Ketika Ketua PSAP Sigli Pulang dari Manila dan Menemukan Pidie Terendam

11 hours ago 2

Laporan: Muhammad Riza | Waspada.id
Sigli – Aceh

Angin lembab dari arah laut masih membawa aroma lumpur ketika sebuah mobil berguncang perlahan memasuki jalan berkerikil menuju Gampong Asang Kumbang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

IKLAN

Sore itu matahari belum kuat menembus awan, tetapi halaman meunasah sudah penuh warga yang menjadikannya tempat tidur darurat. Di antara kerumunan, terdengar bisik-bisik lirih.
“Itu Amat Tong… Ketua Umum PSAP Sigli sudah datang.”

Baru beberapa jam mendarat dari Manila, M. Yusri Syamaun, Direktur PT Amat Tong Diesel Geumpang sekaligus Ketua Umum PSAP Sigli tidak pulang ke rumah, tidak menuju kantor. Langkah pertama justru ia arahkan ke tempat di mana ratusan warga masih bertahan dalam sisa genangan banjir yang belum sepenuhnya surut.

Di halaman meunasah, tikar-tikar masih digelar seadanya. Balita menangis meminta susu. Para ibu berusaha menenangkan, meski wajah mereka sendiri menyimpan letih tak terucap. Di sudut lain, beberapa pria mencoba menyalakan kompor dengan kayu yang seluruhnya basah.

“Air naik cepat malam itu,” ujar Ridwan, Keuchik Jurong Bale, sambil menunjukkan rumah warga.

Total 130 KK, termasuk 77 balita, masih bertahan di lokasi pengungsian. Makan seadanya, mandi dengan air keruh, tidur sambil mendengar suara hujan yang selalu memunculkan rasa takut. Bagi mereka, malam bukan lagi waktu istirahat melainkan waktu menunggu apakah air akan kembali naik.

Amat Tong Datang dengan Tangan Penuh

Ketika Amat Tong turun dari mobil, warga menghampiri. Bukan untuk meminta lebih banyak bantuan, tetapi untuk bercerita—tentang perabot yang hanyut, hewan ternak yang mati, anak-anak yang trauma, dan malam-malam yang terasa panjang karena kecemasan.

Di bak mobil itu, bantuan telah disusun, 150 kg beras, 40 bungkus mi instan, 50 kotak air mineral, 20 kg minyak goreng. Semua untuk dibagikan ke dua gampong: Jurong Bale dan Aron Asan Kumbang.

Tidak ada sambutan formal. Tidak ada protokol. Hanya gerakan tangan yang menunjukkan kesigapan, mengangkat kardus, menyusun paket, dan memastikan setiap keluarga menerima. Anggota Forkopimcam, Polsek, dan Koramil turut membantu memindahkan logistik ke tangan warga.

PSAP Itu Rumah Kita Semua

Setelah pembagian selesai, Amat Tong duduk di antara warga. Anak-anak menatapnya dari balik kaki ibu mereka—sebagian malu, sebagian senang melihat sosok yang biasanya mereka lihat hanya di stadion.

“PSAP itu rumah kita semua,” ucapnya pelan. “Kalau rumah kita sedang susah, kita tak boleh tinggal diam.”

Kata-kata itu membuat beberapa warga menunduk. Bukan karena sedih, tetapi karena merasa dihargai. Pada masa-masa sulit, kehadiran seseorang yang datang bukan karena agenda, melainkan karena peduli, adalah penguat tersendiri.

Di sela suara burung yang kembali turun ke ranting pascabanjir, cerita-cerita kecil mengalir. Seorang ibu memasak untuk balita lain meski anaknya sendiri demam. Seorang remaja mengevakuasi lansia menggunakan rakit dari pintu lemari. Seorang kakek menjaga mushala agar jamaah tetap punya tempat sujud meski lantainya masih berlumpur.

Kisah-kisah itulah yang menyambut Amat Tong kisah yang tak pernah masuk laporan resmi, tetapi hidup di antara deru air dan kecemasan yang belum hilang.

Menutup Hari dengan Harapan

Menjelang sore, ketika bantuan selesai dibagikan dan warga mulai kembali menata ruang darurat mereka, Amat Tong berdiri dan menyampaikan pesannya.

“Cuaca masih sulit ditebak. Dengarkan informasi BMKG. Jaga anak-anak, jaga keselamatan. Kita bangkit sama-sama.” pesan Amat Tong.

Saat ia melangkah meninggalkan lokasi, beberapa anak kecil berlari mengejar sambil melambaikan tangan. Di belakang mereka, genangan air mulai surut perlahan—seakan memberi ruang bagi harapan baru.

Di hari itu, banjir memang belum sepenuhnya pergi.Tapi satu hal terasa pasti bagi warga Kembang Tanjong:
Mereka tidak sendirian.

MUHAMMAD RIZA / Waspada.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |