Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
10 September 2026 16:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tengah menyiapkan program pembukaan rekening bank secara otomatis bagi warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Program tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh masyarakat memiliki akses terhadap layanan perbankan. Pemerintah menugaskan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) untuk menjalankan program tersebut.
"Bapak Presiden meminta agar penduduk itu mempunyai rekening koran. Jadi tentu diminta untuk BRI dan juga Bank Syariah Indonesia itu mempersiapkan rekening untuk masyarakat," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Rekening akan terhubung dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).
"Begitu mereka usianya 17 tahun langsung otomatis dikasih KTP dan dikasih rekening koran," kata Airlangga dalam Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Selasa (8/9/2026).
Data kependudukan tersebut nantinya dipadankan dengan sistem Bank Indonesia (BI), terutama untuk mendukung sistem pembayaran nasional. Rekening juga direncanakan terhubung dengan sistem pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Selain menjadi sarana transaksi, rekening tersebut akan digunakan sebagai saluran penyaluran berbagai program pemerintah secara langsung.
Setiap rekening baru akan memperoleh saldo awal sebesar Rp50.000 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah memiliki kapasitas fiskal untuk membiayai program tersebut melalui pos cadangan belanja.
"Kan kita ada cadangan belanja juga. Cadangan belanja kita ada, selalu ada, dan saya lihat masih masuk," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Rencana pembukaan rekening secara massal ini akan menambah jumlah rekening perbankan di Indonesia yang saat ini telah mencapai ratusan juta. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jumlah rekening simpanan masyarakat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah Rekening Melonjak, Hampir 99% Bersaldo di Bawah Rp100 Juta
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan jumlah rekening simpanan warga Indonesia mencapai 701,5 juta rekening hingga Juli 2026.
Jumlah tersebut sekitar 2,42 kali lipat dibandingkan populasi Indonesia, yang mencapai 290,1 juta jiwa pada Semester I-2026.
Rekening simpanan juga bertambah 36 juta rekening atau 5,42% dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai 665,4 juta rekening.
Jika dibandingkan dengan 2019, jumlah rekening simpanan bertambah sekitar 399,8 juta rekening atau melonjak 132,51%. Ketika itu, jumlah rekening di Indonesia baru mencapai 301,7 juta.
Berdasarkan nilai saldonya, rekening simpanan di Indonesia sangat didominasi oleh rekening dengan saldo kurang dari Rp100 juta.
Pada Juli 2026, kelompok tersebut mencakup 98,9% dari seluruh rekening simpanan di Indonesia. Porsinya naik tipis dari 98,8% pada Oktober 2024, ketika Prabowo mulai menjabat sebagai presiden.
Sementara itu, rekening dengan saldo Rp100 juta hingga Rp200 juta tetap mencakup sekitar 0,5% dari total rekening.
Porsi rekening dengan saldo Rp200 juta hingga Rp500 juta turun dari 0,4% menjadi 0,3%. Adapun rekening dengan saldo Rp500 juta hingga Rp1 miliar serta Rp1 miliar hingga Rp2 miliar masing-masing bertahan sekitar 0,1%.
Sementara itu, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57%, sedangkan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61%.
Kedua indeks tersebut meningkat dibandingkan 2025. Saat itu, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,64%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 92,74%.
Namun, tingkat literasi dan inklusi keuangan di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan.
Indeks literasi keuangan di perkotaan mencapai 72,54%, sedangkan di perdesaan sebesar 64,42%. Sementara indeks inklusi keuangan di perkotaan mencapai 95,47%, lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang sebesar 90,39%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
1
















































