Seteru Dua Wali Kota di “Jembatan Maut”

5 hours ago 2
Editorial

Seteru Dua Wali Kota di “Jembatan Maut”

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Medan tak butuh janji lagi. Medan butuh jembatan—yang kokoh, aman, dan tak memaksa anak-anak menjadi pemain sirkus di atas pipa air Tirtanadi.

SORE ITU, Rabu 15 April 2026, Mita, siswi kelas 7 SMP 34 Medan, berdiri di bibir jurang. Di depannya, Sungai Deli mengalir deras di bawah pipa biru berdiameter 50 centimeter milik PDAM Tirtanadi. Pipa itu—seharusnya mengalirkan air bersih— kini menjadi “jembatan maut” bagi puluhan pelajar di perbatasan Kelurahan Sukadamai, Medan Polonia, Maimun, dan Johor.

Mita melangkah. Sepatunya tak dilepas. Ransel di punggung, ia berjalan melenggang di atas permukaan lengkung dan licin, setinggi belasan meter dari permukaan air. Satu kali slip, ia akan tercebur ke pusaran Sungai Deli yang jorok. Tapi pilihan lain lebih menyulitkan secara ekonomi. Mita harus memutar sekitar 1,8 kilometer naik angkutan kota. Ongkos yang tak semua orang tua mampu membayar setiap hari.

Ini bukan adegan film survival. Ini Medan 2026, Bung! Kota metropolitan yang kehilangan jembatan kereta api peninggalan Belanda, sejak 2024 roboh, tapi tak pernah bangkit lagi; terlindas janji-janji politik wali kotanya.

Pada siang 16 September 2024, jembatan kereta api di Gang Damai, Kelurahan Sukadamai, Polonia, roboh. Sehari sebelumnya, lima siswa SMP 34—lokasi sekolah itu berada sekitar 600 meter dari seberang, mengenjot-enjot jembatan tua warisan kolonial Belanda yang sudah sepuh dan miring. Mereka selamat meski nyaris jadi korban pertama.

Bobby Nasution, wali kota saat itu [kini Gubernur Sumut], datang pukul 01.00 dini hari. Bukan dengan alat berat, tapi membawa janji. Warga menerima. Kata Wali Kota: akan berkoordinasi dengan PT KAI untuk perbaikan. Jembatan itu, jelas Bobby, bukan ranah Pemko.

Ironi, janji politik itu kelak terbawa arus Sungai Deli. Dua tahun berlalu, tak satu batang besi pun terpasang. Yang ada, justru 31 jembatan lain di Medan yang direnovasi Bobby—termasuk jembatan gantung di tempat lain. Tapi janji jembatan di Sukadamai tetap “membisu”. Seperti rel kereta api yang sudah tak riuh.

April 2026. Video Mita dan kawan-kawan viral di media sosial dan media pers. Wali Kota baru, Rico Tri Putra Bayu Waas, datang dan menebar janji seperti pendahulunya. “Dulu saya juga pernah lewat situ,” katanya. Pengakuan yang menghipnotis—sekaligus menggugat. Jika ia tahu bahaya itu sejak kecil, mengapa baru bertindak sekarang?

Rico meninjau lokasi. Ia berikrar tak membiarkan derita warganya itu berkepanjangan. “Pemko Medan tidak akan tinggal diam melihat terputusnya akses warga,” ujar Rico di hadapan warga Gang Damai. Janji manis yang kini menunggu bukti.

Tapi tunggu dulu—bukankah ini deja vu? Dua wali kota, dua era, satu lokasi. Yang serupa: janji. Yang beda: nama di balik meja kerja. Yang tetap dan bertahan: pipa biru yang setiap pagi menelan risiko anak-anak Medan Metropolitan.

Ironisnya, PDAM Tirtanadi—yang mestinya mengalirkan kesejahteraan—malah memasang police line dan besi sisir pasca viral, menutup akses tanpa solusi alternatif. Tak ada jejak CSR atau pendekatan manusiawi. Inilah “infrastruktur kematian” ala negara: 31 jembatan dibangun di tempat lain, tapi yang vital dibiarkan rapuh. Koordinasi dengan PT KAI jadi dalih klasik, seolah kota tak punya otoritas menyelamatkan anak-anaknya sendiri.

SMP 34 berdiri tak jauh dari situ. Setiap hari, bel berbunyi. Setiap hari, Mita dan kawan-kawan bertaruh nyawa. Garis polisi dan palang peringatan PDAM jadi hiasan. Anak-anak tetap nekat. Bukan karena tak takut, tapi karena tak ada pilihan lain yang masuk akal.

Dua wali kota, dua janji. Satu jembatan tak kunjung tersambung. Rico Waas kini memegang estafet. Ia bilang, “Saya tahu rasanya.” Tapi tahu dan bertindak adalah dua sungai yang berbeda.

Medan tak butuh janji lagi. Medan butuh jembatan—yang kokoh, yang aman, yang tak memaksa anak-anaknya menjadi pemain sirkus di atas pipa air. Sebelum nama Mita atau siapa pun menjadi berita duka di headline esok hari.

Sungai Deli tak surut mengalir, dan janji politisi—tanpa teriakan media dan netizen—biasanya tenggelam begitu saja. Tapi kali ini, semoga tidak. Di ujung pipa biru Tirtanadi itu, masa depan berjalan tegap, mencekam, menunggu. Dua wajah, dua ikrar, satu “jembatan maut”. Bobby yang berjanji, boleh jadi Rico yang akan menepati. Meski, keduanya, digosipkan tengah “berseteru”!

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |