Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
11 June 2026 19:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Piala Dunia 2026 akan menghadirkan 48 negara, 104 pertandingan, dan 16 kota tuan rumah yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko.
Besarnya skala turnamen membuat perhatian tidak hanya tertuju pada stadion dan transportasi. Infrastruktur energi ikut masuk dalam daftar prioritas utama menjelang kick-off pada Selasa waktu setempat atau Rabu dini hari waktu Indonesia (11-12/6/2026).
Houston menjadi salah satu contoh paling nyata. Kota di negara bagian Texas tersebut akan menjadi tuan rumah tujuh pertandingan antara 14 Juni hingga 4 Juli.
Melansir Click2Houston, perusahaan utilitas CenterPoint Energy telah menghabiskan lebih dari satu tahun untuk memperkuat jaringan listrik dan gas alam di sekitar lokasi penyelenggaraan. Hampir 700 proyek ketahanan listrik dikerjakan di lebih dari 100 mil jaringan distribusi yang melayani stadion, bandara, hotel, jalur transportasi, hingga kawasan fan zone.
Persiapan tersebut dilakukan karena Piala Dunia datang pada periode yang sensitif bagi Texas. Musim panas merupakan masa ketika konsumsi listrik mencapai puncaknya akibat penggunaan pendingin udara.
Operator sistem listrik Texas, ERCOT, memperkirakan kebutuhan listrik negara bagian tersebut dapat menembus 90.000 megawatt (MW) pada musim panas tahun ini.
Menurut CenterPoint Energy, seluruh sirkuit utama dan cadangan yang memasok listrik ke lokasi prioritas telah diperiksa. Peralatan yang dianggap berisiko diganti atau diperbaiki. Perusahaan juga menyiapkan pusat operasi darurat yang akan aktif sebelum, selama, dan setelah pertandingan berlangsung.
Melansir BKV Energy, tambahan kebutuhan listrik di kawasan NRG Park selama penyelenggaraan pertandingan diperkirakan mencapai 13-15 MW atau setara konsumsi sekitar 3.000 hingga 5.000 rumah tangga. Angka tersebut tidak terlalu besar bagi sistem kelistrikan Texas secara keseluruhan.
Tantangan yang lebih besar berada di sekitar stadion, kawasan hiburan, hotel, restoran, dan lokasi nonton bersama yang diperkirakan dipadati pengunjung dari berbagai negara.
Kebutuhan energi memang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini. Melansir Sustainability Group Research (SGR), emisi yang dihasilkan turnamen diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton setara karbon dioksida. Angka tersebut hampir dua kali lipat rata-rata Piala Dunia yang berlangsung pada periode 2010-2022.
Salah satu penyebabnya adalah format baru yang memperbesar jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara. Penambahan jumlah pertandingan membuat mobilitas pemain, ofisial, media, dan suporter meningkat tajam. Perjalanan udara diperkirakan menjadi sumber emisi terbesar sepanjang turnamen berlangsung.
Meski demikian, penyelenggara berupaya menekan penggunaan energi dari sektor lain.
Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya yang banyak mengandalkan pembangunan stadion baru, mayoritas pertandingan tahun ini menggunakan fasilitas yang sudah ada. Pendekatan tersebut mengurangi kebutuhan konstruksi baru yang biasanya membutuhkan energi dan material dalam jumlah besar.
Atlanta menjadi salah satu contoh yang sering disebut dalam pembahasan energi Piala Dunia 2026. Stadion Mercedes-Benz yang akan menggelar delapan pertandingan termasuk semifinal memiliki lebih dari 4.000 panel surya. Melansir laporan resmi stadion, fasilitas tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,6 juta kilowatt jam listrik per tahun. Desain bangunan yang lebih efisien juga memangkas konsumsi listrik sekitar 29% dibanding rancangan konvensional.
Houston mengambil jalur berbeda. Komite tuan rumah setempat berkomitmen memasok seluruh lokasi utama turnamen dengan listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan. NRG Stadium yang menjadi arena pertandingan termasuk dalam cakupan program tersebut. Komitmen ini menarik perhatian karena Houston selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat industri minyak dan gas Amerika Serikat.
Transformasi energi yang menyertai Piala Dunia juga terlihat dari berbagai upaya menjaga stabilitas sistem listrik.
Di Inggris, operator jaringan listrik NESO memperkirakan pertandingan yang melibatkan Inggris atau Skotlandia dapat memicu lonjakan konsumsi hingga 600 MW.
Pada pertandingan tertentu, kenaikannya bahkan diperkirakan mencapai 800 MW. Untuk menghadapi perubahan konsumsi yang terjadi dalam hitungan menit, operator mulai mengandalkan baterai penyimpanan energi dan teknologi penyeimbang jaringan.
Perkembangan tersebut memberi gambaran mengenai perubahan yang sedang berlangsung di sektor energi global. Fokus industri kini tidak lagi terbatas pada pembangunan pembangkit listrik. Kapasitas penyimpanan energi, ketahanan jaringan distribusi, efisiensi bangunan, hingga kemampuan mengelola lonjakan konsumsi menjadi bagian dari persiapan acara olahraga terbesar di dunia.
FIFA saat ini memiliki kemitraan dengan Saudi Aramco sebagai mitra energi eksklusif. Melansir berbagai laporan internasional, kontrak kerja sama tersebut bernilai sekitar US$100 juta per tahun. Di saat kota-kota tuan rumah berlomba memperbesar penggunaan energi bersih, industri minyak tetap menjadi salah satu sumber pendanaan terbesar dalam ekosistem sepak bola global.
jauh sebelum peluit pertama dibunyikan, pekerjaan besar sudah berlangsung di balik layar. Ribuan teknisi, operator jaringan, perusahaan utilitas, dan pengembang energi sedang memastikan turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dapat berjalan tanpa gangguan pasokan listrik.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

5 hours ago
3

















































