Mitigasi Bencana: Dampak Yang Terlalu Mahal Bila Diabaikan

2 weeks ago 19

Oleh Teuku Jailani Yacob

ACEH kembali belajar dari luka.

Banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November lalu bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pengingat keras bahwa risiko tidak pernah datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, mengendap dalam kebiasaan menunda, dalam kebijakan yang setengah hati, dan dalam ketidakseriusan kita memperlakukan mitigasi bencana sebagai fondasi pembangunan.

Hujan deras tidak bisa dicegah. Kontur alam Aceh juga tidak bisa diubah. Namun yang sepenuhnya berada dalam kendali kita adalah kesiapan: bagaimana risiko dipetakan, bagaimana lingkungan dijaga, bagaimana sistem bekerja lintas sektor, dan seberapa cepat negara hadir ketika warganya berada dalam kondisi paling rapuh. Ketika hari demi hari berlalu dan masih ada korban yang belum tersentuh bantuan, persoalannya tidak lagi semata pada alam, tetapi pada cara kita membaca risiko dan mengambil keputusan.

Aceh bukan wilayah yang asing dengan bencana. Sejarah panjang gempa, tsunami, banjir, dan longsor telah membentuk ketangguhan sosial yang luar biasa. Namun pengalaman saja tidak cukup jika tidak diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Pelajaran sering berhenti sebagai ingatan kolektif, bukan menjadi sistem yang hidup. Di titik inilah mitigasi kehilangan maknanya, diketahui, tetapi tidak sungguh-sungguh dijalankan.

Salah satu mata rantai terlemah dalam upaya mitigasi adalah kerusakan lingkungan dan deforestasi. Hutan, khususnya di wilayah hulu dan daerah tangkapan air, sejatinya adalah infrastruktur alami yang bekerja tanpa henti. Ia menyerap air, menahan tanah, dan menstabilkan ekosistem. Ketika hutan terdegradasi, kemampuan alam untuk mengatur air melemah. Hujan yang seharusnya menjadi berkah berubah menjadi ancaman yang datang dengan cepat dan keras.

Dalam konteks Aceh, deforestasi bukan isu abstrak atau wacana aktivisme semata. Ia memiliki dampak nyata: sungai lebih cepat meluap, tanah kehilangan daya ikat, dan longsor semakin sering terjadi. Jika kerusakan ini tidak dicegah secara sungguh-sungguh, maka setiap musim hujan adalah undangan terbuka bagi bencana. Mitigasi bencana tidak akan pernah utuh jika perlindungan dan pemulihan hutan tidak menjadi bagian inti dari strategi.

Di atas semua itu, perubahan iklim menambah lapisan risiko yang semakin kompleks. Pola hujan menjadi tidak menentu, intensitas curah hujan meningkat, dan kejadian ekstrem terjadi lebih sering. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan; ia sudah hadir dalam keseharian kita. Menghadapinya dengan pendekatan lama, reaktif dan sektoral, adalah kesalahan yang mahal.

Sayangnya, respons terhadap perubahan iklim masih sering bersifat parsial. Ada program di satu sisi, tetapi kebijakan di sisi lain justru memperbesar risiko. Yang dibutuhkan bukan sekadar adaptasi teknis, melainkan perencanaan yang terintegrasi: mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan, tata ruang, dan pembangunan ekonomi harus berjalan dalam satu kerangka yang saling menguatkan. Tanpa itu, risiko hanya berpindah tempat, bukan berkurang.

Bencana alam selalu memiliki akhir. Hujan reda, air surut, dan tanah berhenti bergerak. Namun dampak sosialnya tidak pernah sesingkat itu. Warga yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman harus memulai kembali dari titik yang jauh lebih rendah. Ketika respons berjalan lamban dan penetapan status darurat terlambat, yang terkikis bukan hanya waktu, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Di era sekarang, kelambanan tidak lagi bisa dibenarkan dengan alasan keterbatasan. Data cuaca semakin presisi, teknologi komunikasi semakin cepat, dan logistik bisa dirancang lintas wilayah. Jika sistem tetap tersendat, persoalannya bukan ketiadaan alat, melainkan ketertinggalan cara berpikir. Risiko hari ini bersifat saling terkait, ekologis, klimatologis, sosial, dan ekonomi, dan menuntut respons yang sama terintegrasinya.

Aceh, dalam hal ini, bukan pengecualian. Ia adalah cermin bagi Indonesia. Negeri ini berdiri di atas wilayah rawan bencana, dengan tekanan lingkungan dan iklim yang terus meningkat. Jika deforestasi dibiarkan, mitigasi dijalankan setengah hati, dan perubahan iklim disikapi tanpa rencana jangka panjang, maka yang terjadi adalah akumulasi krisis yang semakin sulit dikendalikan.

Mitigasi bencana harus dipahami sebagai kerja kolektif. Pemerintah memegang peran sentral, tetapi tidak bisa berjalan sendiri. Dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil memiliki posisi strategis. Dunia usaha, misalnya, dapat berkontribusi melalui pembiayaan mitigasi, penguatan infrastruktur hijau, restorasi lingkungan, dukungan logistik, serta pengembangan teknologi adaptasi iklim. Ketahanan wilayah adalah prasyarat keberlanjutan ekonomi, bukan penghambatnya.

Bagi Aceh, mitigasi juga berarti keberanian mengambil pilihan yang tidak selalu mudah: menegakkan tata ruang, menjaga hutan, dan merancang pembangunan yang selaras dengan risiko iklim. Setiap bencana seharusnya menghasilkan sistem yang lebih kuat, bukan sekadar simpati sesaat. Edukasi kebencanaan dan kesadaran lingkungan harus berjalan beriringan, karena keduanya saling menguatkan.

Refleksi ini bukan untuk mencari kesalahan atau menyalahkan siapa pun. Dalam situasi krisis, empati dan solidaritas adalah yang utama. Namun empati tanpa pembenahan hanya akan melahirkan pengulangan luka. Kejujuran untuk mengevaluasi kesiapan adalah bentuk kepedulian yang paling bertanggung jawab.

Pada akhirnya, mitigasi bencana adalah soal nilai dan pilihan. Apakah kita akan terus bereaksi setelah tragedi terjadi, atau bersiap sebelum ia datang. Ketika deforestasi dibiarkan, perubahan iklim diabaikan, dan mitigasi absen, harga yang dibayar selalu mahal, dan yang membayar paling besar adalah mereka yang paling sedikit memiliki pilihan.

Alam akan terus bergerak sesuai hukumnya sendiri. Tugas kita adalah memastikan bahwa setiap ujian tidak selalu berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Karena bangsa yang matang bukanlah bangsa yang hanya kuat saat krisis, tetapi bangsa yang cukup bijak untuk merawat alam, merencanakan masa depan, dan hadir lebih awal bagi warganya. ✅

Penulis adalah Direktur Eksekutif Kadin Aceh

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |