Bukti Baru China Jajah dunia, Bangun Kerajaan Bisnis dari Afrika-Eropa

53 minutes ago 6

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

20 August 2026 17:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspansi industri China kini tak lagi berhenti di dalam negeri. Dari Arab Saudi, Hungaria, Brasil hingga Indonesia, perusahaan-perusahaan China berlomba membangun pabrik, kawasan industri, pelabuhan hingga bandara, memperluas rantai pasokan mereka ke berbagai penjuru dunia.

Gelombang ekspansi ini bukan sekadar investasi, tetapi mulai mengubah peta perdagangan dan rantai pasok global.

Ain Sokhna, Egypt menjadi salah satu contoh pesatnya ekspansi industri China ke luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, masuknya perusahaan manufaktur dan investasi China telah mengubah kawasan pelabuhan di Mesir tersebut menjadi salah satu pusat industri yang berkembang pesat.

Kehadiran China yang semakin kokoh di Mesir adalah bukti jika Negara Tirai Bambu makin mencengkeram benua Afrika.

Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan China telah menggelontorkan lebih dari US$200 miliar atau sekitar Rp3.555,2 triliun (US$1 = Rp17.776) untuk membangun pabrik di luar negeri. Ekspansi tersebut turut mengubah rantai pasok mereka dalam tiga hal.

Pertama, jaringan produksi semakin tersebar, dengan pusat-pusat produksi di berbagai kawasan dunia. Kedua, rantai pasok semakin terintegrasi, seiring banyak pemasok China ikut membuka fasilitas di sekitar lokasi produksi baru perusahaan manufaktur China. Ketiga, ekspansi tersebut semakin berfokus pada industri strategis, mulai dari kendaraan listrik (EV), energi bersih, hingga peralatan pusat data (data center).

Investasi langsung perusahaan China untuk pembangunan fasilitas manufaktur baru (greenfield) di luar negeri periode 2010–2025, dalam US$ miliar.Investasi langsung perusahaan China untuk pembangunan fasilitas manufaktur baru (greenfield) di luar negeri periode 2010–2025, dalam US$ miliar. Foto: Rhodium Group

Beberapa faktor mendorong perusahaan China mencari pasar baru di berbagai negara, mulai dari lemahnya konsumsi domestik hingga ketatnya persaingan di dalam negeri.

Tarif yang diberlakukan Donald Trump pada periode keduanya juga mendorong perusahaan China memperluas produksi ke negara-negara yang dikenakan tarif lebih rendah dibandingkan basis produksi tradisional mereka, seperti Vietnam.

Sejumlah negara di Global South juga menawarkan insentif untuk menarik investasi. Mesir, misalnya, memberikan "golden licence" yang memangkas birokrasi investasi. Perusahaan China memanfaatkan Mesir sebagai pasar bagi 120 juta penduduk sekaligus basis ekspor.

Peta sebaran investasi China di kawasan industri luar negeri per Juli 2026, mencakup proyek yang telah beroperasi dan masih dalam tahap pembangunan.Peta sebaran investasi China di kawasan industri luar negeri per Juli 2026, mencakup proyek yang telah beroperasi dan masih dalam tahap pembangunan. Foto: Council on Foreign Relations

Dampaknya, basis produksi perusahaan China semakin tersebar secara global. JA Solar, JinkoSolar, dan TrinaSolar yang sebelumnya memproduksi panel surya di Asia Tenggara, kini membangun pabrik di kawasan Teluk.

Pusat produksi baru ini juga mulai masuk ke rantai pasok global, seperti Nordex, perusahaan Jerman yang membeli bilah turbin dari pemasok China di Maroko yang merupakan bagian dari kawasan Afrika.

Eropa juga menjadi tujuan investasi China. Foreign Direct Investment (FDI) perusahaan China di kawasan ini melonjak 50% pada 2025 menjadi rekor US$10,1 miliar atau sekitar Rp179,5 triliun, menurut Rhodium Group dan MERICS. Di Serbia, Linglong Tire memperluas kapasitas pabriknya di Zrenjanin, yang memasok produsen otomotif seperti Volkswagen dan Ford.

Secara paralel, rantai pasok China di luar negeri semakin terintegrasi hingga ke sektor hulu. Gotion, produsen baterai China, tengah membangun gigafactory sekitar 70 km dari Rabat, Maroko.

Pemasoknya juga ikut berekspansi, termasuk BTR, produsen anoda dan katoda, serta Hailiang Group, produsen foil tembaga, yang membangun pabrik di sekitar kawasan tersebut. Pola serupa terjadi di Kairo, ketika produsen peralatan rumah tangga China mendorong pemasoknya membuka pabrik lokal.

Meski demikian, sejumlah mesin, komponen, dan bahan baku masih didatangkan dari China. Pada semester I-2026, ekspor barang modal China naik 14% secara tahunan (yoy), sementara ekspor barang antara meningkat 27%. Ke depan, semakin banyak kebutuhan produksi berpotensi dipasok dari lokasi yang lebih dekat dengan pabrik.

Perusahaan logistik China turut menopang ekspansi ini dengan mengoperasikan atau memiliki saham di sedikitnya 132 pelabuhan di luar negeri, serta jaringan kereta dan bandara, termasuk jalur Budapest-Belgrade yang rampung pada 2026.

Investasi perusahaan China di luar negeri semakin berfokus pada industri strategis. Global South menjadi pasar utama teknologi energi bersih China, termasuk proyek tenaga surya di Mesir. Sementara itu, produksi EV China semakin tersebar di pusat-pusat regional, dari Rio de Janeiro hingga London, untuk mendekati konsumen.

Infrastruktur AI juga menjadi fokus investasi. Thailand berkembang menjadi basis produksi komponen optik untuk pusat data AI, termasuk produk Zhongji InnoLight yang digunakan perusahaan teknologi besar AS.

Penyebaran Jaringan Produksi

Perusahaan China semakin memperluas investasi di luar negeri ketika banyak perusahaan Barat memusatkan pembangunan pabrik di AS. Namun, ekspansi ini menghadapi tantangan, terutama kebijakan tarif AS yang berubah-ubah, yang membuat sejumlah proyek dibatalkan atau dikurangi. Pada 13 Agustus, Gedung Putih juga menyerukan pembatasan lebih luas terhadap impor yang terkait dengan China.

Hambatan juga datang dari berbagai arah. Brasil dan Turki menerapkan aturan kandungan lokal, sementara fluktuasi mata uang dan tingginya biaya pinjaman menambah tantangan di negara berkembang. Dari dalam China, aturan baru investasi luar negeri turut membatasi transfer teknologi dan data serta memperketat tinjauan keamanan nasional.

Sejauh ini, porsi China dalam manufaktur global belum menunjukkan penurunan. Namun, meningkatnya investasi perusahaan China di luar negeri berpotensi menggeser sebagian produksi ke negara lain. Meski demikian, dunia diperkirakan tetap bergantung pada produk China, di mana pun barang tersebut diproduksi.

(Salma Laiqa/slm)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |