Jepang Gempa Lagi, Cincin Api Pasifik Kembali Mengirim Sinyal Bahaya

6 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

23 August 2026 21:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas kegempaan di kawasan Cincin Api Pasifik kembali menjadi sorotan setelah gempa mengguncang Jepang pada Minggu (23/8/2026). Peristiwa ini menambah daftar gempa kuat yang terjadi di sejumlah negara sepanjang 2026, termasuk Indonesia, Filipina, Peru, dan Kolombia.

Japan Meteorological Agency (JMA) mencatat gempa M5,9 mengguncang bagian selatan Prefektur Ibaraki sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Gempa berpusat pada kedalaman sekitar 70 kilometer dan dirasakan hingga Tokyo serta sejumlah prefektur di sekitarnya.

Sedikitnya 37 orang dilaporkan terluka, sebagian besar akibat terjatuh atau terbentur perabot. Gempa juga mengganggu perjalanan kereta dan menyebabkan pipa air pecah. Meski demikian, otoritas Jepang memastikan tidak ada ancaman tsunami.

USGS mencatat parameter sedikit berbeda, yakni M5,8 dengan kedalaman 61 kilometer. Perbedaan tersebut lazim terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan jaringan sensor dan metode analisis berbeda.

Peru dan Kolombia Lebih Dahulu Berguncang

Tiga hari sebelum gempa Jepang, tepatnya Kamis (20/8/2026), gempa kuat mengguncang Ayacucho, Peru. USGS mencatat gempa M6,7 dengan kedalaman 99 kilometer. Adapun Institut Geofisika Peru mencatat M7,2 pada kedalaman 108 kilometer.

Gempa tersebut menyebabkan sedikitnya dua orang terluka serta merusak 22 rumah, enam fasilitas kesehatan, dan satu sekolah. Angkatan Laut Peru memastikan tidak ada ancaman tsunami.

Dengan demikian, gempa besar yang terjadi tiga hari sebelum gempa Jepang berada di Peru, bukan Kolombia. Kolombia lebih dahulu diguncang gempa M7,4 pada 10 Agustus 2026.

Gempa Kolombia berpusat di San José del Palmar, Chocó, dengan kedalaman 103 kilometer menurut badan geologi setempat dan 110,3 kilometer menurut USGS. Otoritas juga mencatat sedikitnya 18 gempa susulan setelah kejadian utama.

Daftar Gempa Besar Sepanjang 2026

Berikut daftar gempa sekitar M6,5 atau lebih yang terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik sejak awal 2026. Gempa Jepang terbaru tetap dimasukkan meskipun kekuatannya berada di bawah M6,5.

Khusus gempa Papua Nugini, parameter awal Pacific Tsunami Warning Center mencatat M6,5 dengan kedalaman 47,8 kilometer. USGS kemudian memperbaruinya menjadi M6,4 dengan kedalaman 10 kilometer.

Apakah Semua Gempa Saling Berkaitan?

Cincin Api Pasifik merupakan sabuk pertemuan berbagai lempeng tektonik. USGS menyebut sekitar 81% gempa terbesar dunia terjadi di kawasan tersebut, terutama akibat proses subduksi ketika satu lempeng bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya.

Meski berada dalam kawasan tektonik yang sama, rentetan gempa di Jepang, Peru, dan Kolombia tidak otomatis saling berkaitan. Cincin Api bukan satu patahan tunggal, tetapi terdiri atas banyak zona subduksi dan sistem patahan dengan karakteristik berbeda.

Gempa besar dapat memicu gempa susulan di sekitar sumbernya. Dalam kondisi tertentu, gelombang seismik juga dapat memicu aktivitas kecil di lokasi jauh yang sudah rentan. Namun, belum ada bukti bahwa gempa besar secara rutin memicu gempa besar lain pada jarak ribuan kilometer.

Karena itu, rangkaian tersebut bukan pertanda pasti bahwa gempa lebih besar akan segera terjadi. "Sinyal bahaya" sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk memperkuat bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan kesiapsiagaan masyarakat-terutama di negara rawan gempa seperti Indonesia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/wur)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |