Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
20 January 2026 17:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta pasokan logam tanah jarang dunia masih sangat timpang. Melansir US Geological Survey (USGS) 2024 total cadangan global melampaui 90 juta ton metrik, namun produksi tahunan dunia hanya berada di kisaran 390 ribu ton. Kesenjangan ini terkonsentrasi kuat di satu negara, China.
Pada 2024, China memproduksi sekitar 270 ribu ton logam tanah jarang, lebih dari dua pertiga output global. Angka itu berjalan seiring dengan kepemilikan cadangan terbesar dunia, mencapai 44 juta ton. Struktur ini membuat China menjadi penentu ritme pasar. Dari kendaraan listrik, turbin angin, hingga sistem pertahanan, rantai pasok global masih berujung di Beijing.
Namun jika cadangan dijadikan variabel utama, lanskapnya jauh lebih kompleks. Brasil menyimpan sekitar 21 juta ton cadangan, terbesar kedua di dunia, tetapi produksi nyaris nol. India memiliki 6,9 juta ton, Rusia 3,8 juta ton, Vietnam 3,5 juta ton.
Semua berada dalam kelompok negara dengan sumber daya besar namun kontribusi produksi terbatas. Artinya, dominasi China karena sumber-sumber itu belum diaktifkan.
Di titik inilah Greenland mulai relevan. Wilayah Arktik yang secara politik berada di bawah Kerajaan Denmark ini menyimpan sekitar 1,5 juta ton cadangan logam tanah jarang.
Angka tersebut lebih besar dibandingkan Kanada atau Afrika Selatan. Meski begitu, hingga kini Greenland belum memiliki produksi komersial sama sekali.
Hambatannya bersifat struktural. Regulasi lingkungan yang ketat, keterbatasan infrastruktur, serta dinamika politik lokal membuat proyek pertambangan berjalan lambat. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah rencana tambang bahkan tertahan oleh penolakan masyarakat dan perubahan kebijakan mineral.
Meski demikian, perubahan terjadi di level global. Keamanan rantai pasok kini menjadi agenda strategis, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Logam tanah jarang tidak lagi dipandang sebagai komoditas biasa, melainkan komponen kritis industri masa depan. Dalam konteks ini, cadangan yang selama ini tidur mulai dihitung ulang nilainya.
Amerika Serikat berada di posisi menarik. Dengan cadangan sekitar 1,9 juta ton, AS hanya sedikit di atas Greenland. Namun produksinya mencapai 45 ribu ton pada 2024, menjadikannya produsen terbesar kedua dunia. Model AS menunjukkan satu hal: produksi bisa dipercepat jika faktor regulasi, teknologi, dan pembiayaan diselaraskan.
Sebaliknya, kasus Thailand dan Myanmar menunjukkan sisi lain pasar. Thailand hanya memiliki cadangan sangat kecil, sekitar 4,5 ribu ton, tetapi produksinya mencapai 13 ribu ton. Myanmar bahkan tidak tercatat memiliki cadangan resmi, namun memproduksi 31 ribu ton. Fenomena ini mengindikasikan eksploitasi endapan kecil, aktivitas lintas batas, atau perbedaan metodologi pencatatan cadangan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

3 hours ago
1

















































