Pemerintah Abai, Korban Banjir Di Besitang Jadikan Kamar Mandi Sempit Tempat Hunian

2 days ago 8
FeaturesLainnyaSumut

4 Januari 20264 Januari 2026

Pemerintah Abai, Korban Banjir Di Besitang Jadikan Kamar Mandi Sempit Tempat Hunian WARGA korban bencana banjir di Lingk IX, Kel. Bukit Kubu, Kec. Besitang, Langkat, yang rumahnya hanyut jadikan kamar mandi sebagai tempat hunian. Waspada.id/Asrirrais

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

“Di tengah ketidakberdayaan secara finansial, masyarakat dipaksa oleh keadaan untuk membenahi atau membangun hunian darurat secara mandiri sebagai tempat bernaung bersama keluarga kecil mereka akibat tidak adanya perhatian penuh dari pemerintah”

Di pinggiran anak sungai yang memisahkan antara Lingk IX Stasiun KA dengan Lingk X Sungai Meran, Kel. Bukit Kubu, Kec. Besitang, Kab. Langkat, terlihat satu unit bangunan rumah milik warga yang telah rata dengan tanah.

Rumah ini hanya meninggalkan pondasi akibat diterjang banjir. Persis di lokasi pertapakan rumah ada terlihat sisa bangunan yang masih utuh berukuran sangat kecil. Pada bagian depan bangunan mungil itu terpasang terpal plastik yang sudah lusuh.

Tumpukan pakaian yang sudah disingkirkan dari balutan lumpur yang dibawa arus banjir bertumpuk di atas dinding tembok bata yang sudah tinggal separuh. Kondisi di seputar lokasi rumah tampak kumuh dan acak-acakan.

Sisa bangunan ini ternyata kamar mandi yang sekaligus jamban yang hanya berukuran tak lebih 1,5 x 2 meter. Ternyata, di ruang super sempit ini ditempati sepasang suami isteri, M. Ibrahim Lubis, 51, bersama sang isteri, Sri Indri Yani.

Di rungan yang jauh lebih sempit dari sel tahanan inilah kedua pasangan suami isteri ini tinggal. Tidak ada pilihan lain, rumah mereka telah rata dengan tanah akibat diterjang banjir besar yang terjadi 26 November 2025 lalu.

“Tak usahkan bantuan tenda untuk hunian sementara, bantuan selembar tikar saja untuk sekedar alas tidur kami tidak ada diberi oleh pemerintah,” imbuh M. Ibrahim Lubis saat ditemui waspada.id di pondok depan halaman rumahnya, Minggu (4/1).

Mirisnya, meski lokasi tempat tinggal korban bencana ini berada persis di pinggiran jalan umum Besitang-Pangkalansusu dan sudah menjadi perbincangan publik, tapi ironisnya, tidak ada mendapat perhatian dari pejabat di ‘Negeri Bertuah’ ini.

Tak usahkan Bupati Langkat, Camat Besitang sendiri yang kantornya tak terlalui jauh lokasi hunian Tembong, tidak pernah turun meninjau kondisi masyarakatnya yang saat ini sedang dalam penderitaan akibat bencana ekologis.

Peristiwa bencana sudah hampir enam pekan berlalu, tapi menurut pengakuan pria berdarah Mandailing ini, pimpinan kecamatan belum pernah turun ke Lingk IX untuk menunjukan rasa empatinya terhadap warga yang sedang menderita.

Ayah dari dua orang anak itu hanya bisa pasrah tinggal di ruang kamar mandi yang sangat sempit. Ia menyadari, kamar mandi berukuran kecil yang mereka tempati sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Tapi, keluarga kecil ini tak memiliki pilihan lain.

Tembong tak memungkiri, di tengah musibah yang ia alami, masih ada orang baik yang memberi perhatian, salah satunya Kepling Sei. Meran, Rusli. Kemudian, ia mengaku ada juga warga menawarkan tempat tinggal, cuma ia enggan merepotkan orang lain.

Masyarakat korban bencana ekologis yang rumahnya rusak berat dan hanyut terseret arus banjir, khususnya dari kalangan strata bawah hanya bisa pasrah menghadapi penderitaan yang berkepanjangan pascabanjir.

Di tengah ketidakberdayaan secara finansial, masyarakat dipaksa oleh keadaan untuk membenahi atau membangun hunian darurat secara mandiri sebagai tempat bernaung bersama keluarga kecil mereka akibat tidak adanya perhatian penuh dari pemerintah.

Warga harus membangun tempat tinggal sendiri karena Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinsos Langkat, termasuk Bandan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tidak maksimal membantu kebutuhan rakyat yang sedang menderita.

Cukup banyak masyarakat yang kehilangan rumah tempat tinggal kebingungan mencari tempat bernaung karena tidak adanya tenda-tenda darurat yang disediakan institusi yang seharusnya bertanggungjawab untuk urusan ini.

Seperti halnya di Desa Sekoci, sesuai data yang diperoleh, ada sebanyak 59 rumah warga yang hanyut dan 71 rumah rusak berat. Meski banyak jumlah rumah warga yang hanyut, tapi hanya keluarga yang mendapat fasilitas tenda dari BNPB bisa dihitung dengan sebelah jari.

Saat terjadi banjir, ratusan warga mengungsi ke Masjid Raya Besitang. Di rumah ibadah ini warga bertahan selama beberapa minggu. Di lokasi pengungsian ini, Pemkab Langkat tidak ada terlihat menyedikan fasilitas tenda dan juga dapur umum, padahal situasinya sudah sangat darurat. Asrirrais/WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |