Mercusuar Padam Berbulan-bulan, Nelayan Pidie Bertaruh Nyawa di Laut

3 hours ago 2
Aceh

20 Januari 202620 Januari 2026

Mercusuar Padam Berbulan-bulan, Nelayan Pidie Bertaruh Nyawa di Laut Mercusuar di perairan Gampong Kuala Pidie, Kota Sigli, dilaporkan padam dan dikeluhkan nelayan karena membahayakan keselamatan pelayaran, Selasa (20/1). Waspada.id/Muhammad Riza

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

SIGLI (Waspada.id): Padamnya lampu mercusuar di perairan Gampong Kuala Pidie, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, semakin memperlihatkan lemahnya perhatian negara terhadap keselamatan pelayaran dan nelayan. Fasilitas vital yang seharusnya menjadi penuntun keselamatan di laut itu justru dibiarkan tidak berfungsi dalam waktu lama tanpa kejelasan penanganan.

Panglima Laot Kabupaten Pidie, Marfian AS, melaporkan bahwa mercusuar di perairan Kuala Pidie telah lama padam dan menjadi keluhan serius para nelayan. Laporan tersebut disampaikannya pada Selasa (20/1), menyusul meningkatnya kekhawatiran nelayan yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan saat melaut.

“Mercusuar ini bukan sekadar bangunan. Ini alat navigasi utama. Jika dibiarkan mati, artinya keselamatan nelayan dan pelayaran sengaja dipertaruhkan,” tegas Marfian AS.

Menurutnya, tanpa penerangan mercusuar, nelayan kesulitan menentukan jalur aman, terutama saat melaut pada malam hari, dini hari, maupun ketika cuaca berkabut dan gelombang tinggi. Kondisi tersebut dinilai sangat rawan menimbulkan kecelakaan, mulai dari salah arah, kandas, hingga tabrakan antar kapal.

Keluhan juga disampaikan langsung oleh para nelayan. Zulkifli, nelayan asal Kuala Pidie, mengaku kini harus mengandalkan insting dan pengalaman saat kembali ke darat pada malam hari. “Kalau malam gelap, kami benar-benar buta arah. Biasanya mercusuar jadi patokan, sekarang mati. Kami pulang ke darat pakai perasaan, bukan lagi pakai tanda,” ujar Zulkifli.

Sementara itu, nelayan lainnya, Ridwan 45, menyebut kondisi mercusuar padam sudah berlangsung lama tanpa kepastian perbaikan. Ia menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap ancaman yang dihadapi nelayan setiap hari. “Sudah berbulan-bulan lampu itu mati. Kami heran, apakah harus ada korban dulu baru diperbaiki? Nyawa nelayan ini seperti tidak dianggap,” katanya.

Padahal, sektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi pesisir Kabupaten Pidie. Data menunjukkan terdapat 4.858 nelayan tangkap, dengan 1.442 unit kapal, serta produksi ikan mencapai 2.120,78 ton per tahun. Seluruh aktivitas tersebut sangat bergantung pada keamanan dan kelancaran jalur pelayaran.

Marfian AS menegaskan, padamnya mercusuar tidak hanya mengancam nelayan tradisional, tetapi juga membahayakan kapal penumpang dan kapal logistik yang melintas di perairan Selat Malaka sekitar Kota Sigli. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko kecelakaan laut berskala besar dinilai semakin terbuka.

“Kami mendesak pemerintah dan instansi teknis terkait berhenti saling lempar tanggung jawab. Ini menyangkut nyawa manusia. Jangan tunggu musibah baru bertindak,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab padamnya mercusuar maupun rencana perbaikannya. Pembiaran ini semakin menguatkan kritik publik terhadap lemahnya pengawasan dan perawatan fasilitas keselamatan laut di wilayah pesisir Aceh, khususnya Kabupaten Pidie.

Bagi masyarakat nelayan, mercusuar bukan sekadar bangunan tinggi di Bibir Pantai Pelangi Kota Sigli, melainkan simbol kehadiran negara dalam melindungi keselamatan mereka saat mencari nafkah di perairan yang penuh risiko. (id69)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |