Serangan Iran Lumpuhkan Infrastruktur Minyak Saudi, Pasokan Global Terancam

8 hours ago 5
Ekonomi

10 April 202610 April 2026

Serangan Iran Lumpuhkan Infrastruktur Minyak Saudi, Pasokan Global Terancam

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

RIYADH (Waspada.id): Stabilitas pasokan energi dunia kembali diguncang. Serangan yang dilancarkan Iran ke infrastruktur minyak vital Arab Saudi menyebabkan penurunan signifikan produksi minyak, memicu kekhawatiran krisis energi global yang semakin dalam.

Serangan tersebut menargetkan jalur pipa utama menuju Laut Merah serta sejumlah fasilitas produksi strategis milik kerajaan. Dampaknya, kapasitas produksi dan distribusi minyak Arab Saudi terpangkas dalam jumlah besar.

Laporan media pemerintah yang dikutip CNBC Internasional, Jumat (10/4/2026), menyebutkan satu stasiun pompa pada jalur pipa Timur-Barat (East-West pipeline) mengalami kerusakan parah. Jalur ini merupakan infrastruktur kunci yang mengalirkan minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke terminal ekspor Yanbu di Laut Merah.

Akibat kerusakan tersebut, kapasitas angkut minyak turun sekitar 700.000 barel per hari (bpd). Padahal, pipa dengan kapasitas total mencapai 7 juta bpd ini selama ini menjadi jalur utama ekspor Saudi, terutama setelah akses melalui Selat Hormuz terganggu akibat konflik.

Tak hanya itu, serangan juga menghantam fasilitas produksi di Manifa dan Khurais. Kedua lokasi ini dilaporkan kehilangan output hingga 600.000 bpd, memperparah tekanan terhadap pasokan energi global. Sejumlah kilang minyak lainnya juga dilaporkan terdampak.

Situasi semakin kompleks meskipun sebelumnya Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Di lapangan, jalur vital Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka.

CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Ahmed Al Jaber, menegaskan bahwa akses di selat tersebut masih dikendalikan ketat oleh Iran.

“Mari kita berterus terang: Selat Hormuz belum benar-benar terbuka. Akses masih terbatas dan bersyarat,” ujarnya melalui media sosial, Kamis (9/4/2026).

Gangguan di Selat Hormuz sendiri memiliki dampak besar terhadap pasar global. Analis dari Kpler, Matt Smith, menyebutkan bahwa hambatan distribusi di jalur tersebut telah memaksa produsen Teluk menghentikan produksi hingga 13 juta bpd. Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini.

Eskalasi ini merupakan lanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026, setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan asimetris ke kapal tanker dan fasilitas energi di kawasan Teluk.

Sebagai eksportir minyak mentah terbesar dunia, Arab Saudi kini berada dalam tekanan besar. Penutupan Selat Hormuz memaksa Riyadh mengandalkan jalur darat melalui pipa ke Laut Merah. Namun, dengan rusaknya infrastruktur utama tersebut, kemampuan Saudi dalam menjaga stabilitas pasar energi global kini berada di titik kritis.

Kondisi ini memicu kekhawatiran luas akan potensi lonjakan harga minyak dan risiko resesi global akibat terganggunya pasokan bahan bakar dalam jangka panjang. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |