Laut Hitam Jadi Medan Perang, Pasokan Gandum Dunia dalam Zona Bahaya

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

20 August 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia- Konflik Rusia dan Ukraina kembali mengguncang pasar pangan global. Kali ini pemicunya berasal dari jalur logistik. Serangan terhadap pelabuhan dan kapal pengangkut di kawasan Laut Azov dan Laut Hitam membuat sebagian besar ekspor gandum dari dua negara tersebut terhenti.

Kondisi ini mengurangi pasokan gandum murah ke pasar internasional dan mendorong harga dunia terus bergerak naik.

Melansir Reuters, lebih dari 97% kapasitas ekspor gandum Rusia dan Ukraina di kawasan Laut Hitam kini tidak dapat beroperasi. Pada musim ekspor sebelumnya, kedua negara secara rata-rata mengirim sekitar 7,2 juta metrik ton gandum setiap bulan melalui terminal di Laut Hitam dan Laut Azov. Saat ini tidak ada lagi pengiriman dari terminal utama Ukraina di Laut Hitam.

Perubahan Bulanan Perdagangan Gandum 2026/27, Agustus 2026Perubahan Bulanan Perdagangan Gandum 2026/27, Agustus 2026 Foto: USDA

Di Rusia, terminal yang masih beroperasi hanya fasilitas kecil di Tuapse dengan kapasitas sekitar 160 ribu ton per bulan.

Gangguan tersebut langsung memengaruhi pembentukan harga di pasar global. Harga gandum dunia telah naik sekitar 6,5% sepanjang bulan ini dan kini berada sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan terjadi ketika pasar memperhitungkan berkurangnya pasokan dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu sumber utama gandum dunia.

Tekanan berasal dari sisi distribusi. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia dan Ukraina saling meningkatkan serangan terhadap infrastruktur pelabuhan. Reuters melaporkan sejumlah kapal yang sedang atau akan memuat gandum di pelabuhan Rusia ikut menjadi sasaran serangan drone.

Akibatnya, beberapa terminal ekspor utama di Novorossiysk seperti NZT dan NKHP menghentikan operasional setelah serangan Ukraina.

Terminal KSK, yang merupakan fasilitas ekspor gandum terbesar Rusia, ikut menangguhkan penerimaan gandum dan aktivitas ekspor. Operasional terminal gandum di Taman juga terhenti.

Perubahan Bulanan Produksi Gandum 2026/27, Agustus 2026Perubahan Bulanan Produksi Gandum 2026/27, Agustus 2026 Foto: USDA

Di sisi Ukraina, aktivitas pelabuhan di kawasan Odesa praktis berhenti sejak akhir Juli. Menteri Pertanian Ukraina Taras Vysotskyi mengatakan hingga pertengahan Agustus belum ada kapal baru yang masuk ke pelabuhan tersebut. Saat ini ekspor gandum Ukraina bergantung pada jalur kereta api menuju Eropa Timur serta pelabuhan di Sungai Danube.

Masing-masing menyumbang sekitar 45% pengiriman, sementara sekitar 10% sisanya menggunakan jalur darat. Pemerintah Ukraina memperkirakan kapasitas ekspor hanya mampu mencapai sekitar separuh dari potensi normal apabila blokade pelabuhan terus berlangsung.

Penurunan ekspor juga mulai terlihat dari data perdagangan Rusia. Analis Rusagrotrans yang berada di bawah Demetra Holding memperkirakan ekspor gandum Rusia pada Agustus hanya mencapai 1,8 juta ton. Volume tersebut menjadi yang terendah untuk bulan Agustus sejak 2010.

Importir gandum kini menghadapi pilihan yang semakin terbatas. Negara-negara di Timur Tengah, Afrika, dan Asia diperkirakan akan meningkatkan pembelian dari Australia maupun Amerika Serikat.

Jalur pasokan tersebut tersedia, namun biaya logistik dan harga gandumnya lebih tinggi dibandingkan pasokan dari Laut Hitam. Rusia masih memiliki opsi mengalihkan ekspor melalui pelabuhan di Laut Baltik, Laut Kaspia, dan kawasan Timur Jauh, tetapi rute yang lebih panjang meningkatkan ongkos distribusi dan memperlambat pengiriman.

Perkembangan ini menjadi risiko baru bagi inflasi pangan global. Persediaan gandum di sejumlah negara memang masih cukup untuk menahan tekanan dalam jangka pendek. Namun selama aktivitas pelabuhan di Laut Hitam belum pulih, pasar akan terus menghadapi ketidakpastian pasokan.

Kondisi tersebut membuka peluang harga gandum tetap bertahan di level tinggi dalam beberapa waktu ke depan dan meningkatkan biaya impor pangan bagi banyak negara, termasuk negara-negara yang bergantung pada gandum sebagai bahan baku utama industri makanan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |