Super El Nino Mengintai, Bukan Cuma Gerah tapi Juga Bikin Dompet Tipis

1 hour ago 2

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

02 May 2026 13:10

Jakarta, CNBC Indonesia — Dunia menghadapi ancaman fenomena El Niño dalam beberapa bulan ke depan, dengan peluang mencapai 62% pada pertengahan 2026. Sejumlah lembaga iklim bahkan memperingatkan potensi penguatan menuju "super El Niño" yang dapat memicu lonjakan suhu global, cuaca ekstrem, hingga tekanan pada harga pangan dan energi.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Niño mencapai 62% pada periode Juni hingga Agustus.

Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat kemungkinan sekitar sepertiga bahwa fenomena ini akan menguat secara signifikan pada akhir tahun.

Reuters melaporkan sebagian besar lembaga meteorologi utama kini memperkirakan fase El Nino kuat mulai terbentuk pada Mei 2026.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut model iklim saat ini bergerak searah dan memberi keyakinan tinggi bahwa El Nino akan muncul lalu menguat dalam beberapa bulan berikutnya. Suhu permukaan Samudra Pasifik bahkan telah menembus 21 derajat Celsius, salah satu level tertinggi sejak pencatatan era 1980-an.

Penampakan El NinoFoto: Reuters

Saat udara makin panas, konsumsi listrik melonjak karena pendingin ruangan bekerja lebih lama. Asia menjadi titik paling krusial karena kawasan ini menyerap sekitar 53% kebutuhan listrik global, menurut lembaga energi Ember.

Masalahnya, mesin listrik Asia masih ditopang batu bara. Reuters mencatat pembangkit berbasis batu bara memasok sekitar 70% listrik India dan 55% di China. Secara regional, proporsinya juga masih dominan. Artinya, ketika suhu naik dan AC menyala massal, permintaan batu bara berpeluang ikut terdorong.

Sebagai eksportir batu bara terbesar dunia, Indonesia berpotensi menikmati kenaikan permintaan dari Asia. Sepanjang 2026, ekspor batu bara Indonesia ke negara-negara Asia sempat turun sekitar 7% dibanding periode sama tahun lalu.

Penyebabnya kombinasi naiknya energi bersih dan lemahnya konsumsi industri seperti semen. Namun jika El Nino membawa musim panas panjang, arah itu bisa berbalik cepat.

Harga energiFoto: Reuters

Sementara itu di Indonesia, peringatan juga sudah disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang merilis prediksi cuaca ekstrem, dengan memberikan istilah populer, El Nino Godzilla berpotensi melanda RI di periode musim kemarau tahun ini.

Merespons hal itu, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian mengingatkan waspada dampak yang dapat ditimbulkan oleh fenomena iklim tersebut, yakni potensi kenaikan harga beras seiring ancaman gangguan produksi di dalam negeri.

Sebab, sambungnya, struktur pertanian Indonesia saat ini masih rentan terhadap perubahan iklim, khususnya kekeringan.

"Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, banyak lahan sawah tadah hujan, dan sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar," kata Eliza kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Meski demikian proyeksi antar lembaga masih beragam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki pandangan lain. Kondisinya saat ini sebetulnya peluang untuk sampai level super kuat, atau disebut godzila, itu hanya 15%-20%. Berdasarkan hasil perhitungan saat ini, peluang terbesarnya hanya sampai level moderate.

Jika skenario Super El Nino terjadi, dunia bisa kembali menghadapi tekanan iklim besar, bahkan berpotensi melampaui episode 2023-2024 yang tercatat sebagai salah satu kondisi terpanas dalam sejarah.

Apa Itu "Super El Niño" dan Mengapa Berbahaya?

Super El Niño merupakan kondisi ekstrem dari fenomena El Niño, ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat jauh di atas normal dalam waktu yang cukup lama.

Fenomena ini berpotensi mendorong suhu rata-rata bumi ke level yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dalam konteks perubahan iklim yang sudah memanas, kehadiran super El Niño dapat menjadi "pemicu tambahan" yang dapat memperparah kondisi.

Artinya jika Super El Niño terjadi, kekeringan parah dan banjir dapat terjadi di berbagai wilayah pada waktu yang bersamaan.

Dampaknya dapat sangat terasa terutama pada sektor pertanian. Risiko gagal panen dan kematian hewan ternak yang semakin tinggi dapat menyebabkan kelangkaan komoditas yang berdampak pada lonjakan harga pangan.

Ketidakpastian Tinggi, Risiko Tetap Nyata

Meskipun berbagai model cuaca semakin mengarah pada kemunculan El Niño, para peramal belum sepenuhnya sepakat mengenai seberapa kuat fenomena ini akan berkembang.

AccuWeather memperkirakan peluang super El Niño sekitar 15% hingga akhir musim badai pada November. Sementara itu, NOAA menilai peluang El Niño kuat mencapai sekitar 33% pada periode Oktober hingga Desember, namun dengan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi.

Artinya, skenario terburuk mungkin belum pasti terjadi, tetapi risikonya cukup besar untuk diwaspadai.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |