Nasib Korban Banjir Di Besitang, Empati Datang Di Puncak Penderitaan

1 day ago 4

“Korban bencana di daerah perbatasan Sumut-Aceh ini bak seperti warga negara (WN) kelas dua”

BENCANA ekologis yang melanda Besitang dan sejumlah kecamatan di Langkat sudah hampir enam pekan berlalu. Air dari hulu sungai yang menenggelamkan ribuan rumah warga, kini telah pergi jauh menyatu dengan air laut.

Lumpur tebal yang menutupi jalan dan lantai rumah, serta kawasan area permukiman telah diseterilkan warga. Begitu juga material tanah longsor di sejumlah titik lokasi yang menutup akses badan jalan sudah tuntas disingkirkan.

Jika melihat dari potret kekinian, situasi di lapangan tampak sepertinya sudah normal. Normal karena mobilitas warga terlihat sudah mulai menggeliat. Tapi, di sebalik itu, luka bathin korban bencana belum sepenuhnya surut akibat kurangnya perhatian penguasa.

Para korban, khususnya bagi ratusan warga yang rumah tempat tinggalnya hanyut dan rusak berat sehingga tidak bisa ditempati lagi sepertinya dibiarkan berjuang secara mandiri di tengah keterbatasan kemampuan finansial.

Sebagian warga mendirikan tempat hunian dengan memanfaatkan sisa-sisa kayu dari puing rumah yang rubuh. Seperi dialami Ishak. Rumah imam masjid ini kembali berdiri karena warga yang merasa prihatin secara sukarela bergotong royong mendirikan rumah korban, tanpa kehadiran negara.

Kemudian, sebagian warga yang rumahnya praktis tidak dapat ditempati lagi dengan rasa terpaksa harus menumpang di rumah sanak saudara, serta kerabat sampai batas waktu yang tidak jelas.

Kalau di wilayah Aceh Tamiang, pemerintah pusat dengan gerak cepat telah membangun rumah hunian sementara buat para korban bencana sebagai upaya pemulihan. Tapi, di Langkat, sejauh ini belum ada terlihat tanda-tanda hunian sementara ini akan dibangun.

Warga di Besitang yang juga sama-sama merasakan penderitaan seperti yang dialami saudara mereka di Aceh Tamiang tampaknya tidak mendapatkan perhatian serupa. Korban bencana di daerah perbatasan Sumut-Aceh ini bak seperti warga negara (WN) kelas dua.

Sesuai dengan pernyataan Camat Besitang, Restra Yudha, kepada Waspada, Senin (5/1), total rumah yang rusak berat terdata sebanyak 362 unit rumah dan warga yang terdampak banjir jumlahnya mencapai hampir 20.000 jiwa. “Data ini masih terus diverifikasi,” kata dia.

Adapun bantuan tenda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menurut camat ada 11 tenda. Rasio ketersediaan tenda dengan jumlah masyarakat terdampak tentu jauh dari kata ideal. Pusat seperti setengah hati membantu korban bencana di Langkat.

Khusus buat korban yang rumahnya masuk dalam klaster hanyut dan rusak berat, dipaksa oleh keadaan harus berjuang secara mandiri. Di tengah keterbatasan ini, mereka harus bekerja ekstra membangun hunian agar bisa terhindar dari hujan, panas dan dinginnya angin malam.

Ada warga yang mendirikan terpal plastik di atas pertapakan rumahnya yang hanyut dan ada juga terpaksa tinggal di bangunan kamar mandi yang juga sekaligus tempat buang hajat, seperti yang dialami M. Ibrahim Lubis.

Ayah dari dua orang anak ini selama sebulan lebih tinggal di ruangan sempit yang luasnya tak sampai dua meter persegi. Kondisi yang menyiksa ini terpaksa dijalani karena negara tidak hadir disaat rakyat sedang menderita.

Negara baru hadir seolah-olah menunjukan rasa empatinya setelah keberadaan korban bencana yang mengalami masa penderitaan panjang karena harus menempati hunian yang tak layak ditempati oleh individu manusia.

Camat Besitang, Restra Yudha, pada saat penyerahan tenda dari BNPB meminta maaf kepada Ibrahim Lubis. Permintaan maaf ini menunjukan pengakuan rasa bersalah karena camat sebagai representasi dari negara telat hadir memperhatikan kondisi warganya.

Bantuan tenda tempat hunian dan bahan pangan dari BNPB ini baru diberikan setelah mencuat sorotan media tentang nasib korban bencana banjir di Lingk IX, Kel. Bukit Kubu, Kec. Besitang, yang terpaksa harus menghuni kamar mandi merangkap jamban.

Kondisi memprihatinkan korban bencana hidrometeorologi ini mendapat perhatian dari Ketua DPW PNTI (Perkumpulan Nelayan Tradisional Indonesia) Sumatera Utara, Datuk Adhan Nur.

Dampak terenyuh begitu merekam langsung kondisi rumah Ibrahim, termasuk sejumlah rumah warga lainnya yang juga mengalami kerusakan, meski tidak separah seperti yang dialami oleh Ibrahim Lubis.

Datuk Adhan Nur dengan tegas meminta pemerintah hadir. “Pemerintah wajib hadir dan jangan sampai masyarakat merasakan seperti ditinggalkan sendiri pada saat menghadapi cobaan berat pascabencana,” ujarnya.

Pendataan Harus Objektif

Rumah-rumah masyarakat yang mengalami kerusakan sudah didata dan saat ini masih dalam proses verfikasi. Pendataan fisik rumah dengan klaster rusak berat harus berlangsung objektif, transparan dan akuntabel untuk menghindari perasangka negatif.

SEJUMLAH warga Desa Sekoci yang rumah tempat tinggalnya hanyut mulai membangun kembali hunian darurat karena tidak ada hunian sementara disediakan pemerintah. Waspada/Asrirrais

Korban bencana yang saat ini dalam kondisi psikologi yang belum sepenuhnya stabil akibat depresi menghadapi bencana akan gampang meradang, jika mereka merasakan ada ketidak adilan.

Mereka dapat melakukan gerakan massal alias demonstrasi, jika dalam pendataan tidak dilakukan secara fair dan objektif. Peristiwa aksi demontrasi pasca banjir tahun 2006 lalu di kantor camat Besitang harus menjadi pelajaran jangan sampai terulang.

Pasa masa itu, warga yang merasa rumahnya rusak berat tidak terjaring dapat pendataan sehingga mereka tidak mendapatkan bantuan rumah, sementara ada warga yang kerusakan rumahnya tidak terlalu berat, tapi mendapat bantuan rumah tumbuh.

Bahkan, ironisnya lagi, ada warga yang sama sekali tidak memiliki rumah, bahkan ia tidak terdampak bencana, tapi rumah berdiri di pertapakan tanah miliknya pribadi. Fakta ini membuat masyarakat korban bencana marah.

Dalam situasi yang sangat sensitif seperti ini, objektivitas dan integritas tim pendataan mutlak, tanpa tidak ada bisa tawar menawar. Jika tidak, maka tunggu persoalan baru akan muncul, bahkan bisa menjadi gerakan massa. Asrirrais/WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |