Telur Bebek Pidie Laris, Tradisi Pun Manis

2 hours ago 1
AcehKuliner

12 Februari 202612 Februari 2026

Telur Bebek Pidie Laris, Tradisi Pun Manis Kue bhoi, kue tradisional Aceh berbahan telur bebek, menjadi favorit masyarakat Pidie saat bulan suci. Waspada.id/Ist

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Ramadhan di Pidie tidak hanya menghadirkan suasana religius. Ia juga menggerakkan pasar, menghidupkan dapur, dan menyatukan tradisi dalam denyut ekonomi rakyat. Di tengah hiruk-pikuk itu, satu komoditas sederhana menjadi penanda telur bebek.

Permintaan meningkat hingga 30 persen. Stok yang biasanya cukup untuk tiga hari lebih cepat habis. Harga naik sekitar Rp500 per butir, namun pembeli tetap berdatangan. Rak-rak telur di pasar tidak lama terisi sebelum kembali kosong.

Di permukaan, ini sekadar fenomena musiman. Tetapi jika ditarik lebih dalam, “telur laris” bukan hanya soal angka penjualan. Ia adalah simbol bergeraknya ekonomi akar rumput. Dan “tradisi manis” bukan hanya tentang rasa kue, melainkan tentang kesinambungan budaya yang menghidupi banyak orang.

Di Pidie, telur bebek adalah fondasi kue bhoi, penganan khas Aceh yang sarat makna sosial. Bentuknya bisa ikan, bunga, atau bintang. Ia hadir dalam kenduri, sunatan, kelahiran, hingga seserahan pernikahan. Ramadhan memperkuat tradisi itu. Pesanan meningkat. Produksi bertambah. Permintaan telur terdorong.

Telur bebek hasil produksi peternak Pidie yang menjadi bahan utama aneka kue tradisional.Waspada.id/Muhammad Riza

Di sinilah makna judul itu menemukan konteksnya: ketika telur laris, tradisi tetap manis. Ketika pasar bergerak, budaya ikut hidup. Kue bhoi membutuhkan kualitas telur bebek yang baik. Kuning telur yang lebih kaya menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih khas.

Setiap butir telur yang terjual bukan hanya mengisi adonan, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi—peternak, pedagang, pembuat kue, hingga buruh harian.Namun pertanyaannya tidak berhenti pada romantisme tradisi.

Apakah kelarisan ini benar-benar memperkuat peternak lokal? Atau hanya menjadi siklus tahunan tanpa perencanaan? Setiap tahun polanya berulang. Permintaan naik. Harga naik. Lalu kembali normal setelah momentum berlalu. Tidak ada konsolidasi produksi. Tidak ada skema perlindungan harga yang jelas.

Padahal beternak bebek memiliki potensi ekonomi kuat, masa panen relatif cepat, biaya pakan dapat ditekan, dan permintaan pasar stabil. Jika telur terus laris tetapi peternak tetap rapuh, maka manisnya tradisi hanya terasa di permukaan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum membaca arah pembangunan. Lonjakan permintaan adalah sinyal bahwa daya beli ada. Perputaran uang terjadi. Ini peluang memperkuat produksi lokal, memperbaiki distribusi, dan membangun data sektor peternakan yang akurat.Tanpa itu, ekonomi rakyat hanya bergerak spontan, bukan terencana.

Telur laris memang menggembirakan. Tradisi manis memang membanggakan. Tetapi keberlanjutan keduanya bergantung pada keberpihakan kebijakan.Di balik cangkang tebal telur bebek, ada harapan peternak kecil. Di balik lembutnya kue bhoi, ada identitas budaya yang dijaga turun-temurun.

Ramadhan menghadirkan berkah. Pertanyaannya, apakah berkah itu hanya terasa di meja konsumsi, atau benar-benar menguatkan pondasi ekonomi rakyat?

Jika telur tetap laris dan tradisi tetap manis, maka yang harus dipastikan adalah kesejahteraan peternak ikut tertulis dalam cerita itu.Bukan sekadar manis di lidah, tetapi kuat dalam kebijakan.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |