Porto Orang Ini Naik 54x dalam 15 Bulan Lalu Ambruk, Gini Ceritanya

13 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

02 August 2026 14:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Leopold Aschenbrenner sempat menjadi buah bibir di Silicon Valley dan Wall Street. Mantan peneliti OpenAI ini dianggap mampu melihat masa depan kecerdasan buatan lebih cepat daripada kebanyakan investor.

Hedge fund AI miliknya, Situational Awareness, bahkan berkembang dari pemain baru dengan portofolio ratusan juta dolar menjadi pengelola eksposur investasi bernilai puluhan miliar dolar.

Namun, penggunaan leverage besar membuat pertumbuhan itu berakhir dramatis. Situational Awareness dilaporkan sempat memiliki aset dan eksposur hingga US$45 miliar atau sekitar Rp810 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Dalam hitungan hari, nilainya menyusut menjadi sekitar US$10 miliar setelah fund tersebut terpaksa menjual portofolio saham publik berleveragenya. Citadel milik miliarder Ken Griffin kemudian masuk sebagai pembeli dengan harga diskon, menurut laporan CNBC Internasional.

Angka tersebut merujuk pada aset atau holdings yang dilaporkan CNBC Internasional. Nilai US$35 miliar yang menyusut bukan seluruhnya uang tunai investor, tetapi juga mencerminkan penurunan harga pasar, pengurangan posisi dan eksposur yang sebelumnya dibangun menggunakan utang.

Situational Awareness dilaporkan menggunakan leverage hingga sekitar 400%. Leverage membuat keuntungan melonjak saat pasar naik, tetapi memperbesar kerugian ketika harga saham bergerak turun.

Bukan Perusahaannya yang Diambil Ken Griffin

Ken Griffin dan Citadel tidak mengambil alih perusahaan Situational Awareness.

Citadel tidak membeli nama perusahaan, tim pengelola, kontrak investor ataupun seluruh asetnya. Perusahaan tersebut membeli portofolio saham publik yang harus dilepas Situational Awareness untuk memenuhi margin call dan mengurangi utang.

Saat ini portofolio ekuitas publik Situational Awareness dijual kepada Citadel di tengah tekanan terhadap saham semikonduktor dan perusahaan AI.

Situational Awareness masih mempertahankan investasi privatnya, terutama kepemilikan bernilai miliaran dolar di Anthropic. Dengan demikian, Citadel memborong aset yang terpaksa dijual, bukan mengambil alih hedge fund tersebut.

Dari OpenAI Menjadi Pengelola Dana AI

Aschenbrenner memiliki latar belakang yang tidak lazim bagi pengelola investasi puluhan miliar dolar.

Pria kelahiran Jerman itu menyelesaikan sekolah menengah atas pada usia 15 tahun. Ia kemudian belajar ekonomi serta matematika-statistika di Columbia University dan lulus sebagai valedictorian pada 2021.

Aschenbrenner sempat bekerja di Future Fund, lembaga filantropi milik perusahaan kripto FTX. Pada 2023, ia bergabung dengan tim Superalignment OpenAI untuk mempelajari cara mengendalikan sistem AI yang kecerdasannya dapat melampaui manusia.

Kariernya di OpenAI berakhir pada 2024 akibat dugaan pembagian informasi internal secara tidak semestinya. Aschenbrenner membantah karakterisasi tersebut dan mengatakan dirinya sedang menyampaikan kekhawatiran mengenai keamanan internal OpenAI.

Beberapa pekan kemudian, ia menerbitkan manifesto sepanjang 165 halaman berjudul Situational Awareness: The Decade Ahead.

Dalam tulisan tersebut, Aschenbrenner memperkirakan artificial general intelligence atau AGI dapat hadir sekitar 2027. Ia juga memprediksi perusahaan teknologi akan menghabiskan triliunan dolar untuk membangun pusat data, pembangkit listrik dan chip AI.

Popularitas tulisan itu membantunya mengumpulkan modal. Pada Juli 2024, ia mendirikan hedge fund Situational Awareness dengan dana awal sekitar US$225 juta dari sejumlah tokoh teknologi, termasuk pendiri Stripe Patrick dan John Collison, mantan CEO GitHub Nat Friedman serta investor Daniel Gross.

Portofolio 13F Naik Hampir 54 Kali Lipat

Dokumen SEC memperlihatkan seberapa agresif Situational Awareness memperbesar portofolionya.

Namun, nilai 13F tidak boleh langsung disebut AUM. Laporan tersebut hanya mencakup efek tertentu yang diperdagangkan di Amerika Serikat. Posisi short, kas, utang, sejumlah saham asing dan investasi privat seperti Anthropic tidak terlihat secara lengkap.

Berdasarkan filing SEC, nilai portofolio yang dilaporkan naik dari US$254,8 juta pada akhir 2024 menjadi US$13,68 miliar pada Maret 2026. Artinya, eksposur 13F berkembang sekitar 53,7 kali lipat atau 5.267%.

Pertumbuhan tercepat terjadi pada Q1 2025, ketika nilai portofolio hampir naik empat kali lipat. Setelah tumbuh lebih dari 90% selama dua kuartal berikutnya, ekspansi melambat pada akhir 2025 sebelum kembali melonjak 147,9% pada Q1 2026.

Lonjakan Terakhir Didominasi Opsi Put

Lonjakan nilai 13F pada Q1 2026 tidak sepenuhnya berasal dari pembelian saham biasa atau masuknya uang investor baru.

Nilai saham biasa justru turun sekitar 1,5% dibandingkan Q4 2025. Sebaliknya, nilai efek yang terkait dengan opsi put melonjak dari sekitar US$8,9 juta menjadi US$8,46 miliar.

Posisi tersebut mencakup put terhadap ETF semikonduktor VanEck serta perusahaan seperti Nvidia, Oracle, Broadcom, AMD, Micron, TSMC dan ASML.

Karena itu, kenaikan total sebesar 147,9% tidak dapat disimpulkan sebagai pertumbuhan AUM sebesar persentase yang sama. Nilai pelaporan opsi juga tidak identik dengan uang tunai yang dikeluarkan untuk membeli kontraknya.

Berapa Nilai Q2 2026?

Nilai 13F Q2 2026 belum tersedia per 2 Agustus 2026. Filing yang menggambarkan posisi pada 30 Juni baru jatuh tempo sekitar pertengahan Agustus.

Angka US$45 miliar yang dilaporkan CNBC juga bukan nilai resmi 13F Q2. Angka itu merupakan estimasi aset atau eksposur bruto Situational Awareness pada awal Juli, setelah memperhitungkan posisi di luar cakupan laporan 13F.

Dengan demikian, perbandingan langsung antara US$13,68 miliar pada Q1 dan US$45 miliar pada awal Juli dapat menyesatkan karena keduanya menggunakan cakupan pengukuran berbeda.

Penjualan kepada Citadel terjadi pada akhir Juli. Artinya, filing Q2 kemungkinan masih memperlihatkan portofolio sebelum pembongkaran besar. Dampak penjualan tersebut baru akan terlihat lebih jelas dalam laporan Q3 2026.

Margin Call Mengakhiri Pertumbuhan

Masalah muncul ketika saham semikonduktor, memori dan penyedia komputasi AI berbalik turun. SK Hynix dan CoreWeave termasuk nama yang dilaporkan terpukul.

Karena sebagian posisi dibiayai utang, penurunan harga memperkecil nilai jaminan yang ditempatkan kepada bank. Situational Awareness pun diminta menambah modal atau mengurangi posisi.

Fund itu sempat mencari dana baru dan berhubungan dengan Bank of America, Goldman Sachs serta JPMorgan Chase. Namun, tekanan pasar bergerak lebih cepat. Portofolio saham publik berleveragenya akhirnya dijual kepada Citadel. Millennium Management juga dilaporkan sempat mengajukan penawaran.

Kata Mantan Rekan Kerjanya

CNBC tidak memperoleh komentar terbuka dari pegawai Situational Awareness yang masih aktif. Namun, media tersebut mewawancarai mantan kolega dan orang-orang yang mengenal Aschenbrenner.

Scott Aaronson, ilmuwan komputer yang pernah bekerja di OpenAI, mengatakan Aschenbrenner tampaknya sedang mencoba melakukan hal benar ketika menyuarakan kekhawatiran mengenai keamanan perusahaan.

Sofia Montrone, teman seangkatannya di Columbia, menggambarkan Aschenbrenner sebagai pribadi sangat cerdas, tetapi canggung secara sosial.

Sementara itu, praktisi Wall Street Jerry Diao mengatakan kehancuran tersebut bukan persoalan "apakah", melainkan "kapan". Menurutnya, prediksi Aschenbrenner mengenai AI mungkin benar dalam jangka panjang, tetapi investor tetap harus mampu bertahan menghadapi pergerakan pasar jangka pendek.

Itulah ironi terbesar kasus ini. Situational Awareness mungkin mampu melihat masa depan AI, tetapi penggunaan leverage membuatnya kehabisan waktu sebelum ramalan tersebut menjadi kenyataan.

(gls/luc)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |