Akhirnya Damai, Perang Iran Sudah Kuras Habis-habisan Amerika

4 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 June 2026 18:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran akhirnya mulai berbuah kabar baik. Washington dan Teheran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Kabar tersebut diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator dalam proses perundingan. Kesepakatan damai itu disebut akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.

Trump bahkan menyatakan seluruh poin perjanjian dengan Iran telah rampung dan siap difinalisasi. Sementara itu, Sharif menyebut pakta tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.

Meski rincian akhir belum dipublikasikan, kesepakatan ini disebut akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang selama berbulan-bulan terdampak perang. Selain itu, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan diakhiri.

Namun, di balik kabar damai tersebut, perang selama beberapa bulan terakhir meninggalkan beban besar bagi militer AS. Salah satunya adalah stok amunisi dan rudal yang terkuras cukup dalam.

Perang Iran Menguras Amunisi AS

Mengutip analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), aksi pengeboman terhadap Iran oleh militer AS dan peluncuran rudal sistem pertahanan udara AS dalam menghalau serangan balik Iran selama 3 bulan perang telah menguras persediaan sejumlah amunisi penting milik Washington.

CSIS mencatat, AS pada dasarnya masih memiliki amunisi yang cukup untuk menghadapi berbagai skenario dalam perang melawan Iran. Namun, penggunaan besar-besaran dalam konflik tersebut menciptakan celah kerentanan baru, terutama jika AS harus menghadapi konflik lain di kawasan Pasifik Barat.

Dengan kata lain, masalah utama AS bukan sekadar apakah masih punya rudal atau tidak. Masalah yang lebih besar adalah seberapa cepat Washington bisa mengisi kembali stok senjata yang sudah dipakai selama perang.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyebut proses pengisian kembali inventaris senjata akan memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung jenis sistem senjatanya. Analisis CSIS menunjukkan gambaran serupa.

Tomahawk Jadi yang Paling Banyak Dipakai

Salah satu amunisi yang paling banyak digunakan AS dalam perang melawan Iran adalah Tomahawk Land Attack Missile (TLAM). CSIS memperkirakan, AS menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk selama konflik tersebut.

USS Michael Murphy (DDG 112) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari lokasi yang tidak diketahui, saat Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap beberapa target semalam di Iran, kata militer AS pada hari Rabu, dalam gambar diam yang diperoleh dari video yang dirilis pada 10 Juni 2026. (U.S. Central Command/Handout via REUTERS)USS Michael Murphy (DDG 112) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari lokasi yang tidak diketahui, saat Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap beberapa target semalam di Iran, kata militer AS pada hari Rabu, dalam gambar diam yang diperoleh dari video yang dirilis pada 10 Juni 2026. (U.S. Central Command/Handout via REUTERS) Foto: USS Michael Murphy (DDG 112) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari lokasi yang tidak diketahui, saat Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap beberapa target semalam di Iran, kata militer AS pada hari Rabu, dalam gambar diam yang diperoleh dari video yang dirilis pada 10 Juni 2026. (via REUTERS/U.S. Central Command)

Jumlah ini sangat besar jika dibandingkan dengan kemampuan produksi tahunannya. Kapasitas produksi Tomahawk saat ini diperkirakan sekitar 600 rudal per tahun, meski target kapasitas dalam kerangka kerja industri pertahanan AS bisa mencapai 1.000 rudal per tahun.

Masalahnya, produksi tidak bisa langsung melonjak dalam waktu singkat. CSIS mencatat, dengan proyeksi pengiriman saat ini, stok Tomahawk AS baru diperkirakan kembali ke level sebelum perang pada akhir 2030 hingga awal 2031.

Artinya, untuk satu jenis rudal ini saja, AS membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima tahun untuk benar-benar mengembalikan stoknya seperti sebelum perang Iran.

Patriot dan THAAD Ikut Terkuras

Selain Tomahawk, sistem pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD juga menjadi sorotan. Dua sistem ini penting karena digunakan untuk mencegat serangan rudal dan melindungi aset militer AS maupun sekutunya.

Untuk Patriot, CSIS memperkirakan AS menggunakan sekitar 1.060 hingga 1.430 rudal selama perang. Padahal, pengiriman ke inventaris AS pada tahun fiskal 2026 hanya sekitar 172 unit.

Pemerintah AS kemudian meminta pengadaan 3.203 rudal Patriot dalam anggaran tahun fiskal 2027. Namun, pengiriman besar dari pengadaan tersebut baru diperkirakan mulai masuk pada 2029. CSIS memperkirakan stok Patriot AS baru kembali ke level sebelum perang sekitar pertengahan 2029.

Sistem pertahanan rudal Patriot AS di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan, 10 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)Sistem pertahanan rudal Patriot AS di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan, 10 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji) Foto: Sistem pertahanan rudal Patriot AS di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan, 10 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Sementara itu, untuk THAAD, AS diperkirakan menggunakan sekitar 190 hingga 290 interceptor. Angka ini juga cukup besar, mengingat kapasitas produksi tahunan saat ini diperkirakan hanya sekitar 96 unit, meski target kapasitas ke depan bisa mencapai 400 unit per tahun.

Stok THAAD AS diperkirakan baru pulih pada pertengahan hingga akhir 2029.

Penggunaan SM-3 dan SM-6

Untuk rudal pertahanan laut, CSIS menyoroti penggunaan SM-3 dan SM-6. Keduanya tidak digunakan sebanyak Tomahawk, Patriot, atau THAAD, tetapi tetap menjadi bagian penting dalam perang karena berkaitan dengan pertahanan kapal perang dan pencegatan rudal.

AS diperkirakan menggunakan sekitar 130 hingga 250 rudal SM-3 selama perang Iran. Dengan permintaan pengadaan tahun fiskal 2027 sebesar 214 unit, stok rudal ini diperkirakan kembali ke level sebelum perang pada awal 2029.

Citra satelit yang diambil pada 2 Maret 2026 menunjukkan puing-puing di sekitar radar THAAD yang menghitam di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. (Dok. Airbus via CNN Internasional)Citra satelit yang diambil pada 2 Maret 2026 menunjukkan puing-puing di sekitar radar THAAD yang menghitam di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. (Dok. Airbus via CNN Internasional) Foto: Citra satelit yang diambil pada 2 Maret 2026 menunjukkan puing-puing di sekitar radar THAAD yang menghitam di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. (Dok. Airbus via CNN Internasional)

Sementara itu, penggunaan SM-6 diperkirakan mencapai 190 hingga 370 unit. AS meminta pengadaan 540 unit dalam anggaran 2027, dengan kapasitas produksi tahunan saat ini sekitar 239 unit dan target ke depan mencapai 500 unit.

CSIS memperkirakan stok SM-6 baru pulih pada akhir 2028 hingga awal 2029.

JASSM dan PrSM

Tidak semua amunisi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diganti. CSIS mencatat dua jenis senjata, yakni JASSM dan PrSM, memiliki waktu pemulihan yang relatif lebih cepat.

Untuk JASSM, AS diperkirakan menggunakan lebih dari 1.100 rudal selama perang. Meski jumlahnya besar, stoknya diperkirakan bisa kembali ke level sebelum perang pada pertengahan 2027. Hal ini karena pengiriman dari pengadaan sebelumnya cukup besar.

Dua pesawat pengebom B-1B Angkatan Udara AS (tengah atas), empat jet tempur F-35 Angkatan Udara Korea Selatan dan empat jet tempur F-16 Angkatan Udara AS terbang di atas Semenanjung Korea Selatan selama operasi gabungan, latihan udara yang disebut Dua pesawat pengebom B-1B Angkatan Udara AS (tengah atas), empat jet tempur F-35 Angkatan Udara Korea Selatan dan empat jet tempur F-16 Angkatan Udara AS terbang di atas Semenanjung Korea Selatan selama operasi gabungan, latihan udara yang disebut "Vigilant Storm," di Korea Selatan, Sabtu (5/11/2022). Sebuah pesawat pengebom strategis B-1B milik Amerika Serikat (AS) berpartisipasi dalam latihan udara gabungan yang tengah berlangsung dengan Korea Selatan (Korsel). Keterlibatan pesawat pengebom AS itu diumumkan setelah rentetan peluncuran rudal yang dilakukan Korea Utara (Korut). (South Korean Defense Ministry via AP) Foto: Dua pesawat pengebom B-1B Angkatan Udara AS (tengah atas), empat jet tempur F-35 Angkatan Udara Korea Selatan dan empat jet tempur F-16 Angkatan Udara AS terbang di atas Semenanjung Korea Selatan selama operasi gabungan, latihan udara yang disebut "Vigilant Storm," di Korea Selatan, Sabtu (5/11/2022). Sebuah pesawat pengebom strategis B-1B milik Amerika Serikat (AS) berpartisipasi dalam latihan udara gabungan yang tengah berlangsung dengan Korea Selatan (Korsel). Keterlibatan pesawat pengebom AS itu diumumkan setelah rentetan peluncuran rudal yang dilakukan Korea Utara (Korut). (South Korean Defense Ministry via AP)

Adapun PrSM atau Precision Strike Missile diperkirakan digunakan sekitar 40 hingga 70 unit. Stoknya diproyeksikan pulih lebih cepat, yakni pada akhir 2026. Namun, CSIS memberi catatan bahwa stok awal PrSM memang masih rendah karena sistem senjata ini baru mulai diproduksi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |