Perang Mereda, IHSG-Rupiah Malah Dikepung 7 Ancaman Baru Pekan Ini

1 day ago 4
  • Pasar keuangan RI ditutup kompak pada zona penguatan baik IHSG, Rupiah, maupun yield SBN.
  • Wall Street ditutup kompak menguat pasca IPO SpaceX.
  • Rilis data ekonomi, pengumuman suku bunga BI dan teh Fed dan kelanjutan rencana perdamaian perang menjadi penggerak utama pasar pada pekan ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (12/6/2026). Rupiah, yield Surat Berharga Negara (SBN), dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa waktu terakhir

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi sedikit tekanan pada hari in dan sepanjang pekan ke depan di tengah banyaknya pengumuman penting pekan ini.  Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,07% ke level 6.007,62 pada akhir perdagangan Jumat (12/6/2026).

Sebanyak 645 saham naik, 116 saham melemah dan 198 saham stagnan. Frekuensi transaksi terjadi sebanyak 2,40 juta kali, dengan volume perdagangan mencapai 37,47 miliar lembar, senilai Rp 21,68 triliun.

IHSG sendiri dibuka menguat pada perdagangan Jumat (12/6/2026), kembali ke zona hijau setelah perdagangan sebelumnya mengalami koreksi.

Asing akhirnya mencatat net buy sebesar  Rp287,84 miliar setelah beberapa hari perdagangan terakhir bursa selalu ditutup pada net foreign outflow.

Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat, dengan hanya sektor kesehatan dan teknologi yang melemah. Adapun penguatan tertinggi dibukukan oleh sektor barang baku, energi, konsumer primer, konsumer non-primer dan industri.

Lanjut ke mata uang garuda, Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau. Mata uang Garuda menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (12/6/2026), di tengah berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi 0,61% ke posisi Rp17.865/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$ dan mulai mendekati area Rp17.800/US$.

Penguatan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan.  Rupiah dibuka menguat 0,42% ke level Rp17.900/US$. Meski demikian, pergerakan rupiah tidak sepenuhnya mulus karena sempat melemah ke Rp17.965/US$ sebelum akhirnya kembali menguat hingga penutupan perdagangan.

Penguatan rupiah terjadi seiring melemahnya dolar AS di pasar global. Koreksi greenback membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Penguatan rupiah juga terjadi di tengah berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Meski demikian, tekanan dari faktor domestik tersebut belum mampu menahan penguatan rupiah pada perdagangan Jumat.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun kembali mengalami penguatan secara signifikan ke level 7,165%, menguat dari hari sebelumnya yang ditutup di level 7,442%.

Penurunan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa kepercayaan dari investor domestik maupun asing mulai kembali ke pasar obligasi tanah air setelah mengalami penjualan secara ekstrem pada pekan lalu hingga mencapai 7,479% pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |