Jakarta, CNBC Indonesia - Harga RAM di Indonesia mengalami kenaikan sejak beberapa bulan lalu. Fenomena tersebut terjadi saat krisis chip RAM terjadi secara global.
Kenaikan harga ini terjadi saat CNBC Indonesia menemui beberapa penjual di ITC Kuningan, Jakarta. Sejumlah penjual mengaku harga DDR 4 dan DDR 5 mengalami kenaikan sejak akhir tahun lalu.
Kenaikan harganya beragam. Namun beberapa penjual mengaku DDR 5 terbaru naik hingga Rp 1 jutaan.
"RAM 4GB DDR 4 harga (normalnya) Rp 600-700 ribu kalau sekarang Rp 900 ribuan. Kalau DDR 5 yang terbaru banget RAM 16GB biasanya Rp 1,9 jutaan bisa Rp 2,9 jutaan," kata Nasrun, Selasa (20/1/2026).
Seorang pegawai toko yang ditemui di ITC juga mengatakan DDR 5 untuk 16GB sekarang dibanderol Rp 3,8 jutaan. Harganya naik sejak akhir tahun lalu.
"Naiknya dari akhir tahun semua sejutaan, terutama merek Vgen. Kalau merek Team Elite Rp 500-700 ribu," ucapnya.
Menurut para penjual, stok RAM hingga kini masih ada, namun jumlahnya memang tidak terlalu banyak dari biasanya.
Hasan, seorang penjual, juga mengatakan stok RAM masih ada. Namun para penjual takut untuk membelinya.
"Ada sedikit, orang penjual takut beli. Karena user juga takut beli ngelihat harga segitu," jelas dia.
Beberapa penjual mengaku tidak ada penurunan pembeli sejak harga RAM naik. Salah satu alasannya karena kebutuhan mendesak laptop mereka yang rusak dan solusinya dengan upgrade RAM.
"Ya kalau butuh pasti nyari lah. Kalau rusak gimana? Mau enggak mau kan, dia ngegunain laptop," ucap Hasan.
Namun ada juga sejumlah pembeli yang menukar perangkatnya dengan laptop baru. Sebab harga RAM ada yang menyentuh satu unit laptop terbaru, seperti DDR 5 32 GB harganya mencapai Rp 7-8 jutaan.
"Paling jadinya trade-in sama laptop, karena harganya enggak beda jauh," kata salah satu penjual.
Penyebab Krisis Chip Global
Terpisah, firma riset IDC memperkirakan pada semester I 2026 kesenjangan supply-demand akan makin parah sehingga memicu kelangkaan dan harga yang lebih tinggi.
"Kondisi ini diperkirakan mulai mereda pada semester II, tetapi harga akan tetap tinggi setidaknya sampai awal 2027," jelas Vanessa.
Penyebabnya antara lain pembangunan data center AI dalam jumlah besar untuk jangka pendek-menengah, serta para pemain utama memori yang telah mengalihkan ekspansi kapasitas dan investasi ke segmen hyperscale atau AI.
Permintaan chip AI yang tinggi membuat produsen memprioritaskan chip yang berkaitan dengan AI, sehingga 'mengesampingkan' produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, dan peralatan rumah tangga. Padahal, permintaan chip AI maupun chip konvensional terus-menerus meningkat.
"Secara khusus, pasokan/manufaktur memori kelas bawah seperti DDR4, yang banyak digunakan pada smartphone entry-level, terus dikurangi," jelas Vanessa.
"Sementara transisi ke DDR5 belum terjadi secara masif, dan sekalipun ada, pemasok lebih memprioritaskan untuk hyperscale/AI," imbuhnya.
Pada saat yang sama, permintaan dari sisi klien smartphone, PC, dan lainnya, serta otomotif khususnya EV, tumbuh kuat, sehingga turut mendorong permintaan memori dan storage.
Di sisi lain, imbas kenaikan harga juga bisa merembet ke pasar perangkat bekas. Untuk smartphone, kenaikan di pasar resmi dapat memicu peningkatan permintaan di pasar second, yang pada akhirnya mengerek harga.
Adapun di sektor PC dan komponen PC, dampaknya diperkirakan lebih terasa karena pasar second sudah lebih matang.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































