Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
02 August 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Big Mac di Indonesia tercatat sebagai yang paling murah dari 19 pasar yang ditampilkan dalam pembaruan Big Mac Index Juli 2026.
Setelah dikonversikan menggunakan kurs pasar, harga satu Big Mac di Indonesia hanya sekitar US$2,38. Angka tersebut jauh di bawah harga burger serupa di Amerika Serikat yang mencapai US$6,22.
Perbandingan itu menunjukkan harga Big Mac Indonesia sekitar 61,7% lebih murah daripada AS. Berdasarkan pendekatan mentah Big Mac Index, rupiah dapat dikategorikan undervalued hampir 62% terhadap dolar AS.
Harga di Indonesia sedikit lebih murah dibandingkan Taiwan dan India, yang masing-masing mencatat harga sebesar US$2,42 dan US$2,45.
Franc Swiss Paling Mahal
Swiss berada di ujung berlawanan. Harga Big Mac di negara tersebut mencapai 7,30 franc Swiss atau setara US$9,04.
Dengan harga acuan AS sebesar US$6,22, kurs berdasarkan daya beli Big Mac seharusnya sekitar 1,17 franc per dolar. Kurs pasar ketika survei dilakukan hanya sekitar 0,81 franc per dolar.
Perbedaan tersebut membuat franc Swiss dinilai overvalued sekitar 45%. Taiwan dan Indonesia menunjukkan kondisi sebaliknya karena harga burger dalam dolar jauh lebih murah.
Perhitungan ini menggunakan prinsip paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP). Secara teori, produk identik seharusnya memiliki harga relatif sama setelah dikonversikan ke mata uang yang sama.
Dalam praktiknya, harga tetap dapat berbeda karena tingkat upah, sewa, pajak, aturan pangan dan persaingan di setiap negara.
Harga AS Kembali Menjauh dari Dunia
Big Mac Index pertama kali diperkenalkan pada 1986 sebagai cara sederhana untuk menjelaskan PPP. Selama dekade pertama 2000-an, harga Big Mac di AS dan rata-rata global sempat semakin mendekat.
Namun, perbedaannya kembali melebar sejak sekitar 2010. Pada 2026, harga Big Mac AS mencapai US$6,22, sedangkan rata-rata global yang dibobot berdasarkan ukuran ekonomi berada di kisaran US$4,9.
Dengan demikian, harga rata-rata global masih sekitar 21% lebih murah dibandingkan AS. Inflasi Amerika setelah 2021 menjadi salah satu penyebabnya. Faktor lain datang dari semakin besarnya bobot negara berkembang yang memiliki tingkat harga lebih rendah.
Ketidakseimbangan Mata Uang Kembali Tinggi
Pelebaran harga burger juga diikuti peningkatan ketidakseimbangan mata uang dunia.
Pada 2026, rata-rata deviasi kurs terhadap nilai yang tersirat oleh PPP mencapai sekitar 44 log points. Level tersebut menjadi salah satu yang tertinggi sejak pertengahan 1990-an.
Kondisi ini antara lain dipengaruhi inflasi AS, yuan China yang relatif murah, serta pelemahan yen Jepang. Harga Big Mac di Jepang kini berada di sekitar US$3,08, atau sekitar 21% lebih murah dibandingkan China yang mencapai US$3,91.
Ukuran log points digunakan agar kondisi mata uang yang terlalu mahal dan terlalu murah dapat dibandingkan secara seimbang. Karena itu, angka 44 log points tidak dapat dibaca langsung sebagai misalignment sebesar 44%.
Kenapa Harga Burger Berbeda Jauh?
Big Mac dapat digunakan sebagai pembanding karena komposisinya relatif seragam. Namun, harga akhirnya tidak hanya ditentukan oleh daging, roti dan keju.
Harga burger juga mencerminkan biaya tenaga kerja, sewa restoran, listrik, transportasi dan aturan pangan. Berdasarkan estimasi rata-rata dari 34 negara, tenaga kerja menjadi komponen terbesar.
Biaya tenaga kerja di Swiss tercatat lebih dari dua kali Taiwan, sementara biaya sewanya lebih dari tiga kali lipat. Harga daging sapi Swiss juga sekitar 2,7 kali lebih mahal.
Sebaliknya, bahan yang mudah diperdagangkan antarnegara cenderung memiliki perbedaan harga lebih kecil. Karena itu, upah dan biaya jasa lokal menjadi penentu utama mahal atau murahnya Big Mac.
Kenapa Negara Berkembang Terlihat Murah?
Negara berkembang hampir selalu terlihat undervalued dalam indeks mentah. Salah satu penyebabnya adalah tingkat upah dan produktivitas yang lebih rendah dibandingkan negara maju.
Untuk memperhitungkan perbedaan tersebut, sejak 2011 tersedia indeks yang disesuaikan dengan PDB per kapita. Indeks ini menilai apakah suatu mata uang masih terlalu murah setelah tingkat pembangunan ekonominya diperhitungkan.
Peru menjadi salah satu contoh. Sol Peru terlihat undervalued sekitar 20% dalam indeks mentah, tetapi mendekati nilai wajar setelah disesuaikan dengan pendapatan per kapita.
Prinsip yang sama berlaku bagi Indonesia. Sebagian murahnya harga Big Mac mencerminkan biaya hidup dan upah domestik, bukan semata-mata kesalahan nilai tukar.
Bukan Sinyal Rupiah Langsung Menguat
Angka undervaluasi 61,7% tidak berarti rupiah seharusnya langsung menguat dalam persentase yang sama.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi inflasi, suku bunga Bank Indonesia, kebijakan moneter AS, neraca perdagangan, arus modal dan risiko global.
Mata uang yang dinilai murah juga dapat bertahan murah selama bertahun-tahun. Dolar Taiwan, misalnya, belum pernah masuk kategori overvalued dalam sekitar 25 tahun terakhir. Sebaliknya, franc Swiss tidak pernah tercatat undervalued.
Big Mac Index lebih tepat digunakan untuk memahami perbedaan tingkat harga dan daya beli, bukan sebagai satu-satunya dasar mengambil keputusan investasi.
Big Mac Index 2026 menunjukkan bahwa tingkat harga Indonesia masih sangat rendah dibandingkan AS dan negara maju lainnya. Posisi tersebut membuat rupiah terlihat sangat murah berdasarkan kemampuan membeli burger.
Namun, rendahnya upah, biaya sewa dan tingkat pendapatan turut menjelaskan perbedaan tersebut. Oleh karena itu, hasil indeks perlu dikombinasikan dengan indikator ekonomi yang lebih luas sebelum digunakan untuk membaca prospek rupiah.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

7 hours ago
4

















































