Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan ketentuan kebijakan peningkatan jumlah saham beredar di publik (free float) hingga minimal 15%, telah menjadi salah satu perhatian utama sejak lama. Menurutnya, pasar modal berisi perusahaan-perusahaan (emiten) yang ingin mendapatkan dana murah dari masyarakat dengan listing di bursa.
"Lalu ketika dia publik listing, berapa persen? Jangan sampai dia hanya menjual 5% atau 7,5% kemudian itu mengalami pembentukan harga yang kuat di bursa. Kemudian yang 90% ini kemudian menjadi kepemilikan tunggal di korporasi dan dipakai profiling untuk menentukan 90%-nya," ujar Misbakhun dalam Market Outlook 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa, (3/3/2026).
Setelah itu, menurutnya emiten tersebut kemudian bisa melakukan Repo (Repurchase Agreement) untuk mendapatkan dana yang lebih besar. Jika hal tersebut terus dilakukan, maka masyarakat atau investor ritel hanya mendapatkan porsi kecil, meski keuntungan emiten meningkat.
"Ini harus dibuat lebih fair, dalam pengertiannya mengikuti protokol dimana ada negara yang masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi, kesadaran investasi tinggi. Literasi pasar modal tinggi itu mungkin bisa lebih tinggi dan ditopang oleh institusi keuangan yang bisa menggerakkan pasar modal, dapen, asuransi, instrumen lain," ungkap Misbakhun.
"Ini yang mendasari pemikiran saya, jangan sampai sudah bisa membentuk harga dan dinikmati pasar modal, tetap hanya untuk pemegang sampah mayoritas. Masyarakat harus lebih menikmati saham itu," tegasnya.
Misbakhun mengatakan industri pasar modal memiliki peran strategis bagi kelangsungan usaha hingga perekonomian nasional.
"Memahamkan ini kepada semua masyarakat yang sifatnya umum itu tidak mudah. Orang hanya melihat saham gorengan dan macam-macam. padahal secara karakteristik pembentukan harga terjadi setiap hari," ujarnya
Misbakhun memaparkan, industri pasar modal menjadi salah satu simbol wajah ekonomi Indonesia. Sebab, pasar modal merupakan cerminan deskripsi kepercayaan masyarakat dunia.
"Ketika orang membicarakan ini, menyangkut kepercayaan, kredibel, dan benar-benar mewakili Indonesia secara fundamental. Karena dalam pasar modal itu perusahaan mulai dari BUMN hingga private sector yang menjadi penggerak roda ekonomi nasional," jelasnya.
(rah/rah)
Addsource on Google

2 hours ago
10














































