Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pelopor layanan on-demand seperti ojol dan taksi online, Uber mengumumkan PHK hingga 10% dari total karyawannya. Langkah merumahkan sekitar 3.000 karyawan itu bukan karena AI, alasan yang sering digunakan banyak perusahaan lain saat melakukan PHK.
PHK yang dilakukan Uber disebut untuk menyederhanakan lapisan manajemen dan memangkas biaya. CEO Dara Khosrowshahi mengatakan langkah tersebut untuk membuat lebih banyak kapasitas untuk investasi perusahaan di masa depan.
"Perubahan yang dilakukan hari ini dirancang untuk dua hal: membuat Uber lebih sederhana dan cepat, serta menciptakan lebih banyak kapasitas berinvestasi di masa depan," jelasnya dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (3/9/2026).
Investasi itu termasuk rencana sebelumnya sebesar lebih dari US$10 miliar untuk kendaraan otonom dalam beberapa tahun ke depan.
Pengurangan yang dilakukan termasuk tim kecil terdiri dari satu hingga dua bawahan hingga hampir setengahnya. Begitu juga pengurangan pada mereka yang berada tujuh bagian di bawah CEO sebesar 20%.
Menurut Khosrowshahi, Uber telah melampaui banyak struktur pada ukuran perusahaan sekarang.
Uber juga akan menggabungkan lebih banyak tim, termasuk memusatkan lebih banyak karyawan di kantornya seperti New York dan San Francisco. Sekitar 1% karyawan diperbolehkan untuk bekerja dari jarak jauh.
Perampingan ini, dia menjelaskan akan membuat kepemilikan yang lebih jelas. Selain itu pengambilan keputusan yang lebih cepat.
"Serta lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk membangun daripada berkoordinasi," jelasnya.
Uber didirikan pada tahun 2009 dan mulai beroperasi di San Francisco pada Mei 2010. Perusahaan ini dianggap sebagai pelopor layanan transportasi on-demand, bisnis yang diadopsi oleh Gojek kemudian Grab di Indonesia.
Uber pernah masuk Indonesia pada 2014. Pada awal peluncurannya, Uber melayani wilayah pusat bisnis Jakarta sekitar Kuningan dan Sudirman dengan layanan kendaraan roda empat. Berhadapan dengan Gojek dan Grab Bike, Uber kemudian juga membuka layanan ojek online bagi pengguna di Indonesia.
Namun persaingan di Asia Tenggara dan Indonesia ternyata jauh lebih ketat daripada yang diperkirakan. Uber harus bersaing dengan pendatang lokal dan regional yang lebih memahami kebiasaan masyarakat.
Pada Maret 2018, Uber akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari seluruh wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Seluruh operasionalnya dijual kepada Grab dengan imbalan kepemilikan saham sebesar 27,5 persen di perusahaan tersebut. Secara resmi aplikasi Uber berhenti beroperasi di Indonesia pada 8 April 2018.
Delapan tahun setelah meninggalkan Indonesia, Uber kembali menjadi sorotan dengan langkah perampingan organisasi secara global. Jika dulu Uber kalah dalam persaingan pasar regional dan memilih mundur, kali ini Uber memilih merampingkan struktur agar dapat kembali fokus pada hal-hal besar.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
5

















































