Mantap! Rupiah Paling Perkasa se-Asia Lawan Dolar AS Pekan Ini

9 hours ago 6

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

03 January 2026 13:30

Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah terpantau bergairah sepanjang pekan ini, meski di akhir perdagangan pekan ini atau perdagangan perdana di 2026 melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir Refinitiv, pada Jumat (2/1/2026), yang juga menjadi perdagangan perdana di 2026, rupiah melemah 0,27% ke posisi Rp 16.715/US$. Namun sepanjang pekan ini, rupiah cukup perkasa hingga menguat 0,21% secara point-to-point. Bahkan, rupiah sepanjang pekan ini menjadi yang terbaik di Asia.

Di Asia, hanya rupiah dan yuan China yang masih mampu melawan dolar AS. Rupiah menjadi yang terbaik. Sedangkan yuan mampu menguat 0,19%.

Mayoritas mata uang Asia pada pekan ini tak mampu melawan dolar AS, dengan baht Thailand menjadi yang paling parah yakni ambruk 1,48%.

Rupiah yang menguat dan mayoritas mata uang Asia yang merana terjadi di tengah perkasanya dolar AS sepanjang pekan ini. Indeks dolar AS (DXY), indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ini terpantau menguat 0,41% sepanjang pekan ini. Sedangkan pada perdagangan Jumat kemarin, indeks DXY naik tipis 0,1%.

Sentimen penguatan dolar AS sendiri antara lain dipengaruhi oleh hasil risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) 9-10 Desember, yang dinilai pasar bernada netral hingga cenderung hawkish.

Dalam risalah tersebut, sebagian pejabat The Fed menilai suku bunga acuan masih perlu dipertahankan untuk beberapa waktu guna memastikan penurunan inflasi berjalan konsisten.

Nada kebijakan yang lebih berhati-hati tersebut sempat memperkuat persepsi bahwa durasi suku bunga tinggi di AS berpotensi berlangsung lebih lama, sehingga mendongkrak sentimen terhadap dolar AS.

Pasar saat ini juga tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting AS pada pekan depan, seperti laporan payroll dan data klaim pengangguran. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Di saat yang sama, pasar global turut mencermati proses penunjukan Ketua The Fed yang baru, seiring berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Investor memperkirakan calon yang akan dipilih Presiden Donald Trump berpotensi memiliki bias kebijakan yang lebih dovish, mengingat kritik yang selama ini kerap disampaikan Trump terhadap laju penurunan suku bunga The Fed.

Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini, lebih besar dibandingkan proyeksi internal The Fed yang masih terbelah.

Sejumlah analis, termasuk dari Goldman Sachs, menilai bahwa kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral masih akan berlanjut pada 2026, dan menjadi salah satu faktor yang membuat risiko proyeksi suku bunga The Fed cenderung mengarah ke pelonggaran.

Dalam konteks tersebut, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan sentimen terhadap dolar global masih menjadi salah satu faktor eksternal utama yang membayangi pergerakan rupiah.

Namun demikian, di tengah penguatan dolar tersebut, rupiah justru mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan ini. Hal ini mencerminkan bahwa minat investor terhadap aset keuangan domestik masih terjaga, meski di perdagangan perdana 2026, rupiah merana.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |