sampai di situ. Selain akses jalan yang rusak dan listrik yang padam, ancaman kawanan gajah liar semakin memperparah kondisi kehidupan masyarakat.
“Kami sudah tertimpa musibah banjir, jalan keluar ke kota banyak yang longsor, listrik padam, sekarang ditambah lagi kawanan gajah liar yang masuk kampung. Rasanya seperti hidup dalam kepungan masalah,” keluhnya lirih.
Akses sling tersebut menghubungkan Kampung Karang Ampar dengan Kampung Bergang, Puteng, Pantan Reduk, serta beberapa wilayah lainnya. Kondisi ini membuat warga berada dalam dilema berat: memilih keselamatan jiwa atau memenuhi kebutuhan perut keluarga.
“Beginilah kondisi kami sehari-hari. Rintangan dan bahaya harus kami hadapi demi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak kami,” tutur Sariman dengan nada penuh keprihatinan.
Setiap kali hendak menjual hasil panen atau membeli bahan kebutuhan pokok, warga harus melewati sling yang membentang di atas sungai deras. Risiko jatuh dan terseret arus sungai selalu menghantui, terutama saat hujan turun dan debit air meningkat.

“Kami mengangkut hasil panen seperti durian, kopi, kemiri dan lainnya untuk dijual keluar kampung harus lewat sling ini. Taruhannya nyawa, karena di bawahnya arus sungai sangat deras,” jelasnya.
Melalui pemberitaan ini, Sariman mewakili harapan seluruh warga Karang Ampar agar pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat segera memberikan perhatian serius.
Ia berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan, mengingat jalur tersebut merupakan akses vital bagi beberapa kampung di Kecamatan Ketol.

“Jembatan ini adalah nadi kehidupan kami. Akses utama menuju Kampung Bergang, Karang Ampar, Puteng, dan Pantan Reduk. Mau tidak mau, kami harus melewati jalur ini demi bertahan hidup,” tutupnya.(id.86)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































