Ketika Banjir Tak Lagi Musuh: Pelajaran Dari Petani Aceh Tamiang Dalam Program Mahasiswa Berdampak Kemdiktisaintek

4 hours ago 2

MEDAN (Waspada.id): Setiap kali intensitas hujan turun deras selama beberapa hari, warga di Kampung Mekar Jaya, Aceh Tamiang, tidak lagi bertanya apakah banjir akan datang. Mereka hanya menunggu kapan air mulai naik, dan mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi.

Demikian diungkapkan Sofyan Efendi, Datok Penghulu Desa Mekar Jaya, Aceh Tamiang.

Katanya, banjir di wilayah ini bukan kejadian luar biasa. Ia telah menjadi rutinitas yang menggerus perlahan sendi-sendi kehidupan masyarakat, terutama petani. Dalam satu musim tanam, kerugian hasil panen bisa mencapai 40 hingga 60 persen. Lahan pertanian yang seharusnya menjadi sumber penghidupan justru berubah menjadi genangan air yang membuat frustrasi warga sekitar desa dan menambah rasa kecemasan masyarakat Aceh Tamiang.

Selama bertahun-tahun, respons terhadap kondisi ini cenderung sama: bertahan, menunggu, lalu mengulang siklus kerugian yang sama.

“Dalam banyak kasus, ‘pasrah’ menjadi pilihan yang dianggap paling realistis. Namun, apakah pasrah adalah satu-satunya jalan? Pengalaman dari Aceh Tamiang menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tidak,” katanya.

Di tengah keterbatasan dan tekanan akibat perubahan iklim, sekelompok petani mulai mencoba pendekatan yang tidak lazim: bertani di atas air atau merancang pertanian terapung.

Merespons kondisi ini, Dr. M. Surip, M.Si., dosen FBS Unimed selaku Ketua PKM Program Mahasiswa Berdampak dalam pemulihan bencana Sumatera, bersama dua tim dosen dan 50 orang mahasiswa Unimed meluncurkan program Flores-Farm.

Program yang digagas mahasiswa Unimed dalam Program Mahasiswa Berdampak untuk pemulihan bencana Sumatera ini berhasil membangun pertanian apung dengan platform sederhana yang mampu mengapung mengikuti permukaan air saat terjadi banjir.

Banjir yang terjadi berulang di Aceh Tamiang telah lama menjerat petani dalam lingkaran kerugian: gagal panen, penurunan pendapatan, hingga ketergantungan pada bantuan.

Dalam situasi ini, Dr. M. Surip mengatakan pendekatan konvensional tidak lagi memadai. Dibutuhkan strategi yang bukan hanya memulihkan, tetapi juga mentransformasi sistem pertanian. Program Mahasiswa Berdampak yang dilakukan oleh komunitas mahasiswa Unimed berhasil melaksanakan program Flores-Farm yang menawarkan arah baru sebagai solusi adaptif yang relevan untuk pemulihan ekonomi berbasis ketahanan pangan.

Setidaknya ada beberapa poin kunci yang menunjukkan ketepatan strategi program ini, di antaranya: (1) menggeser paradigma dari bertahan ke beradaptasi; alih-alih melawan banjir, program Flores-Farm mendorong petani untuk beradaptasi melalui kebun apung. (2) menekan risiko sebagai fondasi pemulihan; kerugian petani sebelumnya disebabkan risiko gagal panen akibat banjir, sementara dengan sistem terapung produksi tetap berjalan. (3) diversifikasi sebagai strategi anti-rugi; program ini mendorong penanaman berbagai komoditas seperti sorgum, sayuran adaptif, dan tanaman lainnya. (4) teknologi sebagai penguat, bukan pengganti; pemanfaatan IoT untuk memantau ketinggian air memberi petani akses pada informasi real-time. (5) pemberdayaan sebagai inti transformasi ekonomi; petani dilibatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima bantuan. (6) peningkatan nilai tambah produk; program ini mendorong pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. (7) keterlibatan pemuda sebagai motor inovasi; generasi muda dilibatkan dalam pengelolaan teknologi dan produksi.

Sekilas, ide ini mungkin terdengar seperti eksperimen biasa. Namun, bagi masyarakat Kampung Mekar Jaya, ini adalah bentuk adaptasi yang lahir dari kebutuhan dan kondisi pertanian yang masih memprihatinkan akibat banjir besar pada November 2025 lalu.

Alih-alih terus melawan banjir dengan cara yang sama, para petani bersama tim mahasiswa berdampak Unimed memilih mengubah pendekatan: bukan lagi menghindari air, melainkan hidup berdampingan dengannya dalam merancang pertanian tahan banjir.

Konsep ini bukan tanpa dasar. Menurut Food and Agriculture Organization, dalam Floating Garden Agricultural Practices in Bangladesh (2020), praktik pertanian terapung telah lama digunakan sebagai strategi adaptasi terhadap banjir musiman. Sistem ini memungkinkan produksi pangan tetap berlangsung meskipun lahan tidak dapat digunakan secara konvensional.

Yang menarik dari Flores-Farm adalah bagaimana konsep tersebut diadaptasi ke dalam konteks lokal Indonesia, terutama Provinsi Sumatera Utara, dengan pendekatan integratif yang menggabungkan teknologi, pemberdayaan, dan kearifan lokal.

Dalam praktiknya, kebun apung dibangun menggunakan bahan sederhana: rangka ringan dan pelampung dari drum plastik. Di atasnya, tanaman ditanam dalam wadah polybag dan dilindungi oleh struktur sederhana yang menjaga stabilitas lingkungan tumbuh.

Hasilnya tidak spektakuler secara instan, tetapi signifikan dalam jangka pendek. Produksi meningkat, kehilangan hasil panen berkurang, dan yang terpenting petani memiliki alternatif.

Dalam konteks ketahanan pangan, memiliki alternatif adalah langkah krusial. Menurut Food and Agriculture Organization dalam Diversification for Food Security (2021), ketergantungan pada satu sistem produksi yang rentan akan memperbesar risiko saat terjadi gangguan.

Namun, Flores-Farm tidak berhenti pada aspek teknis. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah penggunaan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau ketinggian air secara real-time.

Bagi masyarakat Kampung Mekar Jaya, ini merupakan lompatan besar. Selama ini, keputusan diambil berdasarkan pengalaman dan intuisi. Kini, mereka memiliki data.

Sejumlah kajian, seperti Choosumrong S. dalam IoT-based Flood Monitoring System, Sensors (2025), menunjukkan bahwa penggunaan IoT dalam pertanian dapat meningkatkan efisiensi dan memperkuat sistem peringatan dini terhadap risiko lingkungan.

Namun demikian, teknologi hanyalah alat. Ia tidak akan berarti tanpa kemampuan manusia untuk menggunakannya. Di sinilah letak kekuatan utama Flores-Farm, yakni pemberdayaan masyarakat.

Program ini tidak menempatkan masyarakat sebagai penerima pasif, tetapi sebagai pelaku utama. Mereka terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Kelompok tani mengelola produksi, sementara pemuda desa berperan dalam pengoperasian teknologi.

Pendekatan ini menciptakan rasa memiliki yang kuat, yang pada akhirnya menentukan keberlanjutan program.

Berbagai studi, termasuk oleh Muis I, et al (2026), menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi berbasis komunitas sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat.

Di Aceh Tamiang, keterlibatan ini mulai membuahkan hasil. Masyarakat tidak lagi hanya menunggu bantuan, tetapi mulai mencari solusi. Perubahan tidak hanya terlihat pada angka produksi, tetapi juga pada cara pandang.

Dalam konteks perubahan iklim, kapasitas adaptif menjadi kunci. Tanpa itu, setiap intervensi hanya akan bersifat sementara.

Meski demikian, Flores-Farm bukan tanpa tantangan. Adopsi teknologi membutuhkan waktu, tidak semua masyarakat memiliki literasi digital memadai. Selain itu, hasil pertanian tidak dapat diperoleh secara instan, sementara kebutuhan ekonomi bersifat harian.

Di sisi lain, aspek pemasaran juga belum sepenuhnya berkembang. Produk masih banyak dijual dalam bentuk segar dengan nilai tambah terbatas.

Dalam melihat program ini, yang penting bukan hanya hasil akhir, tetapi arah perubahan—menuju kemandirian.

Pengalaman dari Aceh Tamiang memberikan pelajaran penting: pendekatan konvensional tidak lagi cukup, teknologi harus disertai pemberdayaan, dan masyarakat memiliki kapasitas untuk beradaptasi jika diberi ruang.

Program Flores-Farm merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak untuk daerah terdampak banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Bencana tersebut berdampak pada lebih dari 262.000 jiwa, menyebabkan 57 orang meninggal dunia, serta merusak ratusan hektare lahan pertanian.

Program ini menargetkan dua kelompok mitra di Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau, yakni kelompok tani produktif dan kelompok pemuda.

Solusi utama yang diterapkan adalah Flores-Farm (Floating Resilience Farm), yaitu sistem pertanian terapung berbasis teknologi IoT yang mengintegrasikan platform terapung modular, greenhouse ringan, budidaya tanaman adaptif banjir, serta sensor peringatan dini.

Program ini juga mencakup pelatihan literasi mitigasi bencana, pengolahan pangan adaptif, dan pembentukan kelompok relawan early warning system.

Model ini dinilai memiliki potensi tinggi untuk direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa, karena mengintegrasikan inovasi teknologi, diversifikasi produksi, dan pemberdayaan masyarakat.

Program ini dirancang dengan pendekatan partisipatif berbasis Community Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) dan Participatory Learning and Action (PLA), melibatkan kolaborasi antara petani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, dan tim mahasiswa. (Wsp.id)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |