Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten produsen minuman sarang burung walet, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) diramal masih bisa terbang 820% menuju Rp80.000 per lembar.
Asal tahu saja, saham RLCO sudah terbang lebihd ari 5000% sejak IPO, berhasil Auto Reject Atas (ARA) 20 kali menuju level Rp8.700 per lembar sampai penutupan 20 Januari 2026 lalu. Sayangnya, saham RLCO kini sudah tersuspen selama seminggu akibat gerak saham yang begitu liar.
Dari posisi terkini itu, saham RLCO diproyeksikan Samuel Sekuritas dalam riset terbaru-nya yang terbit 26 Januari 2026 merekomendasikan speculative buy dengan target Rp80.000 per saham, artinya ada potensial upside sampai 820% lagi.
Broker sekaligus Underwriter yang membersamai RLCO itu, optimis saham emiten burung walet tersebut bisa masuk ke jajaran konstituen MSCI Large Cap. Mereka juga menargetkan laba sepanjang 2025 melampaui perkiraan dengan pertumbuhan 15% secara tahunan (yoy).
Namun, pelaku pasar juga mulai tanda tanya, lantaran dengan target agresif itu akan membuat valuasi dan kapitalisasi pasar menggelembung luar biasa.
Kami kalkulasikan, valuasi Price to Book Value (PBV) yang kini masih di 154,11 kali, yang mana ini sudah sangat mahal, bisa membengkak jadi 1.442 kali. Sementara Price to Earning (PER) bisa lebih membludak lagi sampai lebih dari 5000 kali.
Sementara itu, kapitalisasi pasar bisa meningkat sampai Rp250 triliun, padahal saat ini masih dikisaran Rp27 triliun.
Kapitalisasi pasar sebesar itu setara setengah kali nilai valuasi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan setara dengan emiten holding PT Astra Internasional Tbk (ASII) dan PT Barito Pacifik Tbk (BRPT).
Secara bisnis memang tidak seimbang membandingkan saham BBRI, ASII, dan BRPT dengan RLCO, tetapi dengan kapitalisasi yang besar tanpa diiringi bisnis yang besar juga, perbedaan laba yang dihasilkan juga masih sangat jauh, tentu menjadi pertanyaan besar bagi investor.
Alangkah lebih baiknya, target yang agresif juga diikuti dengan pertimbangan yang realistis, supaya kita bisa meminimalisir risiko jika terjadi hal yang tidak diinginkan, mengingat saham yang sudah naik kencang, risiko terbawa turun tajam juga sangat mungkin terjadi.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

3 hours ago
1
















































