Anggota DPRD Sumatera Utara Fraksi PKS, Ahmad Darwis. Waspada.id/ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id) — Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan 2026 dinilai membutuhkan kesiapan teknis dan perencanaan yang matang agar manfaatnya tetap optimal bagi kelompok rentan. Anggota DPRD Sumatera Utara Fraksi PKS, Ahmad Darwis, menegaskan bahwa keberlanjutan program tersebut harus diiringi dengan strategi distribusi yang tepat.
Menurut Darwis, Ramadhan yang diperkirakan berlangsung pada Februari 2026 membawa tantangan tersendiri, khususnya dalam penyesuaian waktu pembagian dan daya tahan makanan. Namun, tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan terhentinya layanan pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga kurang mampu.
“Yang dibutuhkan adalah kesiapan sistem. Pola distribusi, jadwal pembagian, hingga jenis makanan harus disesuaikan dengan kondisi puasa, tanpa mengurangi kualitas gizi,” ujar Darwis, Minggu (19/1).
Ia mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang memastikan MBG tetap berjalan selama Ramadhan dengan penyesuaian menu berupa makanan siap saji yang aman dikonsumsi saat berbuka maupun sahur. Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesinambungan program kesehatan nasional.
Darwis menyebutkan terdapat dua opsi pelaksanaan MBG selama Ramadhan, yakni pembagian paket berbuka puasa dan paket sahur. Skema berbuka dinilai lebih mudah diterapkan karena distribusi dapat dilakukan menjelang Maghrib dan menjangkau lebih banyak penerima. Sementara itu, skema sahur memerlukan dukungan logistik dan relawan yang lebih besar.
“Distribusi sahur harus direncanakan lebih detail, terutama dari sisi waktu dan tenaga. Jika belum siap, paket berbuka bisa menjadi opsi utama tanpa mengurangi tujuan program,” katanya.
Selain itu, Darwis menekankan pentingnya pengawasan agar paket MBG benar-benar diterima kelompok sasaran. Menurutnya, akurasi data penerima menjadi kunci untuk mencegah tumpang tindih dan memastikan program tepat guna.
Lebih lanjut, ia menilai keberhasilan MBG selama Ramadhan tidak hanya diukur dari jumlah paket yang dibagikan, tetapi dari dampaknya dalam mencegah stunting dan malnutrisi, khususnya pada ibu hamil dan balita yang membutuhkan asupan gizi stabil.
“Ramadhan justru menjadi ujian apakah negara hadir dalam kondisi khusus. Dengan perencanaan yang matang, MBG tetap bisa berjalan efektif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (Id23)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































