POLLING CNBC INDONESIA
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
20 January 2026 15:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertama pada 2026 yang berlangsung Selasa-Rabu (20-21 Januari 2026). Mayoritas pelaku pasar menilai BI akan kembali menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.
Pada RDG sebelumnya yang digelar pada 16-17 Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%.
Keputusan tersebut menjadi kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025. Saat itu, BI memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) sebagai bagian dari upaya mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Adapun untuk RDG Januari 2026 ini, berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi, seluruhnya kompak memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75%.
Perkiraan BI akan menahan suku bunga nya bukan tanpa alasan. Pergerakan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa waktu belakangan ini tengah mengalami pelemahan yang cukup signifikan dari dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama BI diperkirakan menahan suku bunga nya.
Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali menembus level terlemah nya sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026). Rupiah ditutup melemah 0,06% dan menembus level Rp16.945/US$ atau semakin mendekati level psikologisnya di Rp17.000/US$.
Hal ini yang akan menjadi pertimbangan utama bagi BI dalam rapat kali ini, mengingat tugas utama dari bank sentral salah satunya adalah menjaga stabilitas nilai tukar.
Tekanan rupiah yang belum mereda membuat ruang BI untuk melonggarkan kebijakan menjadi semakin sempit. Dalam kondisi mata uang yang rapuh, penurunan suku bunga berisiko mengurangi daya tarik imbal hasil aset rupiah, sehingga arus modal bisa lebih mudah keluar dan tekanan depresiasi berpotensi bertambah.
Pandangan ini juga sejalan dengan penilaian Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang.
"BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 4,75% karena perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk mendukung stabilitas nilai tukar, sekaligus memastikan transmisi pelonggaran yang sudah dilakukan sepanjang 2025 tetap berjalan," ujar Hosianna kepada CNBC Indonesia.
Senada dengan itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pasar sudah mengunci ekspektasi bahwa BI akan tetap menahan suku bunga pada RDG Januari 2026, terutama karena tekanan terhadap rupiah masih kuat.
"Peluang terbesar Bank Indonesia masih menahan BI Rate di 4,75% karena tekanan nilai tukar rupiah belum mereda dan pasar juga sudah mengarah ke skenario suku bunga tetap," ujar Josua.
Menurut Josua, dalam situasi rupiah yang mendekati level terlemah historis, BI cenderung memprioritaskan stabilitas nilai tukar agar gejolak tidak merembet ke ekspektasi inflasi dan arus modal. Di saat yang sama, BI tetap memiliki ruang menjaga likuiditas melalui pengaturan instrumen moneter agar bunga pasar uang tidak perlu naik terlalu tinggi.
Dari sisi eksternal, arah dolar AS dan suku bunga Amerika, tensi geopolitik, serta risiko perang dagang dinilai dapat mengubah arus dana ke aset aman dan menekan mata uang negara berkembang. Kondisi ini membuat ruang pelonggaran BI menjadi terbatas ketika ketidakpastian meningkat.
Sementara dari sisi domestik, pasar juga mencermati konsistensi kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan utang pemerintah. Persepsi defisit yang melebar berpotensi meningkatkan premi risiko pada aset rupiah.
Di sisi lain, BI juga akan mempertimbangkan kondisi permintaan domestik yang masih relatif kuat. Keyakinan konsumen dan penjualan ritel yang masih tumbuh membuat pelonggaran terlalu cepat saat rupiah rapuh dinilai berisiko memicu tekanan harga lewat jalur nilai tukar, terlebih menjelang Ramadan ketika ekspektasi kenaikan harga biasanya meningkat.
Namun bila tekanan rupiah dan kekhawatiran fiskal masih dominan, pemangkasan bisa mundur dan BI lebih mengandalkan bauran instrumen untuk menjaga bunga pasar uang tetap terkendali tanpa buru-buru menurunkan suku bunga acuan.
Selain faktor nilai tukar, BI juga perlu mencermati tekanan inflasi yang kembali menguat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64% secara bulanan (mtm) dan 2,92% secara tahunan (yoy).
Catatan inflasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan 2024 yang berada di level 1,57%, yang kala itu tercatat sebagai inflasi terendah sepanjang sejarah.
Tekanan inflasi yang meningkat pada 2025 terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 4,58% (yoy) dengan andil 1,33% terhadap inflasi total.
Kondisi ini membuat BI perlu lebih berhati-hati. Sebab, ketika inflasi sedang bergerak naik, pelonggaran kebijakan berisiko menambah tekanan harga melalui beberapa jalur, termasuk pelemahan nilai tukar yang dapat mendorong kenaikan harga barang impor maupun barang yang memiliki komponen impor.
Dengan kombinasi rupiah yang masih berada di bawah tekanan dan inflasi yang kembali menghangat, pasar menilai langkah paling aman bagi BI dalam RDG Januari 2026 adalah mempertahankan suku bunga acuannya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)

2 hours ago
2

















































