Jangan Asal Curhat ke ChatGPT, Pakar Ingatkan Bahayanya

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seperti ChatGPT, sebagai tempat mencurahkan masalah pribadi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, MPH bilang, AI dapat memberikan respons yang sesuai dengan karakter maupun keinginan penggunanya. Kondisi ini perlu diwaspadai karena respons yang diberikan belum tentu objektif.

"AI itu kan belajar, mereka menganalisis diri kita dulu. Jadi mereka kayak people pleaser. Jadi dia akan menganalisis dulu, ini dia kayak apa nih? Jadi kalau dia sifatnya kayak gini, dia akan memberikan informasi yang membuat saya senang. Itu yang membuat kita bahaya," kata Imran dalam Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Peringatan tersebut disampaikan di tengah tren masyarakat, khususnya anak muda, yang semakin sering menggunakan AI sebagai tempat bercerita karena merasa tidak dihakimi.

Imran menekankan, masyarakat juga perlu berhati-hati ketika menggunakan AI maupun perangkat digital lainnya untuk melakukan penilaian mandiri atau self-assessment terkait kondisi kesehatan mental. Hasil self-assessment, kata ia, hanya berfungsi sebagai skrining awal dan tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis seseorang.

"Begitu kita melakukan self-assessment, dengan satu set atau apa gitu ya, itu kita jangan kemudian men-judge, bahwa itu adalah diagnosisnya. Jadi tetap harus ketemu dengan psikolog, psikiater, atau dokter untuk memastikan. Jangan self-diagnose," ujarnya.

Imran mencontohkan hasil penilaian mandiri yang kemudian dianggap sebagai diagnosis justru berisiko membuat seseorang membenarkan perilaku tertentu berdasarkan label kondisi kesehatan mental yang diperolehnya.

Psikolog Annelia Sari Sani turut mengingatkan bahwa secara umum AI tidak dirancang untuk menantang atau menyanggah pemikiran penggunanya, kecuali sistem tersebut secara khusus diarahkan untuk melakukannya.

Ia bilang, karakter tersebut menjadi persoalan ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan menjadikan AI sebagai satu-satunya tempat mencari jawaban.

Annelia mengatakan, terdapat penelitian di luar negeri yang mengaitkan penggunaan AI dengan risiko sugesti terhadap perilaku bunuh diri. Namun, ia menekankan temuan yang dirujuk tersebut berasal dari luar Indonesia.

Sementara itu, Dr. Sandersan Onie, BPsychSci (Hons), Ph.D menilai persoalan AI juga terletak pada kecenderungannya memberikan jawaban dengan cepat, tetapi belum tentu benar.

"Seringkali AI memberikan kita jawaban yang cepat. Tapi tidak tentu memberikan jawaban yang benar. Dan masalah dengan AI itu kata-katanya manis sekali," katanya.

Oleh sebab itu, masyarakat yang mengalami persoalan kesehatan mental tetap disarankan mencari bantuan dari tenaga profesional, seperti psikolog, psikiater, maupun dokter, terutama ketika membutuhkan diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |