Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Di balik ramainya lapangan padel di Jakarta, Bali, Bandung, hingga Surabaya, sesungguhnya sedang terjadi perubahan yang lebih besar daripada sekadar bergantinya olahraga favorit kelas menengah urban. Yang berubah adalah cara masyarakat membangun kesehatan, reputasi, jejaring, dan bahkan peluang ekonomi. Fenomena inilah yang saya sebut sebagai Padel Effect.
Padel bukan sedang menggantikan golf. Ia mencerminkan transformasi ekonomi modern: dari ownership economy, ketika status ditentukan oleh apa yang dimiliki; menuju experience economy, ketika orang mencari pengalaman; lalu berkembang menjadi network economy, ketika nilai terbesar justru lahir dari komunitas dan jejaring.
Perkembangannya memang impresif. Global Padel Report 2025 menempatkan padel sebagai salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia, didorong ekspansi klub dan lapangan di berbagai negara. Federasi Internasional Padel (FIP) juga mencatat olahraga ini telah dimainkan di lebih dari 150 negara dengan puluhan juta pemain aktif.
Indonesia menjadi bagian dari gelombang tersebut. Indonesia Padel Report 2025 menyebut Indonesia berkembang menjadi ekosistem padel terbesar dan bertumbuh paling cepat di Asia Tenggara. Hingga akhir 2025 diperkirakan terdapat sekitar 947 lapangan padel, dengan Jakarta sebagai pusat pertumbuhan, disusul Jawa Barat, Bali, Banten, dan Jawa Timur. PBPI juga terus memperluas ekosistem melalui pembinaan, turnamen internasional, dan persiapan menuju Asian Games 2026.
Namun, statistik tersebut hanya menjelaskan pertumbuhan industrinya. Yang jauh lebih menarik adalah perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
Dari Kepemilikan Menuju Pengalaman
Ekonom Thorstein Veblen menjelaskan bahwa prestise dahulu dibangun melalui conspicuous consumption: rumah mewah, mobil premium, atau keanggotaan klub eksklusif. Kini pola itu berubah.
B. Joseph Pine II dan James Gilmore melalui konsep Experience Economy menunjukkan bahwa masyarakat modern lebih menghargai pengalaman daripada kepemilikan. Mereka rela membayar untuk maraton, HYROX, konser, wellness retreat, maupun padel karena yang dicari bukan sekadar aktivitas, melainkan pengalaman yang bermakna.
Richard Thaler menambahkan bahwa keputusan ekonomi manusia tidak semata rasional. Identitas, pengakuan sosial, dan rasa menjadi bagian dari komunitas sering kali lebih menentukan. Padel memenuhi seluruh unsur tersebut: mudah dipelajari, dimainkan berpasangan, berlangsung singkat, inklusif, dan memiliki daya tarik tinggi di media sosial. Karena itu, yang dibeli pemain padel sesungguhnya bukan hanya waktu bermain, melainkan pengalaman dan jejaring.
Ketika Komunitas Menjadi Mesin Ekonomi
Di sinilah Padel Effect menemukan maknanya. Robert Putnam menyebut kepercayaan dan jejaring sebagai modal sosial (social capital) yang meningkatkan produktivitas ekonomi. Manuel Castells menggambarkan masyarakat modern sebagai network society, ketika jaringan menjadi sumber daya saing yang sama pentingnya dengan modal dan teknologi.
Lapangan padel kini menjadi ruang bertemunya pebisnis dengan mitra, investor dengan startup, konsultan dengan klien, pengembang dengan arsitek, hingga pelaku UMKM dengan calon mitra usaha. Banyak peluang lahir bukan di ruang rapat, tetapi di sela pertandingan.
Fenomena ini sejalan dengan teori The Strength of Weak Ties dari Mark Granovetter: peluang baru lebih sering datang dari relasi baru dibanding lingkaran pertemanan lama. Padel memperbanyak "weak ties" tersebut karena pemain terus bertemu pasangan dan lawan yang berbeda.
Jika golf selama ini identik dengan relationship economy, maka padel mulai membentuk network economy, yaitu ekonomi yang bertumpu pada komunitas, kolaborasi, dan kepercayaan.
Dari Lapangan Menuju Sport Economy
Padel juga memperlihatkan bagaimana olahraga berkembang menjadi ekosistem ekonomi. Pertumbuhan lapangan mendorong investasi pada konstruksi fasilitas, pelatih, wasit, perlengkapan olahraga, aplikasi reservasi, event organizer, sponsorship, restoran, hingga industri konten digital. Dampaknya tidak berhenti pada sektor olahraga.
Global Wellness Institute memperkirakan nilai wellness economy dunia telah mencapai US$6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi hampir US$9,8 triliun pada 2029, tumbuh lebih cepat dibanding ekonomi global. Padel merupakan bagian dari transformasi tersebut.
Lebih jauh lagi, olahraga ini mulai menjadi penggerak sport tourism. Setiap turnamen internasional menghadirkan atlet, pelatih, ofisial, keluarga, sponsor, media, dan penonton yang menggerakkan hotel, restoran, transportasi, ritel, hingga UMKM lokal.
Bali telah memanfaatkan momentum ini melalui berbagai ajang FIP Tour, sementara pengembangan pusat tenis dan padel bertaraf internasional di Lombok menunjukkan semakin eratnya hubungan antara olahraga dan destinasi wisata premium. Artinya, lapangan padel bukan hanya menghasilkan atlet, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi ekonomi daerah.
Pelajaran bagi Indonesia
Pelajaran terbesar dari Padel Effect bukanlah bahwa padel akan menggantikan golf atau pickleball. Pelajarannya adalah bahwa sumber pertumbuhan ekonomi abad ke-21 sedang berubah.
Jika dahulu keunggulan ditentukan oleh aset fisik, kini semakin ditentukan oleh kemampuan membangun komunitas, pengalaman, dan kepercayaan. Kota yang mampu menghadirkan ruang interaksi melalui olahraga, ekonomi kreatif, dan pariwisata akan lebih mudah menarik talenta, investasi, dan inovasi.
Karena itu, pembangunan olahraga perlu dipandang sebagai strategi pembangunan ekonomi. Investasi pada fasilitas, pembinaan komunitas, penyelenggaraan event internasional, dan integrasi dengan pariwisata akan menghasilkan manfaat yang jauh melampaui prestasi olahraga semata.
Pada akhirnya, Padel Effect bukanlah kisah tentang naik daunnya satu cabang olahraga. Ia adalah cermin perubahan ekonomi modern. Jika revolusi industri menjadikan pabrik sebagai mesin pertumbuhan, dan revolusi digital melahirkan platform, maka era ekonomi berjejaring menjadikan komunitas sebagai infrastruktur ekonomi baru.
Lapangan padel hanyalah ruangnya; nilai ekonomi sesungguhnya lahir dari manusia yang saling percaya, saling terhubung, dan bersama-sama menciptakan peluang. Di situlah salah satu fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
(miq/miq)

8 hours ago
11

















































