Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Rudy Brando Hutabarat bersama ekonom senior Hendri Saparini di Aula Tengku Rizal Nurdin, Medan, Kamis (16/4/2026). Waspada.id/ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong terobosan ekonomi daerah berbasis potensi lokal, dengan mengedepankan kebijakan yang mampu langsung dirasakan masyarakat.
Hal itu disampaikan Bobby saat menerima audiensi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Rudy Brando Hutabarat bersama ekonom senior Hendri Saparini di Aula Tengku Rizal Nurdin, Medan, Kamis (16/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Bobby mengapresiasi berbagai masukan terkait strategi pengendalian inflasi, kebijakan investasi, serta penguatan sektor riil. Ia menilai, kebijakan ekonomi daerah harus mampu menjawab tantangan global sekaligus memaksimalkan posisi strategis Sumut.
“Kami ingin memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh masyarakat. Masukan terkait pengendalian inflasi sangat penting, mengingat Sumut sempat menghadapi tekanan pada pertengahan tahun lalu,” ujar Bobby.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk membuka ruang dialog dengan para pakar, sekaligus mengubah peran pemerintah dari regulator menjadi fasilitator investasi.
Menurutnya, sejumlah potensi unggulan seperti gula merah dan produk herbal memiliki pasar besar, namun belum tergarap maksimal. Karena itu, Pemprov akan mendorong perbaikan tata kelola dan relaksasi regulasi agar investasi lebih mudah masuk ke Sumut.
Sementara itu, Rudy Brando Hutabarat menekankan pentingnya sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga pangan, termasuk melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
“Inovasi kebijakan harus terus didorong agar Sumatera Utara memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Di sisi lain, Hendri Saparini menilai perlunya penajaman strategi ekonomi di tengah perubahan paradigma nasional yang kini berorientasi pada investasi berkualitas dan partisipatif.
Ia juga mendorong hilirisasi produk unggulan seperti tapioka dan turunan kelapa sawit agar nilai tambah tetap berada di daerah. Selain itu, potensi rempah seperti vanila dinilai perlu dikembangkan dengan dukungan teknologi dan penguatan identitas produk.
Tak hanya itu, pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis ekosistem UMKM juga dinilai penting, termasuk memanfaatkan potensi investasi diaspora sebagai sumber pembiayaan alternatif.
Hendri berharap, hasil diskusi ini dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk program kolaboratif antara Pemprov Sumut, Bank Indonesia, dan para pemangku kepentingan ekonomi lainnya. (KOMINFO SUMUT)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































