Tanda Kiamat Makin Cepat Muncul dari Besi di Dalam Es

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian mengungkap fakta baru soal dampak pencairan es di Antartika terhadap iklim global. Studi yang dimuat dalam jurnal Nature Geoscience menunjukkan bahwa penyusutan lapisan es Antartika Barat justru dapat melemahkan kemampuan Samudra Selatan dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Tim peneliti menemukan bahwa selama periode hangat di masa lalu, meningkatnya jumlah gunung es yang terlepas dari Antartika Barat memang membawa lebih banyak sedimen kaya zat besi ke laut.

Namun, pasokan zat besi tersebut tidak otomatis meningkatkan pertumbuhan alga laut, yang selama ini dikenal berperan penting dalam menyerap karbon.

Penulis utama studi, Torben Struve, menjelaskan bahwa zat besi yang terbawa gunung es sebagian besar telah mengalami pelapukan kimia dalam waktu sangat lama. Kondisi ini membuat zat besi menjadi sulit larut dan tidak mudah dimanfaatkan oleh alga sebagai nutrien.

Padahal, di perairan sekitar Antartika, zat besi biasanya menjadi faktor pembatas utama pertumbuhan alga. Dalam penelitian sebelumnya, debu kaya zat besi yang terbawa angin selama zaman es terbukti mampu meningkatkan produktivitas alga dan memperbesar penyerapan karbon dioksida oleh laut.

"Biasanya, peningkatan pasokan zat besi di Samudra Selatan akan merangsang pertumbuhan alga, yang pada akhirnya meningkatkan penyerapan karbon dioksida oleh laut," kata penulis utama studi, Torben Struve dari University of Oldenburg, dikutip dari Scitechdaily, Selasa (3/2/2026).

Namun, studi terbaru ini menunjukkan situasi berbeda di wilayah selatan Front Polar Antartika. Data sedimen mengindikasikan bahwa sumber utama zat besi di kawasan tersebut bukan berasal dari debu, melainkan dari gunung es yang berasal dari Antartika Barat, terutama pada periode hangat antar-zaman es.

Menurut para peneliti, temuan ini juga memperkuat bukti bahwa Lapisan Es Antartika Barat sangat sensitif terhadap kenaikan suhu global. Pada periode interglasial terakhir sekitar 130.000 tahun lalu, saat suhu Bumi mendekati kondisi saat ini, wilayah tersebut diduga mengalami pencairan es dalam skala besar.

Jika pemanasan global terus berlanjut, kondisi serupa berpotensi terulang. Penyusutan es dapat mempercepat erosi batuan tua, sehingga pasokan zat besi ke laut semakin didominasi oleh bentuk yang sulit dimanfaatkan organisme laut.

"Yang terpenting bukan hanya seberapa banyak zat besi yang masuk ke laut, tetapi dalam bentuk kimia seperti apa zat besi tersebut," ujar Gisela Winckler, salah satu penulis studi dari Columbia Climate School.

Para peneliti memperingatkan, penurunan kemampuan laut menyerap karbon ini dapat menjadi umpan balik negatif yang mempercepat "kiamat" perubahan iklim di masa depan.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |