Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China masih terus berlanjut. Meskipun AS melunak dalam urusan ekspor chip canggih ke China, tetapi pemblokiran teknologi dari Negeri Tirai Bambu masih digenjot.
Laporan The Wall Street Journal menyebut para produsen otomotif berlomba-lomba 'menyapu bersih' kode berbahasa Mandarin dari kendaraan terkoneksi internet. Hal ini menyusul pemberlakuan regulasi keamanan nasional AS.
Mulai 17 Maret 2026, produsen mobil harus mengonfirmasi bahwa sistem inti kendaraan terkoneksi internet yang diproduksi tidak memuat komponen software yang dikembangkan di China atau perusahaan asal China, dikutip dari Autoblog, Senin (9/2/2025).
Aturan baru ini menargetkan fitur-fitur terkoneksi cloud, meliputi kamera, mikrofon, sistem GPS, software pembantu pengemudian canggih (advanced driver-assistance), serta telematika. Pembatasan lebih lanjut untuk hardware terkait komponen terkoneksi internet akan menyusul pada 2029 mendatang.
Regulasi yang dikeluarkan Biro Industri dan Keamanan Kementerian Perdagangan AS disebut oleh pemimpin industri sebagai tantangan kepatuhan regulasi paling kompleks dalam beberapa dekade terakhir.
Para produsen mobil harus melakukan audit mendalam dan bersusun untuk mendeteksi asal rantai pasok software mereka, baik dari lapisan sub-kontraktor, hingga perusahaan gabungan.
Meskipun asal-muasal semikonduktor kritis bisa dideteksi, tetapi kode yang tersemat lebih sulit untuk ditelusuri. Beberapa pengecualian mungkin diberikan, dan kode China yang dialihkan ke kepemilikan non-China sebelum batas waktu tetap diperbolehkan, yang memicu restrukturisasi di seluruh basis pemasok.
Implikasi aturan ini untuk manufaktur berbasis AS cukup signifikan. Banyak kendaraan asal AS yang bergantung pada pengembangan dari China, misalnya untuk modul konektivitas, serta lapisan integrasi cloud.
Penggantian hardware memang sulit tetapi masih bisa dilakukan, sementara penggantian software jauh lebih kompleks. Kode otomotif biasanya dibuat khusus, terintegrasi erat ke dalam arsitektur kendaraan, dan mahal untuk ditulis ulang atau divalidasi. Batas waktu kepatuhan menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan.
Kemitraan potensial juga bisa terdampak regulasi baru ini. Ford Motor Company dilaporkan telah berdiskusi dengan BYD asal China terkait teknologi hibrida generasi selanjutnya. Kolaborasi ini bisa terhambat gara-gara regulasi baru pemerintah AS.
Sementara itu, General Motors tampaknya sudah mengantisipasi perubahan yang ada. Perusahaan telah menginstruksikan para pemasok untuk menghindari komponen-komponen buatan China mulai 2027.
Namun, tetap saja, melepaskan ketergantungan terhadap software China saat ini bisa memunculkan tantangan teknis, ketimbang pemisahan sumber komponen-komponen fisik.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3
















































