Makin Banyak Pria Memilih Childfree, Umur 21 Sudah Vasektomi

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Semakin banyak pria memilih menjalani hidup tanpa memiliki anak atau childfree. ABC Australia menghimpun cerita dari sejumlah pria yang memutuskan untuk tidak menjadi ayah. Berikut beberapa alasan yang paling banyak diungkapkan.

Khawatir soal kondisi finansial

David (34), warga Melbourne, mengatakan salah satu alasan utamanya adalah kondisi ekonomi yang semakin berat. Ia mengaku masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, apalagi jika harus membesarkan anak.

Selain itu, ia khawatir mewariskan masalah kesehatan mental yang dialaminya kepada anak kelak. Apalagi dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya mengalami dampak negatif setelah memiliki anak. 

Menurut David, ia lebih memilih menjadi sosok dewasa yang dapat diandalkan bagi ketiga keponakannya dibanding memiliki anak sendiri.

Dunia dianggap semakin tidak ramah

Jason (26) dari Adelaide menilai dunia saat ini tidak lagi menjadi tempat yang ideal untuk membesarkan anak. Baginya, selain biaya hidup yang terus meningkat, ada banyak persoalan lain yang menjadi pertimbangan, seperti perubahan iklim, ketidakstabilan politik, media sosial, kesenjangan ekonomi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak kepada keluarga.

Ia mengatakan tidak ada yang dapat mengubah keputusannya kecuali dunia berubah menjadi tempat yang lebih penuh empati.

Pandangan serupa diungkapkan Steve yang berusia 30-an dari Queensland Utara. Menurutnya, berbagai peristiwa global seperti serangan 11 September, perang Irak, hingga ancaman perubahan iklim membuatnya mempertanyakan apakah bertanggung jawab membawa anak ke dunia seperti sekarang.

Ia mengaku menyayangi keponakan-keponakannya, tetapi tidak pernah merasakan dorongan kuat untuk memiliki anak sendiri.

Memilih vasektomi di usia 21 

Raymond yang berusia 60-an mengatakan sejak muda dirinya memang tidak pernah ingin memiliki anak. Ia memilih menjalani hidup sebagai seniman dan pelancong yang penuh kreativitas, spontanitas, dan petualangan.

Menurutnya, gaya hidup tersebut hanya bisa dijalani jika ia memilih hidup tanpa anak. Ia menyadari membesarkan anak membutuhkan waktu, biaya, komitmen, pengorbanan, kasih sayang, dan dedikasi yang besar. Karena merasa tidak dapat memberikan semua itu secara maksimal, ia memilih untuk tidak memiliki keluarga.

Sementara itu, Jarod yang kini berusia 50-an bahkan menjalani vasektomi saat berusia 21 tahun. Ia mengaku tidak pernah menyesali keputusan tersebut.

Selama 30 tahun menikah, ia dan istrinya menikmati kehidupan yang bebas serta penuh petualangan. Menurutnya, banyak pengalaman yang mungkin tidak bisa diraih jika mereka harus membesarkan anak.

Masih menghadapi stigma sosial

Meski merasa mantap dengan pilihan hidupnya, sejumlah responden mengaku masih sering menghadapi penilaian negatif dari lingkungan. Jack (46) dari Melbourne mengatakan dirinya kerap mendapat komentar seolah-olah ada yang salah dengan dirinya karena memilih tidak memiliki anak.

Di tempat kerja sebelumnya, atasannya bahkan pernah mengatakan ia kurang sabar karena bukan seorang ayah. Ia juga sering mendengar anggapan bahwa dirinya memelihara anjing karena tidak bisa memiliki anak. Padahal, menurut Jack, ia memang menyukai anjing dan akan tetap memeliharanya terlepas dari memiliki anak atau tidak.

Sementara itu, Zachary (36) mengatakan keputusan dirinya dan sang istri didasari kondisi keuangan, tingkat kesabaran, serta kekhawatiran terhadap situasi politik dan lingkungan.

Meski sebagian orang mendukung pilihannya, ia mengaku tak jarang mendapat pertanyaan bernada menghakimi seperti, "Apa yang salah denganmu?"

Tetap ingin meninggalkan warisan

Berbeda dengan responden lainnya, Rob (47) mengatakan dirinya dan sang istri memilih tidak memiliki anak bukan karena faktor ekonomi, melainkan keterbatasan waktu akibat kesibukan bekerja.

Meski demikian, ia mengaku tetap memiliki keinginan untuk meninggalkan warisan. Salah satu caranya adalah membimbing generasi muda dan mengajarkan nilai-nilai yang dianggap penting. Namun, ia juga mengakui ada satu penyesalan yang terkadang muncul.

"Saat saya meninggal nanti, tidak akan ada bagian dari diri saya yang tertinggal dalam wajah seorang anak. Yang ada mungkin hanya harta, tetapi bukan jejak fisik saya," ungkapnya.

Rob menambahkan, teman-temannya yang memiliki anak terkadang iri melihat kebebasan dan aset yang ia miliki. Sebaliknya, ia justru merasa iri melihat hubungan emosional yang terjalin antara orang tua dan anak-anak mereka.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |