Resolusi Finansial 2026, BEI Dorong Masyarakat Optimalkan Pasar Modal

2 hours ago 1
Ekonomi

20 Januari 202620 Januari 2026

Resolusi Finansial 2026, BEI Dorong Masyarakat Optimalkan Pasar Modal

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menata ulang kesehatan finansial, mulai dari kebiasaan menabung, mengurangi utang konsumtif, hingga menyiapkan dana pendidikan dan hari tua. Namun, tanpa strategi pengelolaan keuangan yang tepat, resolusi finansial kerap gagal diwujudkan.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, M. Pintor Nasution, menilai bahwa di tengah dinamika ekonomi saat ini, sekadar menabung tidak lagi cukup untuk menjaga nilai kekayaan masyarakat.

“Inflasi yang terus berjalan dapat menggerus daya beli. Uang yang hanya disimpan berisiko tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan di masa depan. Karena itu, masyarakat perlu mengelola aset secara lebih produktif dan terencana,” ujar Pintor, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, pasar modal dapat menjadi salah satu solusi finansial jangka panjang. Melalui berbagai instrumen investasi, masyarakat memiliki pilihan pengelolaan dana untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang, sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing.

“Pasar modal tidak hanya memberikan potensi pertumbuhan kekayaan, tetapi juga menjadi bentuk partisipasi nyata masyarakat dalam mendorong pertumbuhan perusahaan nasional dan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Pintor menekankan pentingnya perencanaan keuangan yang diawali dengan penetapan tujuan yang jelas. Setiap tujuan finansial memiliki karakteristik risiko dan jangka waktu berbeda, sehingga diperlukan pemilihan instrumen investasi yang tepat dan terukur.

“Investasi yang dilakukan secara konsisten dan disiplin berpotensi memberikan imbal hasil di atas inflasi, sehingga daya beli masyarakat dapat terjaga dalam jangka panjang. Inilah nilai strategis pasar modal dalam membantu pencapaian tujuan finansial,” katanya.

Memasuki 2026, tantangan ekonomi global dan domestik masih membayangi, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga akselerasi teknologi dan transformasi industri. Meski demikian, Pintor menilai kondisi tersebut justru membuka peluang bagi investor untuk berinvestasi pada perusahaan yang inovatif, resilien, dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa investasi di pasar modal bukanlah sarana mencari keuntungan instan atau spekulasi semata.

“Investasi yang sehat membutuhkan perencanaan matang, pemahaman yang memadai, serta kedisiplinan tinggi. Setiap keputusan harus disesuaikan dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi,” tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, BEI terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi pasar modal di seluruh Indonesia. Sepanjang 2025, BEI telah menyelenggarakan 29.474 kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi secara luring dan daring yang diikuti 2.820.702 peserta. Selain itu, terdapat 17.575 kegiatan edukasi virtual melalui media sosial dengan jangkauan lebih dari 24 juta audiens.

“Edukasi menjadi fondasi utama agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak dan terhindar dari penawaran investasi ilegal atau tidak masuk akal,” ujar Pintor.

Berbagai materi edukasi pasar modal dapat diakses melalui situs resmi BEI dan kanal digital resmi. BEI juga menyediakan program Sekolah Pasar Modal (SPM) yang dapat diikuti secara daring maupun luring untuk membantu masyarakat memahami dasar-dasar investasi secara praktis.

“Pada akhirnya, membangun keuangan yang sehat adalah proses jangka panjang. Dengan memanfaatkan pasar modal secara bijak, masyarakat memiliki peluang untuk membangun ketahanan finansial yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkas Pintor. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |