Oleh: Dr. M. Irsan Nasution
Di negeri yang semakin akrab dengan kata “cuan”, mimpi kini bergerak lebih cepat daripada akal sehat. Ia tidak lagi datang melalui kerja panjang atau proses bertahap, tetapi melalui layar ponsel, notifikasi grup, dan pesan yang menjanjikan satu hal paling menggoda: keuntungan cepat.
Setiap hari, ribuan orang masuk ke grup trading digital dengan harapan sederhana-belajar dan memperbaiki keadaan ekonomi. Mereka datang dengan rasa penasaran, dan pergi dengan dua kemungkinan: merasa beruntung, atau merasa terlambat menyadari sesuatu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah orang ingin kaya cepat. Pertanyaannya adalah: mengapa kita begitu mudah percaya bahwa kekayaan bisa dibagikan dalam bentuk sinyal di grup percakapan?
Dari Belajar Menjadi Mengikuti
Fenomena ini selalu dimulai dengan cara yang terlihat sehat. Edukasi gratis. Mentor berpengalaman. Komunitas yang saling mendukung.
Tetapi perlahan, proses berpikir digantikan oleh instruksi. Diskusi digantikan oleh perintah. Anggota tidak lagi belajar membaca pasar, melainkan belajar mengikuti aba-aba. Ironisnya, semakin sedikit ruang untuk bertanya, semakin tinggi rasa percaya yang tumbuh.
Di era digital, kepercayaan tidak dibangun lewat transparansi, tetapi lewat repetisi. Semakin sering sesuatu diulang, semakin ia terdengar seperti kebenaran.
Kerumunan yang Memberi Rasa Aman Palsu
Manusia selalu mencari kerumunan. Dalam kerumunan, keputusan terasa lebih ringan. Jika banyak orang melakukan hal yang sama, risiko terasa mengecil, setidaknya secara psikologis.
Di sinilah kekuatan grup bekerja. Testimoni bermunculan, komentar positif bertebaran, suasana optimis terasa menular. Orang tidak ingin menjadi satu-satunya yang ragu ketika semua tampak yakin. Padahal sejarah ekonomi mengajarkan hal sederhana: gelembung selalu terlihat aman sampai detik sebelum pecah.
Angka di Layar yang Terasa Nyata
Teknologi memungkinkan satu hal yang dulu sulit dibayangkan: menciptakan realitas finansial yang terasa nyata tanpa harus benar-benar nyata. Grafik bergerak. Saldo bertambah. Profit tampak jelas.
Namun di dunia digital, apa yang terlihat belum tentu apa yang terjadi. Pasar yang sebenarnya selalu terbuka dan bisa diverifikasi. Ketika sistem hanya bisa dipercaya dari cerita di dalam lingkaran yang sama, alarm seharusnya sudah berbunyi.
Masalahnya, manusia cenderung percaya pada apa yang ingin ia percaya.
Generasi yang Tidak Lagi Sabar
Kita hidup di masa ketika kesuksesan dipamerkan dalam bentuk potongan video 15 detik. Proses panjang tidak laku. Kesabaran kehilangan daya tarik.
Dalam konteks itu, trading menjadi simbol zaman: cepat, penuh adrenalin, dan terlihat glamor. Tidak heran banyak orang lebih tertarik pada cerita tentang keuntungan semalam daripada kisah kerja bertahun-tahun.
Namun pasar finansial tidak pernah berubah mengikuti tren sosial. Ia tetap dingin, rasional, dan tidak peduli pada harapan siapa pun.
Ketika budaya instan bertemu dengan ketidakpastian pasar, yang lahir sering kali bukan investor baru, melainkan korban optimisme.
Siapa yang Sebenarnya Sedang Diperdagangkan?
Pertanyaan paling tidak nyaman adalah ini: mungkin yang benar-benar menjadi komoditas bukanlah koin atau aset digital. Mungkin yang diperdagangkan adalah harapan manusia itu sendiri.
Harapan untuk hidup lebih baik. Harapan untuk mengejar ketertinggalan. Harapan untuk membuktikan bahwa keberhasilan tidak harus menunggu lama.
Ketika harapan menjadi produk, maka rasa percaya menjadi modal utama. Dan ketika rasa percaya menjadi mata uang, kritik sering dianggap musuh.
Literasi yang Seharusnya Mengganggu Kenyamanan
Kita sering berbicara tentang literasi keuangan seolah cukup dengan memahami istilah teknis. Padahal literasi sejati justru terasa tidak nyaman.
Ia membuat seseorang bertanya di saat orang lain bersorak.
Ia membuat seseorang mundur ketika semua orang masuk.
Ia menuntut keberanian untuk terlihat “tidak ikut arus”. Dan dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat justru menjadi tindakan paling radikal.
Penutup: Mimpi yang Terlalu Mudah
Tidak semua orang akan kehilangan uang. Tidak semua grup trading lahir dari niat buruk. Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal: ketika mimpi dijual terlalu mudah, hampir selalu ada seseorang yang diam-diam membayar harganya.
Di era digital, ancaman terbesar bukan lagi teknologi, bukan pula pasar yang naik dan turun. Ancaman terbesar adalah ketika kita berhenti bertanya: ketika keyakinan kolektif menggantikan nalar, dan janji keuntungan terasa lebih masuk akal daripada proses yang panjang.
Kita sering lupa bahwa pasar tidak pernah memberikan hadiah cuma-cuma. Di balik setiap euforia, selalu ada risiko yang sengaja dipelankan suaranya. Di balik setiap cerita sukses, ada banyak cerita yang tak pernah diceritakan.
Warren Buffett pernah mengatakan:
“Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat investasi, tetapi peringatan psikologis. Ketika semua orang tampak yakin, ketika keraguan dianggap kelemahan, justru di situlah kita wajib berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam.
Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah berapa banyak yang bisa kita hasilkan, melainkan: apakah kita benar-benar memahami permainan yang sedang kita masuki, atau justru tanpa sadar sedang menjadi bagian dari yang diperdagangkan? WASPADA.id
Tentang Penulis
Dr. M. Irsan Nasution, SE., Ak., CA., M.Ak., CIPSAS., ACPA, QRMO. adalah akademisi dan pengamat isu sosial serta investasi. Ia aktif meneliti literasi keuangan, tata kelola, dan risiko di sektor keuangan digital serta tekun menulis opini edukatif mengenai perlindungan investor.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































