Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan

2 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan rudal yang menghantam ibu kota dan kota-kota besar Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah mengguncang citra kawasan itu sebagai oase stabilitas di tengah Timur Tengah yang kerap dilanda konflik.

Kini, negara-negara Teluk menghadapi pilihan yang disebut para analis sebagai mustahil, yakni membalas dan berisiko dipersepsikan berperang bersama Israel, atau tetap pasif saat kota-kota mereka terbakar.

Hingga saat ini, suara-suara dari dalam kawasan menyerukan penahanan diri. Mereka memperingatkan bahwa negara-negara Teluk tidak boleh terseret ke dalam perang yang tidak mereka inginkan dan tidak mereka anggap sebagai perang mereka.

Mantan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, dalam unggahan di platform X menegaskan bahwa negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) "tidak boleh terseret ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran", meskipun Teheran "melanggar kedaulatan negara-negara anggota Dewan dan merupakan pihak agresor".

"Ada kekuatan yang menginginkan negara-negara anggota Dewan terlibat langsung dengan Iran," tulis Sheikh Hamad, dilansir Al Jazeera, Senin (2/3/2026).

"Namun, bentrokan langsung antara negara-negara anggota Dewan dan Iran, jika terjadi, akan menguras sumber daya kedua belah pihak dan memberikan kesempatan bagi banyak kekuatan untuk mengendalikan kita dengan dalih membantu kita keluar dari krisis."

Ia mendesak negara-negara GCC bertindak sebagai satu tangan yang bersatu dalam menghadapi setiap agresi, sambil menghindari risiko "dihabisi satu per satu".

Pandangan tersebut mencerminkan sentimen yang lebih luas di kawasan bahwa konflik ini bukan milik mereka.

Serangan dan Balasan

Serangan Iran terjadi sebagai balasan atas gempuran besar-besaran gabungan AS-Israel yang dimulai Sabtu. Operasi itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin militer senior, serta menghantam lokasi militer dan pemerintahan di seluruh Iran. Sebuah sekolah juga terkena serangan, dan sedikitnya 148 orang tewas dalam satu serangan tersebut saja.

Teheran kemudian membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset militer AS di seluruh kawasan Teluk. Sedikitnya tiga orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA), dengan setidaknya 58 orang terluka hingga Minggu malam.

Rudal berikut puing-puingnya setelah dicegat, menghantam bangunan ikonik dan bandara di Dubai, gedung-gedung tinggi di Manama, serta bandara Kuwait. Asap juga terlihat membubung dari beberapa lingkungan di Doha.

Arab Saudi menyatakan Iran juga menyerang Riyadh dan wilayah timurnya. Qatar melaporkan 16 orang terluka di wilayahnya, sementara lima orang terluka di Oman, 32 di Kuwait, dan empat di Bahrain.

UEA bahkan menarik duta besarnya untuk Israel, sinyal tegas atas frustrasi negara-negara Teluk terhadap arah eskalasi konflik.

Perang yang Berusaha Dihentikan

Negara-negara Teluk disebut tidak menginginkan konfrontasi ini. Dalam beberapa pekan sebelum serangan, Oman memediasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, bahkan menyatakan perdamaian sudah "dalam jangkauan" setelah Iran sepakat tidak akan menimbun uranium yang diperkaya dan akan mengencerkan secara drastis cadangan yang ada.

Namun hanya beberapa jam kemudian, AS dan Israel meluncurkan rudal.

Al-Mudahka mempertanyakan mengapa perang meningkat ketika Oman telah mengamankan kesepakatan yang ia sebut "lebih baik dari kesepakatan Obama". Ia mengatakan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, telah melobi Washington secara intensif agar tidak menggunakan pangkalan di Teluk untuk operasi melawan Iran.

Ia juga mengkritik respons Iran, menyebut Teheran berada dalam "mode panik" setelah kehilangan kepemimpinannya. Menurutnya, dalih Iran bahwa mereka menargetkan pangkalan AS, bukan negara tuan rumah, menunjukkan "kurangnya pemahaman tentang hubungan internasional".

Al-Mudahka menyatakan yakin GCC akan tetap teguh menolak penggunaan wilayah udara mereka untuk operasi AS atau Israel.

Dilema yang Menyakitkan

Meski berupaya menjaga jarak dari pusaran konflik, para analis menilai negara-negara Teluk kini berada dalam posisi yang serba sulit. Monica Marks, profesor politik Timur Tengah di New York University Abu Dhabi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa bagi warga dan para pemimpin di kawasan Teluk, menyaksikan Manama, Doha, dan Dubai dibom "sama aneh dan tak terbayangkannya seperti melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dibom bagi warga Amerika."

Menurut Marks, negara-negara Teluk "telah melihat perang ini datang secara perlahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan telah mengerahkan upaya besar untuk menghentikannya."

Rob Geist Pinfold, dosen di King's College London, juga menilai negara-negara GCC telah berusaha keras mencegah pecahnya aksi militer. "Negara-negara GCC tidak menginginkan perang ini. Mereka mencoba melobi untuk menentangnya," ujarnya.

Namun, jika mereka akhirnya terlibat dan dipandang bekerja sama dengan Israel, hal itu akan menjadi tantangan besar bagi legitimasi mereka. Di sisi lain, tetap pasif ketika Iran berulang kali melancarkan serangan juga membawa risiko tersendiri. Pinfold menyebut situasi ini sebagai sebuah dilema rumit.

"Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah ini responsif terhadap opini publik," katanya. "Mereka ingin terlihat melindungi rakyatnya, melindungi wilayahnya, dan melindungi kedaulatannya."

Ia memperkirakan negara-negara Teluk mungkin akan mengambil langkah dengan cara mereka sendiri, kemungkinan melalui upaya kolektif GCC seperti Peninsula Shield Force (PSF), ketimbang sekadar membuka wilayah udara bagi operasi Amerika Serikat dan Israel. PSF dibentuk pada 1984 dan berkembang menjadi Unified Military Command pada 2013.

"Mereka tidak ingin terlihat bekerja untuk Israel atau bekerja bersama Israel," kata Pinfold. "Mereka ingin terlihat memimpin, bukan sekadar mengikuti."

Skenario Mimpi Buruk

Kekhawatiran paling mendesak bagi para pemimpin Teluk saat ini adalah potensi serangan terhadap infrastruktur vital, yakni jaringan listrik, fasilitas desalinasi air, dan instalasi energi.

"Tanpa pendingin udara dan fasilitas desalinasi air, negara-negara Teluk yang sangat panas dan kering pada dasarnya tidak layak dihuni," kata Marks.

"Tanpa infrastruktur energi, mereka tidak akan menguntungkan secara ekonomi. Negara-negara Teluk akan mengambil langkah apa pun yang mereka anggap paling kecil risikonya terhadap kepentingan tersebut."

Al-Mudahka menekankan bahwa krisis ini berdampak jauh melampaui kawasan. Ia menyebut 16% energi dunia berasal dari Qatar dan 33% minyak global mengalir dari kawasan yang lebih luas melalui Selat Hormuz.

"Ini bukan hanya tentang Qatar dan Bahrain. Ini adalah lokasi geopolitik paling penting bagi pasokan energi dunia," ujarnya.

"Jika sesuatu terjadi di sini, tidak akan ada listrik di Osaka. Harga bahan bakar di China akan melonjak. Apakah Amerika Serikat akan senang jika harga minyak mencapai 200 dolar per barel?"

Namun Pinfold berpendapat bahwa ancaman terdalam justru bersifat reputasional. Kerusakan jangka panjang, menurutnya, akan menghantam kekuatan lunak (soft power) negara-negara Teluk sebagai kawasan yang stabil dan dapat diprediksi untuk investasi dan pariwisata.

Al-Mudahka menolak anggapan bahwa citra tersebut telah runtuh. "Negara-negara GCC telah menghadapi banyak tantangan," katanya. "Ini adalah lokasi yang penting-sudah demikian sejak era Jalur Sutra. GCC tidak pernah terlibat dalam perang. Mereka selalu mengambil posisi defensif."

Ia juga menyoroti rekam jejak Qatar dalam memfasilitasi dialog dan membantu mengakhiri konflik, termasuk perundingan antara Amerika Serikat dan Taliban yang mengakhiri perang terpanjang Amerika.

Era Baru Perang Antarnegara?

Sheikh Hamad memperingatkan bahwa ancaman baru bisa muncul setelah krisis ini berakhir. "Setelah pertempuran ini berakhir, kekuatan-kekuatan baru akan muncul di kawasan, dan Israel akan memegang kendali atas kawasan kita," tulisnya.

"Negara-negara Dewan tidak punya pilihan selain bertindak sebagai satu tangan yang bersatu dalam menghadapi setiap agresi terhadap mereka, serta menolak segala upaya untuk memaksakan kehendak atau memeras mereka."

Para analis menilai krisis ini menandai perubahan dramatis dalam dinamika keamanan kawasan. Selama bertahun-tahun, perhatian negara-negara Teluk lebih terfokus pada aktor non-negara seperti Houthi di Yaman atau Hizbullah di Lebanon. Kini, perhitungannya berubah.

"Apa yang kita saksikan adalah paradigma baru di Timur Tengah, atau kembalinya paradigma lama, yakni perang antarnegara," kata Pinfold. "Kita tidak lagi melihat sebanyak sebelumnya perang di wilayah abu-abu seperti disinformasi, perang proksi, dan sebagainya. Kita benar-benar melihat tingkat eskalasi yang baru."

Marks menambahkan bahwa sebelum perang pecah, negara-negara Teluk justru memandang Israel sebagai ancaman yang lebih besar terhadap stabilitas kawasan dibanding Iran, terutama setelah serangan Israel terhadap para pemimpin Hamas di Qatar pada September lalu.

"Penilaian itu kini terlihat sangat berbeda," ujarnya.

Menurut Marks, salvo awal Iran bersifat luas dan mengkhawatirkan karena menyasar berbagai target secara menyebar dan situasinya masih berpotensi memburuk.

Untuk saat ini, negara-negara Teluk tengah menghitung ulang langkah mereka. Keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah Iran menawarkan apa yang disebut Marks sebagai "tangga eskalasi yang lebih rasional", sebuah jalur yang memungkinkan mereka tetap berada di pinggir konflik, persis seperti yang mereka inginkan sejak awal.

Namun dengan cakrawala kota-kota berkilau mereka kini ternodai bekas ledakan rudal, ruang untuk tetap berada di luar konflik itu tampaknya kian menyempit.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |