Pengusaha Teriak Harga Gas Mahal-Bandingin ke Negara Tetangga

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah hingga terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) hingga nyaris Rp17.500  membuat pengusaha kian waspada. Pasalnya penggunaan energi seperti gas masih menggunakan transaksi dolar, sehingga pelemahan rupiah turut memperbesar beban yang harus ditanggung pelaku industri.

Melansir Refinitif, posisi Rupiah pada perdagangan hari ini, Rabu (6/5/2026 pukul 10.54 WIB) berada di Rp17.410 per dolar AS.

"Kenaikan harga ini sangat membebani karena komponen energi gas menyumbang sekitar 35 sampai 38 persen dari total biaya produksi," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada CNBC Indonesia, Rabu (6/5/2026).

Harga gas yang saat ini harus dibayar industri keramik berada di kisaran 11,5 hingga 12 dolar AS per MMBTU, jauh di atas harga dalam skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$7 per MMBTU.

Jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asean, posisi Indonesia dinilai semakin kurang kompetitif. Harga gas industri di Malaysia dan Thailand masih lebih kompetitif dibandingka pelaku industri dalam negeri.

"Di negara tetangga, harga gas industri berada di kisaran 9,5 hingga 9,9 dolar AS per MMBTU. Ini jelas membuat daya saing kita tertekan," kata Edy.

Kondisi diperparah dengan pasokan gas industri kian memburuk, terutama setelah realisasi alokasi gas industri tertentu (AGIT) di sejumlah wilayah tidak mencapai target. Penurunan pasokan ini langsung berdampak pada lonjakan biaya produksi.

"Realisasi AGIT di Jawa Bagian Barat pada April 2026 hanya sekitar 37,5 persen, ini menjadi yang terendah sejak kebijakan HGBT berlaku. Kondisi ini membuat industri tidak lagi mendapatkan harga gas yang kompetitif," ujar Edy.

Pelaku industri pun meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini. Mereka mendorong Kementerian ESDM, SKK Migas, dan PGN untuk memastikan pasokan gas kembali stabil agar industri tidak mengalami gangguan operasional yang lebih luas.

"Kami berharap ada solusi cepat untuk menjamin pasokan gas, agar industri tidak sampai kolaps dan bisa menghindari potensi PHK," tegasnya.

Gangguan pasokan gas yang belum juga pulih, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, ikut menggerus daya saing pelaku usaha di sektor ini.

"Kami menghadapi tekanan berlapis. Di satu sisi biaya energi naik tajam, di sisi lain pelemahan rupiah membuat beban pembayaran semakin besar," ujarnya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |