Tafakur Imam Ali Ibnu Al Madini: Ahli Hadist Abad Ke-2 Hijriah Dari Bashrah – Irak

1 day ago 9
AcehAl-bayan

6 Januari 20266 Januari 2026

 Ahli Hadist Abad Ke-2 Hijriah Dari Bashrah – Irak

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Oleh Prof. Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diiglee)

Imam Ali Ibnu Al Madini adalah pakar hadist abad ke-2 Hijriah dari Bashrah – Irak yang terkenal dengan gelar kehormatan sebagai Imam Hafidz al ‘Ashr (imam penjaga waktu dikarenakan kedalaman ilmunya tentang ‘ilal al hadits). Meskipun Imam Ali Ibnu Al Madini lahir di Bashrah – Irak, namun leluhurnya berasal dari kota Madinah – Arab Saudi.

Selain itu, Imam Ali Ibnu Al Madini salah seorang dari empat ulama ahli hadist yang sangat berpengaruh dalam rentang waktu antara abad ke-2 sampai abad ke-3 Hijriah. Keempat ulama ahli hadist tersebut adalah Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam ibnu Abi Syaibah, Imam Yahya Bin Ma’in, dan Imam Ali Ibnu Al Madini.

Imam Ali Ibnu Al Madini memiliki nama lengkap Imam Abu al Hasan ‘Ali Bin Abdillah Bin Ja’far al Madini (امام ابو الحسن علي بن عبدالله بن جعفر المديني). Imam Ali Ibnu Al Madini lahir di Bashrah – Irak pada tahun 161 Hijriah (778 M) dan wafat di Samarra – Irak pada bulan Dzulqa’dah tahun 234 Hijriah (bulan Juni tahun 849.M) dalam usia 73 tahun.

Di samping itu, Imam Ali Ibnu Al Madini khusus mendalami ilmu hadist, evaluasi biografi sanad dan perawi hadist, ‘ilal hadist (cacat tersembunyi dalam mata rantai sanad hadist dan matan hadist). Imam Ali Ibnu Al Madini mendapatkan penilaian yang sangat positif atas kapasitas keilmuannya, baik oleh para ulama yang hidup se zaman dengannya maupun oleh para guru dan murid-muridnya.

Syekh Abdurrahman Bin Mahdi mengatakan bahwa Imam Ali Ibnu Al Madini sebagai ulama yang paling berpengaruh ilmunya berkaitan dengan hadist-hadist Nabi Saw dan pujian Syekh Abdurrahman Bin Mahdi tersebut diperkuat dengan kesaksian para murid dari Imam Ali Ibnu Al Madini itu sendiri.

Di antara murid-muridnya tersebut adalah Imam Muhammad Bin Yahya al Duhaili, Imam Muhammad Bin Ismail al Bukhari, Imam Abu Daud Sulaiman Al Sijistani, dan lain-lainnya. Imam al Bukhari mengatakan, bahwa ia tidak menganggap dirinya rendah dibandingkan dengan siapapun selain dengan Imam Ali Ibnu Al Madini gurunya.

Pada sisi yang lain, Imam al Dzahabi mengatakan bahwa Imam Ali Ibnu Al Madini adalah seorang imam dan teladan bagi para ulama berikutnya dalam bidang hadist. Sebagai seorang ulama yang masyhur pada zamannya, tentunya Imam Ali Ibnu Al Madini memiliki banyak karya ilmiah. Bahkan Imam al Nawawi mengatakan bahwa Imam Ali Ibnu Al Madini telah menulis 200 buah kitab sebagai karya akademiknya.

Di antara kitab-kitab karya akademik Imam Ali Ibnu Al Madini tersebut adalah kitab ‘Ilal al Hadits wa Ma’rifah al Rijal (membahas cacat hadist yang tersembunyi dari sisi sanad, perawi, dan matan), kitab Tasmiyah Man Rawa ‘Anhu Min Aulad al Asyrah Wa Ghairihim Min Ashab Rasulillah, kitab Abwab al Sajdah, kitab Asbab al Nuzul, kitab al Asami al Syadzadzab, kitab al Ikhwah wa al Akhwat al Tarikh, kitab al Dhu’afa’ (evaluasi terhadap biografi sanad dan perawi hadist yang lemah), kitab al Mudallisun (membahas perawi hadist yang menggunakan istilah yang ambigu di dalam periwayatannya), kitab al Asma’ wa al Kuna (membahas nama nama sanad dan perawi beserta gelar atau panggilannya), kitab al Musnad, kitab Ma’rifat al Shahaba, dan lain-lainnya.

Di antara para ulama pada zaman itu yang menjadi guru dari Imam Ali Ibnu Al Madini adalah Imam Yahya Bin Sa’id al Qathan, Imam Sufyan Bin Uyainah, Imam Hammad Bin Zaid, Imam Hasyim, dan lain lainnya. Imam Ali Ibnu Al Madini dalam meriwayatkan hadits ia melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya.

Imam Ali Ibnu Al Madini menelusuri perjalanan ilmiahnya dari Bashrah, Mekah, Madinah, Baghdad, Palestina, dan lain lainnya. Ungkapan tentang perjalanan Imam Ali Ibnu Al Madini ini diungkapkanya sendiri di dalam kitab yang beliau tulis, yaitu kitab al Musnad Fi al Hadits. Pada saat Imam Ali Ibnu Al Madini melakukan perjalanan ke Baghdad, beliau membuka halaqah keilmuan yang ramai didatangi oleh para ulama di Baghdad untuk bisa mendapatkan ilmu darinya.

Di antara ulama yang rutin hadir di halaqah ilmu Imam Ali Ibnu Al Madini di Baghdad adalah Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Yahya Ibnu Ma’in. Menilik banyaknya ulama ahli hadist terkemuka yang meriwayatkan hadist dari Imam Ali Ibnu Al Madini, maka dapat disimpulkan dengan mudah bahwa Imam Ali Ibnu Al Madini adalah seorang sanad dan perawi hadist yang tsiqah (terpercaya).

Imam Ibnu Hiban Al Busti mengatakan, bahwa para kritikus hadist seperti Imam Al Nasa’i, memasukkan Imam Ali Ibnu Al Madini sebagai seorang ahli hadist yang masyhur dan tsiqah. Imam Ali Ibnu Al Madini dalam pandangan mayoritas ulama ahli hadist adalah sosok ahli hadist yang legendaris, sehingga siapapun yang mendalami ilmu hadist akan bersentuhan dengan nama besar Imam Ali Ibnu Al Madini.

Melihat sosok Imam Ali Ibnu Al Madini sebagai seorang ulama ahli hadist besar pada zamannya, membuat beliau beserta karya karya akademiknya khususnya dalam bidang hadist dan ilmu hadits sangat layak untuk dikaji dan didalami.

Semoga sumbangsih keilmuan yang luas dari Imam Ali Ibnu Al Madini mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah Swt. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin. Wallahua’lam. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |